Para relawan Ahok yang menolak ‘move on’

JAKARTA, Indonesia - Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama memang sudah tidak lagi menjadi Gubernur DKI. Bahkan, ia kini tengah dibui karena dianggap menyebar pernyataan yang memicu kebencian publik.

Ia harus menerima kenyataan meringkuk di balik jeruji rutan Mako Brimob selama dua tahun. Mantan Bupati Belitung Timur itu sempat akan mengajukan gugatan banding, walau kemudian ia urungkan. Ketika itu, para pendukung dan relawan tak henti menangis dan tak percaya Ahok harus dibui karena pernyataan yang diungkapkannya di Kepulauan Seribu.

Apalagi keputusan itu diambil Majelis Hakim usai Ahok dan Djarot dikalahkan dalam Pilkada lalu. Kini, sudah lima bulan Ahok berada di balik jeruji. Tetapi, para pendukungnya menolak untuk ‘move on’.

Itulah yang terungkap dalam acara obrolan santai bertema ‘Ahok, The Untold Story’ pada Senin malam, 9 Oktober di area Jakarta Selatan.

“Kami kumpulan yang sengaja memilih untuk tidak move on. Tapi, tidak dalam artian ingin pemerintahan Anies-Sandi gagal. Tidak move on karena Pak Ahok masuk penjara karena dia baik. Kalau untuk itu, dia masuk penjara, maka itu pilihan yang dia ambil dan membawanya hingga ke surga nanti,” ujar salah satu relawan Ade Armando.

Bahkan, untuk mengenang ditahannya Ahok pada 9 Mei, maka dilakukan pertemuan rutin setiap bulan juga di tanggal 9. Salah satu anggota kuasa hukum Ahok, I Wayan Sudirta mengatakan jika kebaikan yang dimiliki Ahok harus diperingati.

“Saya tanya sama teman-teman, apa tidak cukup penting kita memperingati nilai kebaikan yang dimiliki Ahok? Apa enggak prihatin melihat ketidakadilan?” tanya Wayan.

Sudirta kemudian menjelaskan ada empat kualitas yang dimiliki Ahok yakni kejujuran, kecerdasan, keberanian dan melayani.

“Ahok berani menganak-tirikan kepentingan keluarganya, demi kepentingan publik,” tutur dia.

Keberanian Ahok, kata Sudirta, tak usah dipertanyakan. Ia mengaku pernah masuk ke dalam Daftar Pencarian Orang di rezim pemerintahan Soeharto selama 13 bulan. Tetapi, hal itu bukan apa-apa dibandingkan apa yang dilalui Ahok.

“Kok ada orang yang diperlakukan tidak adil, mengajukan banding, lalu bandingnya dicabut? Kalau bukan orang berani mana bisa begitu. Berani apa? Berani mengorbankan dirinya sendiri demi kepentingan umum,” tutur dia.

Kisah lain disampaikan relawan lainnya bernama Neneng Herbawati. Ia mengaku pernah memberikan nasihat kepada Ahok saat Pilkada DKI masih bergulir. Neneng berpesan agar Ahok memberikan pernyataan yang normatif saja ketika berhadapan dengan media.

Tetapi, saran itu justru ditolak mentah-mentah oleh Ahok.

“Kasihan dong, mereka (media) sudah nunggu dari pagi. Masa saya jawabnya ‘normatif’. Bapak malah ngomong gitu. Padahal, waktu itu kami pantau sebagian besar berita mengenai bapak banyak yang negatif,” kata dia menirukan kalimat Ahok. 

Sementara, kader Partai Nasdem Muanas Al Aidid yang dulu sempat berseberangan dengan Ahok mengaku ada kejanggalan dalam kasus penistaan agama yang dihadapi Ahok. Ia mengatakan, tersangka umumnya akan diberi peringatan dan kesempatan untuk melakukan pembelaan.

“Dulu, Lia Eden dikasih peringatan. Nabi palsu yang di Bogor juga begitu, dikasih (kesempatan membela diri). Tapi, kenapa giliran Pak Ahok enggak (dikasih kesempatan),” kata Muanas di acara serupa.

Akibat kejanggalan itu, justru sangat merugikan Ahok. Karena melihat ketidakadilan itu, Muanas akhirnya memilih untuk mendukung Ahok.

Lelucon Ahok

Di tempat yang sama, anggota Project Pop Yossy Mokalu berbagi kisah ketika bertemu dengan Ahok di rutan. Kendati, sudah berbulan-bulan dipenjara, menurut Yossy, rasa humoris masih tetap melekat dalam diri Ahok.

“Bapak waktu itu cerita ke saya, ‘Yos, yang jadi masalah saya di sini itu cuma waktu. Kalau waktu saya (masih) kerja (jadi gubernur), kerjaan belum selesai, sehari sudah berlalu. Giliran di sini waktu berasa lama banget. Saya ngebayangin itu gimana yang nungguin jadi Gubernur’. Beliau tertawa cukup lepas waktu itu,” katanya. - Rappler.com