'Beauty and the Beast' versi live action: Tentang nostalgia, romansa dan Emma

JAKARTA, Indonesia - Generasi 90-an (seperti saya) mungkin adalah generasi yang cukup beruntung karena berkesempatan menyaksikan dua versi kisah Beauty and the Beast garapan Disney yang melegenda itu. 

Saya tidak ingat kapan persisnya saya menonton film animasi Beauty and the Beast yang rilis tahun 1991. Yang jelas, saat itu saya masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Saat itu, saya merasa seperti dibuai kisah Belle. Seperti anak perempuan lain seumuran saya kala itu, menjadi Putri Disney adalah cita-cita.

Surprisingly, rasa yang sama menghampiri saya saat diberi kesempatan menyaksikan film remake live action Beauty and the Beast atas undangan Disney Indonesia, Rabu, 15 Maret di Lippo Mall Puri.

Bayangkan, dua puluhan tahun setelahnya, saya duduk di bioskop dan menyaksikan kisah Belle dan Si Buruk Rupa dengan perasaan yang sama. "Dreamy dan princessy," seperti kata seorang penonton lain yang saya curi dengar.

Tapi tetap, menurut saya, yang sudah menyaksikan dua versi film ini, versi animasinya lebih baik dari live action yang terbaru ini.

Nostalgia

Bagi saya, kisah Beauty and the Beast adalah kisah nostalgia. Karena saya dan mungkin generasi saya, besar dengan kisah ini selain kisah-kisah Disney klasik lainnya.

Itu pula yang nampaknya ingin disuguhkan oleh Bill Condon, sang sutradara. Condon memutuskan untuk tidak terlalu mengada-ada dan tetap berada di jalur klasik. Hampir tidak ada perbedaan plot cerita dari versi 1991 dan versi live action.

Secara alur, semua nyaris sama. Kisah dibuka dengan latar belakang cerita mengapa Sang Pangeran Tampan berubah jadi Si Buruk Rupa (Dan Stevens). Semua dilakukan seorang penyihir karena ingin memberi pelajaran padanya karena Sang Pangeran terlalu picik dan hanya melihat orang lain dari penampilannya.

Kutukan sang penyihir hanya akan hilang jika sebelum semua kelopak mawar merah gugur, ia menemukan seseorang yang dicintai dan mencintainya. Pangeran dan seluruh isi istana pun berubah wujud. Ia jadi Si Buruk Rupa dan yang lain berubah menjadi peralatan rumah tangga.

Foto dari Disney Indonesia.

Foto dari Disney Indonesia.

Ada Cogsworth (Ian McKellen) yang berubah jadi jam, Lumière (Ewan McGregor) jadi tempat lilin, Mrs. Potts (Emma Thompson) yang jadi teko ditemani anaknya Chip (Nathan Mack) yang jadi cangkir, Plumette (Gugu Mbatha-Raw) jadi kemoceng dan Madame de Garderobe (Audra McDonald) jadi lemari baju.

Yang berbeda adalah karakter Maestro Cadenza (Stanley Tucci) yang dikisahkan sebagai suami dari Madame de Garderobe.

Adegan saat Beast dan Belle ber-teleport ke kota Paris dan menemukan ceirta dibalik kematian ibu Belle juga tidak ada di versi animasi asli. Diceritakan, Beast memiliki peta ajaib yang bisa membawa seseorang ke mana saja. Belle pun memutuskan untuk mengunjungi apartemen tempatnya dilahirkan. Saat itulah ia menyadari penyebab kematian ibunya karena wabah penyakit saat itu.

Banyaknya kesamaan yang ditampilkan di versi live action membuat unsur nostalgia di film ini sangat kental. Tapi mungkin karena terlalu sama, terkesan sedikit membosankan.

Teknik penggunaan Computer Generated Imagery (CGI) terlalu banyak digunakan untuk versi live action. Dan penggunaannya terkesan datar dan kaku, terutama untuk ekspresi The Beast. Kurang hidup. Baik dari tatapan matanya dan gerak-geriknya.

Foto dari Disney Indonesia.

Foto dari Disney Indonesia.

Mungkin satu-satunya part terbaik yang disuguhkan Dan Stevens sebagai Beast adalah saat ia bernyanyi lagu Evermore dengan sepenuh hati karena harus melepaskan Belle pergi dari istananya. Selain itu, semua terasa biasa saja.

Foto screenshot dari YouTube/Disney Movie Trailers.

Foto screenshot dari YouTube/Disney Movie Trailers.

Romansa

Kisah romansa tentu menjadi poin penting di film Beauty and the Beast. Bagaimana seorang Belle bisa jatuh hati dengan tulus pada Beast yang awalnya justru ingin menghukumnya.

Salah satu adegan paling fenomenal adalah saat Belle dan Beast berdansa di grand ballroom. Belle dengan gaun kuning keemasannya dan Beast dengan seragam pangeran berwarna biru. Ditambah lantunan lagu Beauty and the Beast yang dinyanyikan Mrs. Potts yang membuat semua terasa magis.

Tapi entah karena Bill Condon yang sebelumnya menyutradarai film Twilight Saga: Breaking Dawn 1&2 (yang jelas-jelas menuai kritik pedas), kisah romansa Belle dan Beast terasa hambar. Tanpa emosi yang cukup kuat. Setiap Belle dan Beast bertatapan, koneksi dan chemistry itu tak terasa. Entah kenapa.

Bahkan ketika akhirnya Beast berubah wujud jadi Pangeran Tampan dan kembali bersatu dengan Belle, "klik" itu tetap tak terasa. Tapi secara visual, semua memang terlihat indah. Bagian yang paling membuat saya terkesima adalah saat Emma berdansa dengan gaun putih dengan aksen floral di bagian akhir. Flawless.

Yang berbeda dan jadi bahan pembicaraan adalah romansa gay yang terjadi antara karakter LeFou (Josh Gad) dan Gaston (Luke Evans). Sebenarnya tidak seintens yang dipikirkan banyak orang. Kebanyakan, momen gay itu ditampilkan dalam bentuk gesture oleh LeFou.

Di satu adegan di kedai minuman, di mana LeFou dan Gaston menyanyikan lagu Gaston, yang paling mencolok adalah ketika Gaston memeluk erat LeFou yang dikisahkan masih bingung dengan "perasaannya" terhadap Gaston. Meski setelahnya, Gaston langsung melepaskan pelukannya karena menganggap aksi mereka "too much".

Mungkin karena alasan ini, Lembaga Sensor Film (LSF) menetapkan ketentuan bahwa film ini hanya untuk konsumsi mereka yang berusia 13 tahun ke atas.

LeFou memang sangat memuji sosok Gaston, meski Gaston terus memburu Belle untuk dijadikan istri. Pada akhirnya, LeFou pun memilih untuk berpihak pada Belle setelah mengetahui niat jahat Gaston.

Emma

Ah, Emma...

Siapa yang tidak jatuh hati dengan sosok aktris berusia 26 tahun ini. Sejak tampil memerankan sosok Hermione Granger di film Harry Potter perdana tahun 2001,Emma sudah mencuri perhatian banyak orang, terutama saya.

Ditambah lagi, tak hanya fokus berkarier di dunia akting, sosok Emma Watson jadi teladan banyak perempuan di dunia karena ia giat menyuarakan isu-isu terkait perempuan dan sosial.

Foto dari Disney.

Foto dari Disney.

Menurut saya, Disney melakukan keputusan yang tepat dengan memilih Emma untuk memerankan Belle. Secara prinsip, kedua karakter ini memiliki banyak kesamaan. Keinginan untuk maju selangkah dari yang lain, kegemarannya membaca, kepeduliannya terhadap sesama dan kepintarannya. Nyaris serupa.

Karena alasan ini pula, Emma memutuskan untuk menerima tawaran memerankan Belle. Sebelumnya, ia pernah ditawari peran Cinderella di film live action Disney, namun ia menolaknya dan lebih memilih Belle.

"Sejak berusia 4 tahun, saya telah menjadi penggemar film Beauty and the Beast. Karakter Belle sangat melekat dalam pikiran saya. Ia adalah seorang perempuan yang mandiri, berambisi, berani mengungkapkan isi hatinya dan memiliki keinginan untuk berpetualang serta menjelajahi dunia," kata Emma dalam rilis Disney Indonesia.

Emma terlihat berusaha untuk mendalami karakternya dengan baik. Tapi entah kenapa, di film versi live action ini, aktingnya terlihat flat. Tak banyak emosi yang disuguhkan Emma. Prediksi saya, karena Emma terlalu banyak berhadapan dengan sosok CGI.

Penampilan Emma sendiri sangat cantik dan menawan. Mulai dari adegan aktivitasnya di desa, terkurung di istana, makan malam bersama dan adegan dansa dengan Si Buruk Rupa hingga adegan final saat Emma berdansa dengan Pangeran Tampan.

Bagaimanapun juga, Beauty and the Beast dikemas dengan indah. Tak hanya untuk alasan nostalgia, romansa dan penampilan Emma. Tapi kisah klasik ini layak disaksikan. Kisah yang mengajarkan bahwa kecantikan sesungguhnya bukan dari yang terlihat saja, tapi yang terpancar dari dalam diri.

"For beauty is found within..." -Rappler.com