Petualangan menemukan jati diri dan menghentikan kiamat di 'Thor: Ragnarok'

JAKARTA, Indonesia —Setelah pertama kali dikenal melalui film Thor (2011) dan kemudian Thor: The Dark World (2013), petualangan Dewa Petir kembali berlanjut. Kini Thor harus berhadapan dengan serangkaian permasalahan baru, mulai dari tempat, musuh, hingga luka baru.

Thor mendapatkan dirinya terjebak dalam masalah yang terus menerus bertumpuk, menjadikan film produksi Disney & Marvel Studios ini penuh konflik dan dipadati adegan bertarung.

Sejak film ini dimulai, sudah diketahui bahwa Asgard dikatakan akan menghadapi kehancurannya. Namun Thor, anak dari Raja Odin penguasa Asgard, mengerahkan segala kekuatannya untuk mencegah hal buruk itu terjadi.

Menghentikan takdir yang tak terelakkan

Sesuai dengan judul film ketiga dari series-nya, "Ragnarok" berarti "akhir zaman" dalam mitologi Nordik. Dalam kata lain, Ragnarok adalah kiamat yang hendak melanda Asgard dan Thor berusaha menghentikan kehancuran rumahnya tersebut.

Kehancuran yang dikatakan menjadi takdir Asgard tersebut datang ketika Hela menguasai takhta. Konflik pun bermunculan ketika Thor harus memilih antara menerima takdir tersebut atau justru melawannya.

Pencarian jati diri

Film yang disutradarai oleh Taika Waititi ini memperkenalkan planet baru yakni Planet Sakaar. Thor yang terdampar di planet antah-berantah ini berusaha kembali ke Asgard untuk menghentikan Ragnarok, tetapi kendala yang menghadapinya berlapis-lapis, terlebih lagi ia kehilangan palu andalannya.

Salah satu hal yang paling mengejutkan ketika menonton trailer Thor: Ragnarok adalah cuplikan adegan hancurnya Mjolnir. Palu ini sudah menjadi ciri khas Thor dan sumber kekuatannya selama ini. Hancurnya Mjolnir memaksa Dewa Petir tersebut untuk berpikir ulang mengenai jati dirinya, bahkan hingga adegan-adegan terakhir terlihat Thor yang masih putus asa tanpa palu tersebut.

Thor yang kehilangan Mjolnir terlihat seperti seseorang yang kehilangan kepercayaan dirinya, dalam film ini, ia terlihat tersesat dan putus asa seperti hilang arah. Inilah yang membuat Thor: Ragnarok berbeda dari film superhero lainnya, terdapat unsur emosional yang universal, permasalahan yang dirasakan hampir seluruh orang. Ada saat-saat di mana Thor terlihat seperti mortal, bukan seorang Dewa.

Teman baru, teman lama

Saat terdampar di Sakaar, Thor bertemu dengan Valkyrie, perempuan tangguh dan pemabuk yang ternyata memiliki masa lalu kelam. Aktris Tessa Thompson berhasil menghidupkan karakter Valkyrie menjadi it girl yang memiliki kompleksitas emosi serta berkontribusi terhadap beberapa adegan bertarung terbaik di film ini.

Tak hanya itu, film ini merupakan ajang reuni bagi Thor dan kawannya di The Avengers, The Incredible Hulk. Seperti yang terlihat dari trailer, salah satu adegan paling ditunggu adalah ketika Thor dan Hulk berhadapan di gladiator rink. Uniknya, di film ini, Hulk sudah dapat merangkai kata-kata dan terlihat lebih ‘sadar’ dan mengontrol emosi dibanding di film-film Avengers sebelumnya.

Dan terakhir tentunya pertemuan antara kakak-beradik yang paling dinanti. Loki sudah sepantasnya mendapat gelar sebagai penjahat yang sangat mudah disukai penonton. Penuh dengan sarkasme, kecerdikan, dan humoris, ia dan Thor selalu menjadi perpaduan yang unik. Love-hate relationship antar keduanya mencapai level yang baru dalam film ini, Loki selalu menjadi sumber masalah bagi Thor tetapi di lubuk hatinya, ia masih mencintai kakaknya itu.

Di Thor: Ragnarok, Thor dan Loki mulai menyadari dan menerima perbedaan keduanya. Cuplikan adegan film yang diunggah oleh akun resmi film ini memperlihatkan obrolan serius—meski singkat—yang dimiliki kakak-beradik ini mengenai masa depan hubungan mereka.

Penuh humor

Dibandingkan dengan film-film Thor sebelumnya, Thor: Ragnarok merupakan film sekuel yang penuh dengan humor. Mulai dari one-liner hingga kepolosan Thor yang terpampang dalam banyak adegan di film ini. Film yang diproduksi Kevin Feige ini bahkan terkesan mirip dengan Guardians of the Galaxy (2014), film Marvel yang juga menjadikan kejenakaan sebagai salah satu kekuatannya.

Sayangnya, beberapa lawakan yang keluar dari mulut Thor justru mengingatkan saat Chris Hemsworth berperan sebagai Kevin di Ghostbusters (2016). Dalam film remake tersebut, Chris memerankan seorang karakter yang yang terlewat polos dan sering melakukan atau mengatakan hal-hal bodoh.

Hela, Dewi Kematian

Salah satu hal baru dalam film ini adalah kemunculan Hela, musuh baru Thor yang merupakan Dewi Kematian yang hendak menaklukan Asgard dan seluruh semesta. Selain itu, Hela ialah penjahat wanita pertama di Marvel Cinematic Universe dan Cate Blanchett memerankannya dengan sangat baik.

Berbeda dari film-film Cate lainnya seperti Carol (2015) dan The Curious Case of Benjamin Button (2008) di mana ia berperan sebagai tokoh utama yang kurang menonjol, saat menjadi Hela, aktris asal Australia ini memancarkan karisma yang luar biasa. Ini memang bukan kali pertama Cate berperan sebagai sosok antagonis, dalam Cinderella (2015) ia memerankan ibu tiri, tetapi kali ini sisi jahat yang ia usung memiliki lebih banyak kuasa dan kesombongan dari biasanya.

Dengan head-piece yang keren, Hela menjadi musuh yang patut ditakuti Thor dan kawan-kawannya. Tak hanya itu, Dewi Kematian ini ternyata memiliki hubungan spesial dengan Asgard, menjadikannya lebih berpengaruh saat menaklukan kampung halaman Thor ini.

Saksikan Thor: Ragnarok di bioskop pada 25 Oktober 2017. —Rappler.com