Sandiaga Uno ajak warga DKI berlari ke tempat kerja

JAKARTA, Indonesia - Sandiaga Salahudin Uno pernah berucap ketika menjadi Wakil Gubernur DKI nanti, ia akan berlari dari kediamannya ke Balai Kota. Kalimat itu rupanya ditepati pada Jumat pagi, 20 Oktober.

Dimulai pukul 06:00 WIB, Sandiaga keluar dari kediamannya di Jalan Pulombangkeng, Jakarta Selatan dan berlari menuju Lapangan Monumen Nasional (Monas) Jakarta Pusat. Ia berlari didampingi rombongan pengawal dan 13 rekan dari komunitas “Jakarta Berlari” sepanjang 9 kilometer.

Begitu tiba di Monas, ia bergabung dengan pegawai Pemprov DKI untuk mengikuti senam yang memang rutin dilakukan pada Jumat pagi.

“Terima kasih Pak Sekda sudah diatur (agar bisa) lari. Kami sudah memulai gerakan program ‘Run to Work’, berlari ke kantor, seminggu sekali," kata Sandiaga kepada media yang menyambutnya di Balai Kota pagi tadi.

Ia menjelaskan jika gerakan ‘Run to Work’ sangat baik untuk kesehatan. Selain itu, jika dijadikan gaya hidup maka diprediksi dapat mengurangi kemacetan di Jakarta.

Sandiaga menjelaskan secara perlahan ia akan menyosialisasikan program ‘Run to Work’ kepada seluruh pegawai Pemprov DKI Jakarta. Tujuannya, agar gerakan serupa juga dapat dicontoh oleh masyarakat Jakarta.

Usai mengikuti senam, mantan Ketua KADIN itu menyempatkan diri untuk bermain basket melawan tim Pusat Pelatihan Olahraga Pelajar (PPOP) yang sedang bermain di lapangan Monas.

Dalam kesempatan itu, ia turut mengenalkan Eduardus Nabumone, pria 52 tahun yang menjadi pemegang rekor lari 10K selama 28 tahun. Eduardus bahkan mengikuti pertandingan lari marathon selama 24 tahun terakhir.

Sandiaga kemudian memiliki ide untuk menginisiasi perlombaan lari Jakarta Half Marathon.

“Pak Eduardus terinspirasi gerakan run to work ini. Di antara lomba lari Jakarta 10K dan Jakarta Marathon itukan memang sudah dua event besar di DKI, kami mau selipkan satu lagi, yaitu Jakarta Half Marathon," kata dia.

Sandi mendorong agar kaum muda lebih bersemangat jika diajak berlari, sebab Eduardus yang sudah berusia 52 tahun masih semangat untuk berolahraga.

“Pak Sekda ini contohnya, jangan kaget ini Pak Sekda nanti badannya akan seperti saya," tutur Sandi sambil tertawa.

Lari dan inspeksi

BASKET. Usai mengikuti senam, Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno bermain bola basket. Foto oleh Ananda Nabila/Rappler

BASKET. Usai mengikuti senam, Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno bermain bola basket.

Foto oleh Ananda Nabila/Rappler

Ternyata Sandiaga tidak hanya berlari menuju ke Balai Kota. Ia juga memanfaatkan kesempatan berlari itu dengan mengecek beberapa fasilitas bagi pejalan kaki dan menginspeksi pelanggaran yang dilakukan pengendara bermotor.

Sandi pun mengaku sempat menemukan 100 bolongan di beberapa trotoar.

“Banyak sekali PR-nya, saya setpo dan hitung setelah lewat, (ada lebih) dari 100 bolongan. Saya nanti akan ngomong sama Bina Marga, nanti dengan Pak Sekda kita akan konsolidasi sebelum menyambut Asean Games," kata dia.

Ia sempat bertemu dengan satu pengendara motor yang mencoba untuk naik ke trotoar. Tetapi, pengendara motor akhirnya berbalik arah. Sandi juga merasa terganggu dengan polusi hitam yang berasal dari bus Metromini, ketika ia melewati depan Gedung Kemenko Kemaritiman. Sandi mengatakan akan berkoordinasi dengan Sekretaris DKI Saefullah dan Direktur Trans Jakarta agar masalah tersebut dapat diintegrasikan dalam program swadaya.

Beri hormat ke Kemenkomaritim?

Sandi dilaporkan sempat memberikan hormat ketika melintas di depan gedung Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman. Hal itu tidak lepas dari perbedaan pendapat dengan Menko Kemaritiman Luhut Panjaitan mengenai kelanjutan proyek reklamasi. Lalu, apa maksud Sandi memberikan hormat itu?

“Sebagai tanda kami siap berkoordinasi. Kami enggak mau diadu-adu. Pemerintah Provinsi harus selaras dengan Pemerintah Pusat. Kami punya mandat dari rakyat, yaitu menghentikan reklamasi, pemerintah juga punya posisi. Mari kita duduk sama-sama dan hargai kewenangan masing-masing," kata dia.

Sandi menjelaskan bahwa ia dan Pemprov DKI memiliki posisi yang jelas untuk menolak reklamasi. Menurut Sandi, kajian dan dampak pembangunan perlu dikaji ulang.

“Pulau ini untuk siapa, isinya apa aja, berapa persen untuk lower income bracket, middle income dan upper income bracket. Itu nanti kita betul-betul kaji, sistemnya akan digital, terbuka, transparan dan berkeadilan,” kata dia. - Rappler.com