Satu Juta Susi: Investasi terhadap perempuan pesisir

JAKARTA, Indonesia — Indonesia dengan titel negara maritimnya dikenal dengan kekayaan alam, terutama laut, yang luar biasa. Pantai berpasir putih dan air berwarna biru cerah dengan resort yang nyaman berbaris di pinggir daratan negara ini. Tapi, bagi Direktur Eksekutif Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBC WE) Dini Widiastuti, tampilan itu hanyalah make-up semata.

Disampaikannya dalam dalam sesi Youth and Communities for Social Good di acara Social Good Summit Jakarta 2017, wilayah pesisir pantai adalah wilayah yang penuh kemiskinan, dihantui isu, kesulitan air bersih, dan aksesibilitas yang bermasalah. Warga di daerah-daerah tersebut harus menggunakan perahu bot dan mengerjang ombak lebih dari dua meter untuk bisa pergi ke kota dan mengenyam pendidikan. Atau, melakukan hal serupa untuk mencari komoditas laut yang bisa dijual kemudian.

Indonesia juga menghadapi beragam permasalahan. Dari mulai dari rendahnya pendidikan para pekerja di sektor perikanan dan kelautan, hingga tantangan menggunakan kekayaan laut untuk mensejahterakan penduduk pesisir pantai tanpa eksploitasi.

Sulitnya kehidupan di pesisir pantai membuat profesi pelaut hampir selalu identik pada laki-laki. Sebab, imej yang terbentuk adalah kuat, gagah, dan berani. Namun sebenarnya, profesi tersebut, termasuk pada pekerja di sektor perikanan dan kelautan, lebih didominasi oleh perempuan. Para perempuan ini bekerja mulai dari mencari bahan mentah di laut, melakukan pemilahan, pembersihan, pengolahan, hingga pemasaran.

Kegagahan wanita di sektor perikanan juga tercermin pada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Karenanya, Dini membentuk kampanye bertajuk “Satu Juta Susi” untuk membantu menangani permasalahan kehidupan di pesisir  Indonesia tadi.

“Kalau satu Ibu Susi saja sudah menghasilkan dampak yang luar biasa, bayangkan kalau kita punya satu juta Susi,” ujar Dini dalam SGS yang diselenggarakan oleh Rappler dan UNDP Indonesia pada 4 Oktober lalu.

Para perempuan perkasa

Nurlina adalah salah satu perempuan perkasa yang diperkenalkan Dini. Sejak usia 12 tahun, saat ayahnya meninggal dunia, Lina sudah turun ke laut dan menjadi nelayan di daerahnya, Pangkajene, Sulawesi Selatan. Hingga berbelas-belas tahun kemudian, Lina terus didiskriminasi dan kesulitan untuk mendapatkan Kartu Nelayan. Alasannya, ia adalah perempuan, yang mana perempuan dianggap tidak mampu menjadi nelayan.

Di usianya yang menjelang 30 tahun, Lina akhirnya mendapatkan Kartu Nelayan dan akses untuk menggunakan perahu motor.

Perempuan perkasa kedua adalah Masnuah Mbanuk, salah seorang aktivis Persaudaraan Perempuan Nelayan Indonesia (PPNI). Untuk membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir, ia membantu memasukkan produk hasil laut ke pasaran Jawa Tengah, dan juga mendirikan Koperasi Puspita Bahari. 

Selain itu, Masnuah juga mengajarkan pengolahan sampah kepada masyarakat sekitar agar daerah pesisir pantai tersebut tidak penuh sampah dan tampak kumuh.

Langkah lain diambil Jumiati, warga Serdang Bedagai, Sumatera Utara. Ia melakukan rehabilitas hutan bakau. Usahanya pun menuai cibiran dari warga sekitar. Namun, delapan tahun berselang, usahanya berbuah manis.

Abrasi di daerahnya berkurang, dan satwa-satwa seperti burung dan ikan mulai memadati daerah tersebut. Ia juga bisa menjual hasil usahanya menjadi sesuatu yang bernilai ekonomi.

Yang bisa kita lakukan

Kita tidak perlu harus ikut terjun ke pesisir pantai dan melakukan hal-hal seperti yang dilakukan ketiga perempuan perkasa sebelumnya. Beberapa upaya mudah dapat kita lakukan.

Pertama, ubah mindset dan perspektif bahwa pelaut harus seorang laki-laki. Sebab, terbukti sudah bahwa perempuan pun mampu. 

“Lalu apa lagi yang bisa dilakukan? Pasti semuanya punya media sosial. Bisa viralkan, bisa sharing cerita tentang perempuan-perempuan seperti mereka,” kata Dini.

Para pekerja media pun bisa membuat peliputan untuk kemudian dituliskan, atau bahkan difilmkan. Dan bagi para wirausahawan, menggandeng mereka dan kelompok serupa adalah pilihan yang tepat untuk membantu mereka masuk ke pasar yang lebih luas.

Langkah-langkah ini menjadi penting untuk dilakukan, apalagi jika kita melihat pada sudut pandang yang lebih luas.

“Ketika kita investing on women, kita investing on communities sebenarnya,” tutur Dini. 

Salah satu contohnya adalah Nurlina yang membantu kebutuhan transportasi masyarakat sekitar, misalnya mengantarkan ke puskesmas atau sekolah, dengan perahu botnya saat ia tidak melaut.

Pada akhirnya, seluruh upaya ini perlu juga ditunjang dengan pemenuhan fasilitas. Dini tidak menyangkal bahwa terkadang pengajaran dan pendidikan telah dilakukan, namun tidak dapat direalisasikan karena hambatan ketiadaan fasilitas.

Perlu upaya yang saling melengkapi, bukan sendiri-sendiri, untuk menyelesaikan permasalahan besar ini. 

“Banyak hal yang bisa dilakukan. Jadi ajakan saya, ayo menjadi bagian dan jadi pendukung untuk terciptanya One Million Susi. Satu juta Susi untuk Indonesia,” ucapnya.

Social Good Summit adalah konferensi yang membahas dampak teknologi dan new media terhadap inisiatif sosial di seluruh dunia. Rappler Indonesia dan Program Pembangunan PBB (UNDP) bekerjasama mengadakan acara ini di Jakarta sejak 2015. —Rappler.com