LINI MASA: Teror terhadap polisi sepanjang 2017

JAKARTA, Indonesia — Pihak kepolisian kerap menjadi sasaran tindakan terorisme, setidaknya dalam beberapa bulan terakhir. 

Menurut para pengamat, teroris menganggap polisi sebagai pelindung dari musuh utama mereka, yaitu pemerintah. Oleh sebab itu, polisi —dan pemerintah— harus diperangi.

Selain itu, penyerangan terhadap polisi juga merupakan bentuk balas dendam atas tindakan polisi yang berhasil meringkus pentolan dan para pelaku teror di berbagai daerah di Tanah Air sejak peristiwa Bom Bali 2002 silam.

Sepanjang tahun ini ini, tercatat setidaknya ada empat serangan teror yang ditujukan kepada pihak kepolisian. Berikut lini masanya:

Lokasi: Masjid Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan

Nasib malang terjadi pada dua orang anggota Brimob di Masjid Falatehan, Blok M, Jakarta Selatan, yang terletak hanya beberapa meter dari Mabes Polri di Jalan Trunojoyo. Seorang pelaku menusuk dua anggota Brimob tersebut di bagian wajah dan leher seusai menjalankan salat Isya berjamaah di masjid tersebut.

Pelaku melakukan serangan terhadap dua anggota Brimob yang diketahui bernama AKP Dede dan Briptu Saiful Bahri. Mereka mengalami luka di bagian wajah dan leher dan langsung telah dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.

Tak berhenti sampai di situ, saat diberi tembakan peringatan, pelaku justru malah mengancam balik. Akhirnya sang pelaku langsung ditembak oleh anggota Brimob lainnya dan tewas ditempat. Kini jenazah pelaku telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati.

TEROR. Jelang salat Ied Fitri, pos penjagaan di Mapolda Sumatera Utara diserang oleh dua orang terduga teroris. Ilustrasil oleh Rappler

TEROR. Jelang salat Ied Fitri, pos penjagaan di Mapolda Sumatera Utara diserang oleh dua orang terduga teroris.

Ilustrasil oleh Rappler

Lokasi: Pos penjagaan di Medan, Sumatera Utara

Beberapa jam sebelum salat Ied pada Minggu, 25 Juni, saat seorang anggota Polri yang sedang beristirahat di pos jaga, tiba-tiba dua orang pelaku yang melakukan serangan. Satu orang anggota Polri atas nama Aiptu Martua Sigalingging pun tewas akibat luka tusukan.

Salah satu pelaku juga tewas akibat terkena timah panas kepolisian. Sementara pelaku lainnya berhasil ditangkap dalam keadaan selamat. Beberapa hari kemudian pelaku diketahui sebagai bagian dari kelompok Jemaah Anshar Daulah (JAD) yang berafiliasi dengan Bahrun Naim.

Sejumlah personil Inafis dan Labfor Polri melakukan olah tempat kejadian perkara di lokasi ledakan di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kamis (25/5) dini hari. Foto oleh Sigid Kurniawan/ANTARA

Sejumlah personil Inafis dan Labfor Polri melakukan olah tempat kejadian perkara di lokasi ledakan di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, Kamis (25/5) dini hari.

Foto oleh Sigid Kurniawan/ANTARA

Lokasi: Terminal Bus Kampung Melayu, Jakarta Timur

Sebanyak lima orang tewas dalam peristiwa ledakan bom panci di kawasan Terminal Bus Kampung Melayu, Jakarta Timur, pada Rabu malam, 24 Mei. Peristiwa tersebut terjadi beberapa hari setelah aksi teror yang terjadi di konser Ariana Grande di Manchester, Inggris, serta peperangan antara personel militer Filipina dengan kelompok militan Maute di Kota Marawi.

Ledakan bom panci di Kampung Melayu mengakibatkan 15 orang korban, 5 orang di antaranya tewas, termasuk dua pelaku dan tiga orang personel polisi yang tengah berjaga di terminal tersebut. Para polisi berada di sana untuk memantau kegiatan pawai obor menyambut Ramadan. 

—Rappler.com