18 bayi dirawat intensif karena kabut asap

JAKARTA, Indonesia — Jumlah korban sakit karena terpapar kabut asap yang menyelimuti Sumatera terus bertambah. Pada Kamis, 8 Oktober, tercatat ada 18 bayi yang dirawat di rumah sakit umum daerah di Riau.  

"Hingga saat ini RSUD sudah menangani puluhan anak-anak dan bayi yang terkena dampak kebakaran lahan dan hutan," kata Kepala Bidang PMK Dinas Kesehatan Kuantan Singingi, Detri Elvira seperti dikutip Antara, Kamis. “Kami berikan pelayanan maksimal.” 

Bila dibandingkan dengan orang dewasa, menurutnya bayi dan anak-anak lebih berisiko sakit bila terpapar asap kebakaran hutan dan lahan. 

Dari 18 bayi yang dirawat ini ada beberapa di antaranya yang dirawat di ICU karena harus menggunakan alat bantuan pernafasan. 

"Jika ke depan masih rawan asap, maka tidak menutup kemungkinan jumlah anak yang berobat bertambah," kata Detri. 

Sementara itu, seorang bayi, M. Husien Saputra, yang baru berusia 28 hari, meninggal di RS Muhammadiyah Palembang, Rabu, 7 Oktober, setelah menderita radang paru diduga karena kabut asap. Namun Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan Lesty Nuraini mengatakan belum bisa memastikan dugaan tersebut, karena masih menunggu hasil pemeriksaan dokter. 

"Yang jelas dugaan itu perlu pembuktian lebih lanjut," kata Lesty seperti dikutip Antara, Kamis. 

Makin pekat

Meski berbagai upaya dilakukan pemerintah, kabut asap yang menyelimuti Sumatera belum menunjukkan kemajuan berarti. Pada Kamis, 8 Oktober, situasi justru memburuk. 

“Kabut asap pagi ini bercampur dengan embun sehingga menyebabkan jarak pandang berkisar 50 meter. Jika dibandingkan dengan Rabu malam lalu, kabut asap sempat membaik dengan jarak pandang berkisar 1.000 meter,” kata Kepala BMKG Stasiun Pekanbaru Sugarin seperti dikutip Antara, Kamis. 

Kabut asap di Riau ini diduga berasal dari asap kebakaran hutan di Sumatera Selatan yang terbawa ke Riau. 

"Keberadaan titik panas masih terfokus di Provinsi Sumatera Selatan dengan 198 titik. Lainnya tersebar di Lampung dengan satu titik dan Bangka Belitung tiga titik," kata Sugarin. 

Wakil Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati mengkritik pemerintah karena sebelumnya enggan menerima bantuan negara lain untuk mengatasi kabut asap. 

"Katanya presiden sedang mengamati, loh kok diamati, kalau diamati keburu mati. Masak tega banget sih, bertindak dong. Kabut asap ini bisa ditanggulangi secepatnya karena ini pembunuhan secara perlahan-lahan dan ini pembunuhan massal kalau didiamkan saja," katanya. — Rappler.com 

BACA JUGA: