Benarkah virus Zika menyebabkan kelainan pada janin?

AEDES AEGYPTI. Nyamuk Aedes aegypti, penyebar virus Zika dilihat melalui mikroskop di sebuah lab di Bogota, Colombia pada 26 April 2016. Foto oleh Leonardo Munoz/EPA

AEDES AEGYPTI. Nyamuk Aedes aegypti, penyebar virus Zika dilihat melalui mikroskop di sebuah lab di Bogota, Colombia pada 26 April 2016.

Foto oleh Leonardo Munoz/EPA

Pada 2015 lalu, dunia dikejutkan dengan munculnya wabah virus Zika. 

Awalnya dideteksi di Bahia, Brasil, pada Maret 2015, virus ini terus menyebar dan diperkirakan telah menginfeksi sekitar 14 negara bagian di negeri tersebut. 

Menteri Kesehatan Brasil memperkirakan ada 1,3 juta kasus virus Zika yang dilaporkan sampai dengan Desember 2015. Pada bulan yang sama, wabah Zika diperkirakan telah menginfeksi 33 negara di benua Amerika.

Virus Zika sendiri bukan merupakan sebuah penyakit yang baru. Virus ini pertama kali ditemukan di Nigeria pada 1953, dan pertama kali menyerang negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia pada rentang waktu 2012-2014. 

Pada 2016, Eijkman Institute for Molecular Biology menemukan satu kasus Zika di indonesia, dan diduga bahwa virus ini tampaknya telah menyebar “untuk sementara waktu” di Indonesia.

Kini, Singapura dan Malaysia dilaporkan warganya telah terjangkit virus Zika pula.

Virus Zika ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti di daerah tropis, nyamuk yang sudah kita kenal sebagai penular demam berdarah. Nyamuk ini aktif di siang hari dan dapat hidup di dalam atau luar ruangan.  

Beberapa laporan menyatakan Zika bisa ditularkan dari ibu ke janin yang dikandung, atau melalui hubungan seksual.

Apa gejala yang saya rasakan jika terinfeksi Zika?

Hanya satu dari 5 orang yang terinfeksi Zika menunjukkan gejala, antara lain:

Pada beberapa kasus Zika, dilaporkan terjadi gangguan saraf dan komplikasi autoimun. Untuk lebih memastikan diagnosis, perlu dilakukan pemeriksaan laboratorium berupa RT-PCR & tes antibodi.

Siapa yang berisiko terinfeksi Zika?

Wanita hamil atau siapapun yang tinggal atau bepergian ke daerah yang terdapat infeksi zika, dan orang yang tinggal di daerah tropis di mana banyak ditemukan Aedes aegypti, memiliki risiko tinggi untuk terinfeksi.

Begitu pula orang yang berhubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi Zika.

Mengapa belum ada obat untuk infeksi zika?

Sampai saat ini tidak ada pengobatan spesifik untuk Zika, hal ini disebabkan karena pada awalnya infeksi Zika dianggap tidak berat dan sedikit kasus yang dilaporkan. 

Pengobatan yang ada saat ini masih berfokus pada menangani gejala yang dirasakan, hal lain yang bisa dilakukan penderita antara lain:

Saya hamil dan terinfeksi Zika, apa yang harus saya lakukan?

Walaupun hubungan antara kejadian mikrosefalus dan infeksi zika belum terbukti, beberapa penelitian terakhir menyatakan adanya hubungan kuat ke arah itu.

Pemeriksaan USG berkala yang lebih sering dianjurkan pada ibu hamil, untuk deteksi dini mikrosefalus pada janin, adanya hidrosefalus seringkali sulit dideteksi sampai trimester kedua kehamilan.  

Saya tidak hamil, kenapa saya harus peduli?

Infeksi Zika bisa sembuh sendiri tanpa pengobatan medis. Namun, efek buruk Zika paling dirasakan oleh ibu hamil, karena berkaitan dengan janinnya. 

Namun, pada beberapa kasus, Zika dapat menyebabkan penyakit saraf dan penyakit autoimun seperti sindrom Guillane Bare. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk mencegah wabah dari virus Zika ini.

Apa yang harus saya lakukan agar tidak terinfeksi?

Mencegah gigitan nyamuk Aedes aegypti merupakan prinsip utama pencegahan Zika. Terdengar sederhana, namun faktanya kadang sulit dilaksanakan. 

Berikut hal-hal yang bisa kita lakukan:

—Rappler.com

Sumber tulisan ini berasal dari HelloSehat.com, sebuah situs kesehatan yang menyediakan informasi terpercaya yang mudah diakses oleh seluruh masyarakat Indonesia.