Bibit-bibit terorisme masih ada dan berlipat ganda

Lembutnya Martabak Kota Barat menyambut kedatangan saya di Kota Solo, Jawa Tengah, pada Kamis, 14 Januari. Saya duduk di alun-alun Kota Barat dan tersenyum pada pelanggan martabak manis lainnya di kota tempat Presiden Joko “Jokowi” Widodo itu berasal. 

Solo memang sedang ngehit dengan Martabak Kota Baratnya alias Markobar yang dipopulerkan oleh Gibran Rakabuming, anak pertama Jokowi. Tapi bukan itu saja tujuan saya. Saya akan menghabiskan empat hari di sini untuk bertemu dengan orang-orang yang saya sebut dengan "mujahid" atau jihadis. Kalau dalam bahasa Densus 88, mereka adalah "teroris". 

FYI, saya menolak menggunakan istilah teroris di artikel saya, karena tidak semua mujahid itu teroris, dan tidak semua teroris beragama Islam. 

Mengapa saya tiba di Solo tepat pada hari Kamis saat bom meledak di Sarinah? Rencana ke Solo sebenarnya sudah saya jadwalkan sejak lama bersama Gibran. Saya dan Gibran janjian untuk ketemu wawancara di Graha Saba. 

Secara kebetulan, sebuah bom meledak di depan Gedung Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Saya sampaikan pada Gibran, bahwa dalam keadaan darurat ini, saya harus memperpanjang kunjungan saya di Solo. Mengapa? Karena saya yakin, aksi itu masih ada hubungannya dengan Solo. 

Apakah harus selalu ada hubungannya dengan Solo? Tidak selalu. Tapi setelah Anda membaca tulisan saya ini, anda akan memahami. 

Pertemuan-pertemuan yang tidak disengaja

Hari pertama di Solo, saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan bertatap muka dengan jurnalis-jurnalis lokal. Saya menggali banyak informasi dari mereka. Terutama soal nama Bahrun Naim, laki-laki berusia 32 tahun yang disebut-sebut sebagai otak peledakan dan penembakan di kawasan Sarinah.

Setelah berbincang, mereka pun mengajak saya untuk meliput di depan rumah Bahrun. Rumahnya sederhana, dua lantai, jendelanya dicat biru, depannya ada toko ikan yang diawetkan, dan sepi. Penghuninya tak tampak lagi. 

Singkat kata, malam harinya, barulah saya bisa bertemu dengan para mujahid. (Saya tidak bisa membuka kartu bagaimana saya bisa mendapatkan akses ke mereka, demi keamanan sumber saya). 

Malam-malam saya pun dihabiskan dengan mengadakan pertemuan-pertemuan dengan para mujahid. Tujuan saya hanya dua: Kenalkah mereka dengan Bahrun Naim? Dan apakah mereka mendukung dengan aksi yang dilakukan di Sarinah? 

Bom Sarinah bak sinetron

PASPOR BAHRUN NAIM. Paspor ini Rappler dapatkan saat menelisik jaringan Bahrun Naim di Solo. Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

PASPOR BAHRUN NAIM. Paspor ini Rappler dapatkan saat menelisik jaringan Bahrun Naim di Solo.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Pertanyaan pertama tentang Bahrun Naim pada para mujahid, bisa Anda baca di artikel saya yang pertama dan kedua. 

Pertanyaan kedua tentang aksi di Sarinah inilah yang menarik perhatian saya. Saya ingin tahu, apa pendapat para aktivis gerakan di Solo, baik yang junior maupun yang senior. 

Hampir semua aktivis yang saya tanya mengatakan pada saya bahwa aksi di Jakarta seperti sinetron. Mengapa? Karena aksi itu sepertinya tak teorganisir dengan baik dan tak jelas tujuannya. 

Pertama, bom meledak di pos polisi. Mengapa bukan mall atau hotel tempat ekspatriat yang biasanya menjadi incaran? Menurut mereka, polisi yang bertugas di pos bukan sasaran. Mereka masyarakat biasa, bukan "orang kafir" yang harus mereka perangi. 

Kedua, bukan dalam suasana perang. Jakarta aman, tak ada pergolakan seperti di Poso. Mengapa harus meledakkan bom di Jakarta? Kenapa tidak di kota lainnya seperti Bali? (Bali dianggap sebagai tempat yang lebih strategis bagi para aktivis gerakan ini).

Ketiga, ada yang melarikan diri. Jika masih ada jihadis yang melarikan diri, berarti misi yang dilakukan tak selesai. Jihadis tak akan pernah melarikan diri dari "medan perang". Mereka akan selesaikan misinya sebagai ‘pengantin’ sebutan untuk mereka yang meledakkan dirinya sendiri. 

“Kalau dibuat sinetron atau film di Hollywood, skenarionya bagus sekali,” kata salah seorang jihadis senior pada saya. 

Mereka yang muda, mereka yang sembrono

Selain tak happy dengan aksi teror yang dilakukan oleh "geng Jakarta" begitu mereka menyebutnya, aktivis gerakan ini juga menyebut bahwa orang-orang yang berada di rombongan Jakarta sebagai anak muda yang belum memiliki cukup pengalaman. 

Sebut saja Bahrun Naim, jika benar dia memang dalangnya. Di dunia "persilatan" Bahrun dikenal tak bisa berperang. Ia lebih dikenal sebagai kutu buku yang pandai meretas. Keahliannya di dunia informasi dan teknologi memang diakui oleh rekan-rekannya. 

Bahrun bahkan bisa menelpon Anda dari Solo dengan kode Amerika, atau meloloskan diri dari imigrasi dan ke Suriah dengan menghapus catatannya di imigrasi, atau mengirim duit dari Jakarta tapi di bank tercatat kiriman duit tersebut dari Suriah. Tapi dalam hal idad atau latihan fisik, dia lemah dibanding teman-temannya. Jangannya merakit bom, menopang senjata pun dia belum cakap. 

Masih ada lagi Afif dan AG, dua orang yang merupakan adik-kakak kelas di SMU ini, juga belum matang keahliannya. 

Seorang jihadis senior mengatakan pada saya bahwa orang-orang yang lebih hebat dari Geng Jakarta berlimpah di Solo. “Ada yang bisa bikin bom seperti bikin nasi goreng,” katanya. 

Nama-nama di Geng Jakarta bahkan sama sekali tak diperhitungkan oleh mereka. 

Faksi Jamaah Islamiyah dan ISIS  

Belum lagi soal politik yang terjadi di dunia persilatan gerakan aktivis. Saya hanya tersenyum ketika ada selebtwit yang memaksakan pendapatnya bahwa Front Pembela Islam (FPI) mendukung Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Tidak sesederhana itu, Kawan. 

Di Solo saja, 95 persen ulamanya tidak mendukung ISIS. Mereka menganggap ISIS telah melanggar prinsip-prinsip dalam ajaran Islam. Misal, membunuh Muslim dalam operasinya. Mungkin Anda bingung, sebenarnya siapa yang layak diperangi menurut mereka? 

OK, seperti ini pemetaannya: 

Gerakan aktivis di Solo, dan mungkin berlaku di seluruh Tanah Air juga, memiliki pedoman yang berbeda-beda, tingkat, atau level yang berbeda amaliyahnya.

Amaliyah adalah perkara amar maruf nahi munkar, alias mengajak pada kebaikan untuk meninggalkan keburukan. Amaliyah bisa berupa sweeping di jalan yang dilakukan FPI, hingga berjihad ke Poso. Intinya, harus ada amaliyah

Selengkapnya lapisannya ada begini: 

Lapisan pertama. Mereka yang ingin masuk Islam dengan kaffah atau utuh. Ini adalah standarisasi ajaran di gerakan manapun, semua harus dimulai dengan masuk Islam dengan utuh. Anda bisa mengartikannya dengan positif dan negatif. Tapi saya pribadi menilai kegiatan ini positif saja, tidak ada yang salah, dan tidak perlu dikhawatirkan. Toh, Islam kan artinya memasrahkan diri pada Allah. Senyampang, ajaran ini tidak mengganggu kebebasan orang lain, masih wajar. 

Lapisan kedua. Lapisan ini akan mempertanyakan pada Anda, “Masa hanya berdakwah di kampus saja, ke masyarakat juga, dong. Amaliyah jangan hanya berwacana,” ujar salah satu senior jihadis. Mereka mulai men-challenge anggotanya untuk mengikuti organisasi yang langsung terjun ke masyarakat, antara lain sweeping tempat-tempat "maksiat". Tapi caranya pun ada dua, santun dan radikal. Yang santun bisa Anda temukan banyak di Solo. Yang radikal, mungkin bisa Anda temukan di Jakarta (you know who). 

Lapisan ketiga. Lapisan ini adalah untuk mereka yang telah siap untuk menjadi "pasukan mujahid" dan siap untuk dikirim berjihad di Poso misalnya. Untuk memasuki tahap ini, seorang calon anggota harus sudah memahami agamanya, menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, dan pernah terjun untuk mengabdi di masyarakat. 

Tapi di lapisan ketiga ini, sering terjadi perpecahan di tubuh aktivis. Penyebabnya terutama adalah godaan dari luar organisasi. Perpecahan itu bisa dilihat saat peristiwa Bom Bali I dan II. Menurut keterangan sumber Rappler, pelaku Bom Bali I dan II adalah anggota gerakan yang membelot, karena mereka ingin mati syahid dengan cara mereka sendiri, bukan atas perintah jamaah. 

Godaan lainnya adalah ISIS. Pada saat ISIS pertama kali muncul dengan iming-iming mati syahid, pendiri pondok pesantren Abu Bakar Ba'asyir adalah salah satu yang tertarik. Ia sampai pecah kongsi dengan anaknya sendiri yang menentang ISIS. 

Sebagian jamaah yang dipimpin oleh Ba'asyir pun pecah menjadi dua. Sebagian bergabung dengan ISIS, sebagian tetap tak setuju dengan gerakan ISIS. Mereka menganggap, ISIS telah keluar dari prinsip ajaran Islam yang mereka anut. 

Belum lagi, di Solo, ada veteran-veteran Jamaah Islamiyah yang masih berkharisma di mata para aktivis. Gerakan aktivis di Solo pun pecah jadi dua. Yang mendukung jamaah Islamiyah secara diam-diam, dan mendukung ISIS. 

Pendukung JI di Solo tentu tak akan berani muncul ke publik. Mereka bergerak di bawah tanah. Seorang teman menyebutnya dengan "The Sleeping Tiger", mereka tidak akan perang jika kondisi memang tidak dalam keadaan perang. Misal, saat perang di Afghanistan, anggota JI pun berangkat untuk berjihad ke Afghan bersama Taliban atau Al-Qaeda. 

Sementara itu, keanggotaan ISIS terus berkembang. Mereka adalah orang-orang "karbitan", begitu istilah para aktivis JI menyebut aktivis ISIS. Mereka bahkan tak banyak menguasai ilmu-ilmu perang. Jumlahnya mencapai kurang lebih 100. Merekalah yang kini diburu oleh polisi dari Aceh hingga Nusa Tenggara Barat. 

Lalu ke mana pemerintah? 

Pertanyaan selanjutnya adalah, ke mana pemerintah? Apa saja yang dilakukan pemerintah untuk mencegah terjadinya teror oleh kelompok-kelompok gerakan aktivis ini? Apa hasil program deradikalisasi oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT)? 

Pertanyaan ini tentu saja hanya bisa dijawab oleh pemerintah. Tapi ada beberapa indikasi yang menunjukkan pemerintah tak benar-benar hadir untuk mencegah terjadinya gerakan radikalisasi hingga berujung pada aksi terorisme tersebut. 

Pertama, pemerintah hanya sibuk dengan program mematai, tapi tak punya program untuk merangkul para aktivis di gerakan ini. 

Saya mendengar, BNPT memiliki program deradikalisasi. Tapi seorang aktivis gerakan mengatakan, bahkan eks pelaku Bom Bali pun tak diundang. Program itu bahkan sama sekali tak menyentuh para anggota jemaah ini. Malah mereka yang diundang adalah mereka yang berlatar belakang Nahdatul Ulama. Salah sasaran? 

Sementara itu, lembaga swadaya yang lain memberikan pelayanan pada orang-orang ini. Lewat pendekatan ekonomi, mereka mendanai usaha para aktivis gerakan dan mantan teroris. Beberapa dari mereka kini sudah berhasil hidup mandiri dan mendirikan warung makan. 

Saya mengunjungi satu per satu warung mereka dan berkenalan dengan mereka. Semua tampak normal. Salah satu di antara mereka mengatakan pada saya, “Saya sedang menikmati masa tua saja,” katanya. 

Tapi benarkah itu cukup? Tidak.

Semua berawal dari keluarga 

Ternyata dari fakta yang saya kumpulkan, generasi radikal itu kini telah memasuki generasi kedua. Sebut saja anak Imam Samudra, pelaku Bom Bali. Anak itu mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang "jihadis". Ia ke Suriah dan akhirnya "mati syahid" di sana. 

Bukan hanya anak Imam Samudra, beberapa anak dari pelaku juga mengikuti jejak ayahnya. Apa penyebabnya? Dendam masa lalu. 

Dari mana dendam itu berada? Tentu saja dari fakta yang mereka dapatkan bahwa ayah-ayah mereka disiksa saat diinterogasi oleh aparat. Lembaga Bantuan Hukum (LBH) memiliki catatatan lengkap tentang bukti-bukti penyiksaan tersebut. 

“Dendam itu mereka simpan, dan membuat mereka justru semakin bersemangat untuk berjihad,” katanya. Seperti suburnya radikalisme di tanah air, yang makin hari, mungkin, tak akan bisa dikendalikan hanya dengan senjata. 

Menyimpulkan dari semua yang saya tulis di atas, Densus 88 dan BNPT sepertinya butuh pendekatan lain, entah melibatkan ulama atau tokoh masyarakat setempat. Yang jelas, penjara saja tidak bisa memenjarakan "ghirah" atau semangat mereka berjihad, Pak. Tubuh mungkin terpenjara, tapi isi kepala mereka tidak. 

Semoga Bom Sarinah bisa menjadi pelajaran buat pemerintah dan semua pihak untuk berhenti tidak peduli, bahwa setelah satu dekade pun, bibit-bibit terorisme itu masih ada, dan berlipat ganda.—Rappler.com

BACA JUGA