Pelaku bisnis harus ubah pola pikir demi pembangunan berkelanjutan

JAKARTA, Indonesia — Indonesia memang telah memasukkan 17 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), namun hingga saat ini realisasinya masih minim.

CEO Sintesa Group Shinta Widjaya Kamdani menyoroti soal topik tersebut dalam bidang bisnis.

"Perlu ada transformasi pola pikir pelaku bisnis," kata Shinta saat mengisi sesi dalam Social Good Summit 2016 di Jakarta, pada Kamis, 29 September.

Sebagai seorang pelaku bisnis, Shinta mengakui salah satu hal yang terpenting adalah bagaimana supaya suatu unit usaha dapat terus memperoleh keuntungan (profit).

Namun, ia menegaskan, demi memperoleh keuntungan, bukan berarti pelaku usah bisnis bisa mengabaikan unsur lain. Misalnya, menghancurkan lingkungan atau semakin memperbesar kesenjangan sosial.

Perusahaan, ujarnya, tak boleh melupakan hal ini. Lewat perusahaannya yang membawahi 17 firma yang bergerak di 4 bidang: industri manufaktur, properti, energi, dan produk konsumen, Shinta mengaku sudah menjalankan program tersebut.

"Di bidang pendidikan, kami memberdayakan anak-anak pemulung. Kami didik, berikan kemampuan, kemudian hasilnya kami jual," kata Shinta.

Anak-anak pemulung ini pun aktif mendorong perbaikan lingkungan lewat energi ramah lingkungan. Ia berharap pada 2025, Indonesia dapat meninggalkan energi fosil dan beralih pada yang lebih aman.

Ia juga menyoroti salah satu program kewajiban sosial perusahaan (CSR) yang sifatnya cuma-cuma dan sekali jalan saja. Padahal, menurutnya, seharusnya program ini bersifat jangka panjang.

"Seperti pembangunan akses terhadap listrik di daerah terpencil, dan lainnya," kata Shinta.

Anak muda dan pembangunan

TRI MUMPUNI. Foto dari Twitter @RapplerID.

TRI MUMPUNI. Foto dari Twitter @RapplerID.

Shinta juga menggarisbawahi masa depan Indonesia, yang menurutnya, terletak di tangan orang-orang muda, yang kelak akan menempati posisi strategis.

"Karena itu kesadaran soal pembangunan berkelanjutan ini sudah harus ditanamkan sedini mungkin," katanya.

Dengan demikian, para anak muda ini akan memahami apa itu pembangunan berkelanjutan, dan bisa merencanakan kegiatan sejak awal. Cara ini juga dapat mempermudah penyebaran paham berkelanjutan tersebut di kalangan mereka, seperti lewat media sosial atau pun gerakan-gerakan berskala besar.

Salah satu contoh nyata telah dilakukan oleh Tri Mumpuni, pendiri Yayasan Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA). Lewat organisasinya, ia memotori anak muda di Indonesia untuk menyumbang bagi negerinya.

Mereka, yang kebanyakan memiliki latar belakang insinyur, akan dikirim ke daerah pelosok, hingga perbatasan untuk membangun pembangkit energi listrik.

"Kami persiapkan mereka dengan kompetensi-kompetensi yang dibutuhkan," kata Puni, sapaan akrabnya.

Pertama, mereka dimatangkan kemampuan teknisnya supaya paham bagaimana membuat sumber energi. Kedua, adalah kejuangan.

"Saya lihat mereka yang lulusan universitas ternama, kan, kebanyakan keluar masuk mall, atau hanya di universitas. Sedangkan mereka bisa jalan berhari-hari untuk mencapai desa terpencil," kata Puni.

Terakhir, adalah keihkhlasan, yang diajarkan selama dua bulan.

Menurut Puni, penting sekali untuk memberdayakan masyarakat di daerah terpencil untuk memberangus kemiskinan yang melanda mereka. Salah satunya dengan memberikan mereka kemampuan untuk mengolah sumber daya alamnya.

"Kemiskinan terjadi karena masyarakat dicabut dari sumbernya," katanya. Maka, mereka harus disambungkan kembali untuk bisa mendapat kesejahteraan yang terus menerus.

Lalu, bagaimana caranya untuk menumbuhkan kesadaran semacam ini? Tak hanya bagi mereka yang masih berusia muda juga mereka yang telah berpengalaman dan kini tengah duduk di bangku pemerintahan.

Puni mengaku, landasannya bekerja adalah untuk didoakan banyak orang. "Pernah tidak dengar rakyat mendoakan anggota DPR? Padahal, kalau kerja agar didoakan orang, rezeki insya Allah datang terus," katanya.

Dengan pola pikir seperti ini, Puni berharap anggota dewan dapat memperbaiki kinerja mereka, sehingga pembangunan berkelanjutan bukan lagi barisan kalimat yang tertera dalam RPJMN.—Rappler.com

BACA JUGA: