Ajakan ‘Boikot Kebun Binatang Bandung’ dinilai kekanak-kanakan

 

BANDUNG, Indonesia — Sejumlah pihak bereaksi terhadap ajakan untuk memboikot Kebun Binatang Bandung yang diserukan Wali Kota Ridwan Kamil. Ajakan itu mengundang protes dari sejumlah pihak. 

Ketua Badan Musayawarah Masyarakat Sunda, Memet Hamdan menilai seruan yang bertagar #boikotbonbinBDG di media sosial itu menunjukkan sikap kekanak-kanakan.

“Saya khawatir statement Ridwan Kamil itu hanya sekadar emosi. Kebangetan kalau wali kota masih emosian, kekanak-kanakan. Dia harusnya lebih bijak menyampaikan statement,” ungkap Memet saat jumpa pers “Save Kebon Binatang Bandung”, pada Sabtu, 14 Mei.

Menurut Memet, tidak segampang itu melakukan boikot terhadap kebon binatang yang telah menjadi fasilitas publik selama 86 tahun. Apalagi, di sekitar tempat wisata yang berlokasi di Jalan Taman Sari Kota Bandung, ada aktivitas ekonomi yang menghidupi warga Bandung. 

Terkait hal itu, Memet menantang Ridwan untuk melakukan debat terbuka atau public hearing agar masyarakat lebih paham.

“Saya ingin menantang Ridwan Kamil untuk debat terbuka dengan statement dia yang judulnya boikot. Kenapa demikian (mengajak boikot)? Enak aja Wali Kota boikot padahal kebun binatang sudah jadi fasilitas publik,” katanya.

Senada dengan Memet, tokoh masyarakat Bandung, Budi Dalton, menilai Wali Kota tidak dewasa dengan ajakan boikot Kebun Binatang Bandung. Malah Budi mensinyalir ajakan tersebut dijadikan ajang popularitas.

“Ada ketidakdewasaan. Malah jadi ajang popularitas. Menurut saya, sangat tidak etis mengeluarkan ajakan boikot,” ujar Budi yang sempat menjadi lawan Ridwan Kamil dalam Pilkada Kota Bandung pada 2013 lalu.

Sementara itu, Koordinator Pusat Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia Dedy Kurniawan mengatakan, bahasa boikot adalah bahasa yang kurang tepat, apalagi itu disampaikan di media sosial yang sebarannya bisa sangat luas. Deddy khawatir ajakan boikot justru bisa mengancam keselamatan satwa di Kebun Binatang Bandung.

“Fokusnya kan kepada penyelamatan satwa di kebun binatang. Ajakan boikot itu apakah bisa menyembuhkan atau malah mengancam satwa lainnya. Kalau boikot itu karena pengelola dianggap abai, ajakan boikot malah akan membuat pengelola semakin abai karena mereka tidak memiliki kekuatan ekonomi untuk memelihara satwa,” tutur Deddy.

Sebelumnya, ajakan #boikotbonbinBDG diserukan Ridwan menyusul kematian Yani, gajah Sumatera penghuni Kebun Binatang Bandung pada Rabu petang, 11 Mei. Ridwan sempat menjenguk gajah berusia 34 tahun itu di kandangnya, beberapa saat sebelum kematiannya.  

Ajakan boikot itu, dikatakan Ridwan, sebagai upaya melawan pengelola Kebun Binatang Bandung yang diduga menelantarkan Yani selama sakit.

"Barusan kabar masuk. Gajah yang tadi pagi ditengok yang bernama Yani ini mati jam 18-an. Karena ini bonbin milik pribadi, saya akan pelajari dan cari upaya hukum. Sementara itu, ayo lawan dengan #BoikotBonbinBDG," tulis pria yang akrab disapa Emil itu dalam akun Instragramnya, @ridwankamil.

Selamatkan, bukan boikot

Ajakan #boikotbonbinBDG direspon oleh sejumlah warga Bandung dengan menyerukan #saveKebonBinatangBandung. 

Pakar lingkungan, Sobirin Supardiyono, mengusulkan warga bergotong royong untuk menyelamatkan kebun binatang yang memiliki luas 14 hektar itu. Sobirin bahkan mengajak warga mengumpulkan koin untuk Kebun Binatang Bandung.

Jika akan dilakukan perbaikan di Kebun Binatang Bandung, menurut Sobirin, pembangunannya harus berkonsep keterpaduan dan negosiasi yang sangat kental dengan gotong royong dan partisipasi masyarakat.

“Harus negosiasi dengan warga, juga ada kesetaraan dan sinergi antar stakeholder,” ujar Sobirin yang juga menjabat Koordinator Dewan Pakar Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS).

Sobirin mengungkapkan, Kebon Binatang Bandung memiliki sejumlah masalah yang membelit, seperti kasus rebutan kepemilikan lahan yang melibatkan Pemerintah Kota Bandung, Yayasan Margasatwa Tamansari sebagai pengelola Kebon Binatang Bandung, dan warga bernama Enis dan Paiman yang mengaku memiliki bukti kepemilikan lahan. 

Namun yang menjadi ancaman, kata Sobirin, adalah masuknya investor yang akan mengubah Kebon Binatang Bandung menjadi lebih modern.

“Banyak pihak yang mengkhawatirkan hilangnya fungsi dan keaslian Kebon Binatang Bandung karena kedatangan investor dengan unsur bisnis yang mengemuka,” katanya.

Tak dipungkiri, Kebun Binatang Bandung memiliki sejumlah hal yang bisa menjadi daya tarik bagi para investor. Lokasi kebon binatang yang berada di dataran tinggi Kota Bandung sangat cocok dan strategis sebagai kawasan wisata konservasil alam dan satwa.  

Selain itu, koleksi satwa yang dimiliki sangat banyak mencapai 900 satwa dari 200 jenis satwa, termasuk 79 satwa langka yang dilindungi. –Rappler.com

BACA JUGA: