Penulis buku kontroversial Ahmad Fauzi bantah hina agama Islam

SEMARANG, Indonesia – Penulis buku kontroversial Ahmad Fauzi menjalani pemeriksaan empat jam lebih di Polda Jawa Tengah, Selasa, 5 Januari, atas dugaan penghinaan agama melalui buku dan media sosial.

Namun, dirinya membantah telah menghina ajaran Islam karena semua buah pikirannya, menurut dia, berdasarkan kajian akademis yang bersumber pada ilmu ‘Ulumul Qur’an dan filsafat.

“Saya akan ikuti proses hukum, karena saya yakin apa yang saya tulis bukan penghinaan agama. Justru saya membela kemanusiaan sebagai inti agama,” kata Ahmad kepada Rappler.

Ahmad adalah lulusan Aqidah dan Filsafat Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo, Semarang, yang menulis buku Agama Skizofrenia: Kegilaan, Wahyu, dan Kenabian dan Tragedi Incest Adam dan Hawa dan Nabi Kriminal yang kemudian memancing kemarahan sejumlah ormas Islam di Jawa Tengah.

Pada 9 Oktober tahun lalu, Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS) dan Forum Umat Islam Semarang (FUIS) melaporkan Ahmad ke Polda Jawa Tengah atas statusnya di akun media sosial Facebook dan Twitter yang dianggap menghina Islam. 

Humas LUIS, Endro Sudarsono, mengatakan beberapa status media sosial Ahmad pada Juni 2013 dilaporkan ke kepolisian karena melecehkan para nabi dan ajarannya.

Dua hari berikutnya, Front Pembela Islam (FPI) Semarang juga melaporkannya ke Polda atas penyebaran dan penjualan buku yang dianggap menghina Islam melalui media sosial.

Ahmad dilaporkan dengan tuduhan melanggar UU ITE No. 11 tahun 2008 pasal 28 dan 45 tentang penyebaran informasi yang menimbulkan kebencian dan permusuhan menyangkut suku, agama, ras, dan antar-golongan.

Tentang buku-buku Ahmad Fauzi bisa dibaca di sini.

“Kita sudah berdialog di Polrestabes Semarang, dan saya sudah menjelaskan dasar argumen saya kepada mereka (FUIS dan FPI) tetapi mereka tetap tidak mau menerima. Kalau harus lewat jalur hukum, saya siap,” kata Ahmad.

Ahmad mengaku menderita skizofrenia dan berusaha lepas obat, sehingga sering mengalami delusi dan emosi yang tak stabil.

Kata-kata yang ia gunakan untuk mengekspresikan gagasannya terkadang diakuinya berlebihan, seperti menyebut Nabi Muhammad menerima wahyu dengan cara “kesurupan”, nabi berkepribadian agresif dan paranoid, serta Ibrahim nabi kriminal.

Penulis yang kini tinggal di Semarang itu sejak lama terobsesi pada agama, filsafat, dan sains. Ahmad mengagumi ilmuwan fisika kuantum terkemuka, seperti Stephen Hawking dan Werner Karl Heisenberg, dan juga pengarang Dancing Wu Li Masters yang meraih penghargaan sains, Gary Zukav. 

Pada usia 19 tahun ia sudah mencoba mengupas Al-Qur’an dengan teori singularitas Stephen Hawking, namun gagal menghasilkan buku. —Rappler.com

BACA JUGA: