Christian Soegiono bermimpi untuk membebaskan pengetahuan

JAKARTA, Indonesia – Christian Soegiono tampil sebagai salah satu pembicara di acara Social Good Summit 2016 yang berlangsung di The Warehouse, Plaza Indonesia hari ini. Di penuturannya, Christian berbagi cerita soal perannya sebagai Duta Wikimedia.

“Ketika saya di Jerman masih kuliah, saya banyak mengunakan Wikipedia untuk basis materi kuliah. Saya suka menulis juga di situ dalam bahasa Jerman. Setelah itu muncul Wikipedia bahasa Indonesia, saya suka menulis juga yang simpel saja. Setelah itu saya bertemu dengan Wikimedia Foundation yang menjalankan Wikipedia Indonesia dan saya ikut,” kata Christian.

Tujuan Christian yang terpenting adalah untuk membebaskan pengetahuan untuk siapapun.

“Kita semua mempunyai pengetahuan yang bsia di-share ke orang lain. Nanti dari satu orang bisa share ke 10 dan ke 1000 orang, jadi pengetahuan itu menumpuk jadi gunung pengetahuan,” kata Christian lagi.

Gol utama Christian adalah agar pengetahuan di Indonesia bisa bebas dan bisa diakses dari manapun, kapan pun dan gratis.

Karena itu, sekarang Christian sedang gemar berkeliling dari kampus ke kampus untuk membagi lebih banyak lagi tujuan utamanya bersama Wikimedia Foundation.

“Kemarin sudah keliling Jawa dan satu kota di Sumatera. Bertemu dengan mahasiswa dan meng-encourage  mereka untuk membebaskan pengetahuan mereka. Misalnya mereka tahu apa, di-share dalam bentuk tulisan ilmiah dan obyektif, seimbang.”

Dua unsur penting pendidikan

Bagi Christian, pendidikan menjadi salah satu topik yang sangat menarik saat ini. Meski dikenal sebagai tech-preneur, Christian sangat antusias jika diajak berbicara soal pendidikan. Karena bagi ayah satu anak ini, pendidikan adalah salah satu passion-nya.

“Pendidikan itu bagi saya ada dua. Yang pertama adalah materi yang diajarkan dan kedua adalah cara mendidik. Saya dulu memutuskan untuk tidak menamatkan kuliah karena saya tidak cocok dengan model pendidikan akademik. Kalau saya ingin belajar sesuatu, saya bisa mencari sendiri, jauh lebih dulu daripada program di kampus saya di Hamburg dulu. Karena itulah saya pikir pendidikan itu harus sesuai dengan karakter setiap orang,” ungkap Christian.

Yang kedua, soal pendidik, Christian juga melihat sebuah kondisi pendidikan di Indonesia yang masih memerlukan banyak penanganan. Jumlah guru dan murid tidak seimbang. Soal kualitas pendidik pun masih sangat kurang.

“Karena itu, cita-cita saya, andaikan ada sebuah platform yang bisa menghubungkan satu guru berkualitas dengan ratusan atau ribuan orang jarak jauh dengan teknologi, itu akan bagus sekali,” jawab Christian lagi.

Dan bicara soal pendidikan, Christian pun menyimpan mimpi di tahun 2030 nanti, di mana pendidikan dan pengetahuan bisa dibebaskan sebebas-bebasnya.

“Setiap orang bisa mendapatkan dan menyumbangkan pengetahuannya. Tidak hanya berharap pada beberapa guru saja secara profesional, tapi bisa belajar langsung peer to peer. langsung. Setiap orang bisa mengakses pengetahuan dengan baik dan gratis dan tidak dikomersialisasikan.”-Rappler.com.