Road to final Chile: Ketajaman yang datang di tengah jalan

SWEET VICTORY. Chilean players flood the pitch after clinching the final at the Copa America. Photo by Juan Carlos Cardenas/EPA

SWEET VICTORY. Chilean players flood the pitch after clinching the final at the Copa America.

Photo by Juan Carlos Cardenas/EPA

JAKARTA, Indonesia – Apa hambatan bagi seorang juara bertahan untuk mempertahankan gelarnya? Salah satunya, rasa lapar terhadap gelar itu sendiri.

Tim yang sudah mati-matian mengerahkan semua tenaganya untuk meraih sesuatu pada akhirnya akan merasa nyaman karena sudah merengkuhnya.

Kurang lebih seperti itulah gambaran timnas Chile ketika memulai kiprahnya di Copa America Centenario 2016. Mereka datang ke Amerika Serikat setelah setahun sebelumnya untuk kali pertama meraih gelar Copa America.

Dahaga terhadap gelar di turnamen internasional tertua di dunia itu tak lagi sama. Apalagi, mereka sudah tak lagi bersama pelatih yang mendampingi mereka meraih gelar tersebut. Posisi Marcelo Bielsa sudah digantikan Juan Antonio Pizzi.

Karena itu, butuh waktu agak lama bagi Chile untuk benar-benar menemukan kembali kegairahan terhadap Copa America. Tak heran, di laga pertama melawan Argentina, mereka keok 1-2. Padahal, pertemuan tersebut ibarat ulangan final 2015.

Begitu juga di laga keduanya melawan Bolivia. Claudio Bravo dan kawan-kawan hanya bisa menang 2-1 atas tim terlemah di grup D tersebut.

Mereka baru kembali menemukan performanya di laga ketiga melawan Panama 4-2. Puncaknya, Chile menghabisi Meksiko 7-0 di perempat final, dan berlanjut menghabisi Kolombia 2-0.

Kini, mereka sudah siap menghadapi Argentina di laga puncak yang digelar Senin, 27 Juni WIB, di MetLife Stadium, East Rutherford, New Jersey.

Dominasi pemain Eropa di La Roja

Salah satu kunci kebangkitan Chile adalah munculnya talenta-talenta hebat mereka dalam lima tahun terakhir. Sebagian besar dari mereka langsung menarik minat klub-klub Eropa.

Di line-up mereka saat ini saja, 13 di antaranya bermain di Eropa. Tak hanya sekadar bermain di klub benua biru tersebut, mereka juga jadi tulang punggung tim.

Mereka antara lain adalah Alexis Sánchez (Arsenal), kiper Claudio Bravo (Barcelona), Arturo Vidal (Bayern Muenchen), Gary Medel (Inter Milan), dan striker yang mencetak empat gol ke gawang Meksiko, Eduardo Vargas (Hoffenheim).

“Para pemain ini telah menulis sejarah sepak bola Chile dalam berlembar-lembar halaman. Kami harap kami bisa menambah halaman lagi dalam buku sejarah agung ini,” kata Pizzi seperti dikutip ESPN.

Meskipun begitu, Pizzi harus belajar banyak dari kekalahan mereka di Copa America 2016. Dalam pertandingan tersebut, lini tengah Chile benar-benar tak berkutik dengan pergerakan Lionel Messi dan kawan-kawan.

Padahal, di laga tersebut Chile bermain dengan skuat komplit. Vidal bertindak sebagai pemimpin alur serangan tim dari lini tengah. Tapi, dia tak berdaya menghadapi tekanan Javier Mascherano dan Augusto Fernandez.

“Mereka mengalahkan kami di lini tengah. Kami benar-benar tak berdaya,” kata Vidal seperti dikutip ESPN.

Pemain Bayern Muenchen itu mengakui, Argentina dalam situasi yang lebih menguntungkan. Mereka tampil sempurna di Copa America. Semua laga dijalani dengan kemenangan.

Kondisi itu jelas berbeda dibanding timnya. Barisan bek mereka menjadi sosortan. Chile sampai ke final dengan “dosa” berupa 4 kali kebobolan. Bandingkan dengan Argentina yang hanya dua kali kebobolan dan mencatatkan 3 kali clean sheet.

“Kami mungkin tak beruntung di pertandingan pertama. Tapi sekarang kami sudah berada di final dengan kepercayaan diri yang tinggi,” katanya.

Vidal menampik anggapan bahwa timnya tak lagi lapar gelar. “Ini adalah pertandingan penting dalam hidup kami. Tak ada timnas di dunia ini yang bermain seperti kami,” tegasnya.—Rappler.com

BACA JUGA: