Daftar penerima Penghargaan Nobel Perdamaian dalam 10 tahun terakhir

JAKARTA, Indonesia — Nominasi Penghargaan Nobel Perdamaian atau Nobel Peace Prize tahun ini akan diumumkan pada Jumat, 7 Oktober 2016.

Nobel Perdamaian termasuk dalam 5 penghargaan yang tercatat dalam wasiat Alfred Nobel, seorang industrialis asal Swedia.

Penghargaan tahunan yang diselenggarakan sejak 1901 ini diberikan untuk individu atau kelompok yang memiliki pengaruh positif terhadap perkembangan dunia.

Khusus untuk perdamaian, penghargaan ini diberikan kepada mereka yang berpengaruh terhadap persatuan atau persaudaraan dalam sosial dan antar bangsa.

Berikut adalah daftar penerima Penghargaan Nobel Perdamaian dalam 10 tahun terakhir:

Muhammad Yunus dan Grameen Bank - 2006

Muhammad Yunus merupakan pendiri dari Grameen Bank. Yunus, seorang ekonom dari Bangladesh, bersama Grameen Bank menerima Penghargaan Nobel Perdamaian atas jasa dalam membangun sosial dan ekonomi dari bawah.

Ia menuangkan visinya untuk membantu masyarakat miskin dalam meminjam uang dengan kredit rendah dalam Grameen Bank.

Panel Antar Pemerintah tentang Perubahan Iklim (Intergovermental Panel on Climate Change/IPCC) dan Albert Arnold Gore Jr. - 2007

IPCC dan Albert Arnold Gore Jr., atau yang akrab disapa Al Gore, menerima penghargaan ini atas usaha mereka dalam membangun dan menyebarluaskan pengetahuan akan perubahan iklim buatan manusia, dan memberi dasar bagi langkah yang perlu dilakukan dalam mengatasi perubahan iklim.

IPCC melakukan sejumlah penelitian dari rentang waktu 1990 hingga 2007 mengenai perubahan iklim, yang kemudian dijadikan sebagai referensi dasar dalam pengetahuan mengenai perubahan iklim yang ternyata begitu cepat.

Sedangkan Al Gore, yang pernah terpilih menjadi Wakil Presiden Amerika Serikat pada 1992, telah dikenal sebagai seseorang yang berpengaruh dalam politik dan peduli lingkungan.

Ia kemudian menggunakan pamor yang ia miliki untuk mengampanyekan isu mengenai iklim dan lingkungan. Ia juga tampil dalam film dokumenter mengenai kampanye tentang pemanasan global yang berjudul An Inconvenient Truth pada 2006.

Martti Ahtisaari - 2008

Penghargaan Nobel Perdamaian 2008 jatuh kepada mantan Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari. Ia dianugerahi penghargaan tersebut atas usahanya menyelesaikan konflik internasional pada beberapa benua selama lebih dari tiga dekade.

Ia ditunjuk sebagai Komisaris Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) ntuk Namibia pada 1977. Sejak saat itu, ia bekerja menangani banyak konflik.

Setelah masa jabatannya habis sebagai presiden, yakni sejak 1994 hingga 2000, ia membentuk Inisiatif Manajemen Krisis (Crisis Management Initiative – CMI), yang berdampak besar bagi perdamaian di Aceh pada 2005.

Barack Obama - 2009

Presiden Amerika Serikat saat ini, Barack Obama, menjadi salah satu nama yang menerima penghargaan ini.

Ia dianugerahi Penghargaan Nobel Perdamaian atas usahanya dalam memperkuat diplomasi internasional serta kerja sama antara masyarakat.

Obama mendapat penghargaan tersebut saat ia menjabat sebagai presiden kurang dari 8 bulan. Pasalnya, sebelum pemilu, ia telah bergerak dalam kerja sama antar bangsa, etnis, agama, dan bahkan politik.

Ia juga dengan baik menjembatani kaum Muslim dan dunia Barat, yang sebelumnya tidak begitu baik lantaran stigma terorisme sejak tragedi 9/11 hadir di tengah masyarakat Amerika Serikat.

Liu Xiaobo - 2010

Pria kelahiran tahun 1955 ini mendapat Penghargaan Nobel Perdamaian atas perjuangannya yang tak henti dalam persoalan hak asasi manusia di Tiongkok.

Tak hanya itu, perjuangan yang ia lakukan pun bersih dari kekerasan.

Xiaobo tergabung dalam protes mahasiswa di Lapangan Tiananmen pada 1989. Hal itu membuatnya mendekam di bui selama 2 tahun.

Ia lalu pernah bekerja di kamp kerja paksa selama 3 tahun lantaran mengkritik sistem pemerintahan Tiongkok.

Ia turut memperjuangkan Pasal 35 dari Konstitusi Tiongkok, yang berisi mengenai hak masyarakat untuk bebas berpendapat, berkumpul, berserikat, dan kebebasan pers.

Pada 2008, ia menjadi salah satu penulis Charta 08, manifesto yang menganjurkan pergeseran sistem pemerintahan Tiongkok ke arah demokrasi. Pada Desember tahun tersebut, ia ditangkap dan setahun kemudian, dijatuhi hukuman 11 tahun penjara atas tindakannya itu.

Ellen Johnson Sirleaf, Leymah Gbowee, dan Tawakkol Karman - 2011

Ketiga wanita asal Liberia dan Yaman ini merupakan penerima Penghargaan Nobel Perdamaian 2011. Mereka dikenal sebagai pejuang tanpa kekerasan untuk keamanan wanita dan hak wanita untuk berpartisipasi penuh dalam pekerjaan menciptakan perdamaian.

Menurut ketiganya, demokrasi dan kedamaian di dunia tidak akan tercipta jika wanita tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan pria dalam memengaruhi perkembangan di seluruh level masyarakat.

Ellen Johnson Sirleaf merupakan presiden perempuan pertama Liberia yang dipilih secara demokratis. Leymah Gbowee bekerja untuk meningkatkan keterlibatan wanita di Afrika Barat setelah dan saat masa perang. 

Sedangkan Tawakkul Karman memiliki peran penting memperjuangkan hak wanita dan demokrasi serta kedamaian di Yaman.

Uni Eropa (European Union/EU) - 2012

Setelah lebih dari enam dekade berkontribusi memajukan perdamaian dan rekonsiliasi, demokrasi, dan hak asasi manusia di Eropa, akhirnya EU menerima Penghargaan Nobel Perdamaian 2012.

EU merepresentasikan persaudaraan dalam negara kebangsaan dan mengikuti kongres perdamaian, yang menjadi kriteria penerima Penghargaan Perdamaian.

Hadiah dari penghargaan ini didedikasikan oleh EU untuk anak-anak yang kurang beruntung dengan mengadakan proyek pendidikan darurat.

Organisasi Anti Senjata Kimia (Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons/OPCW) – 2013 

Penghargaan Nobel Perdamaian 2013 diterima oleh OPCW karena telah berusaha secara giat untuk mengurangi penggunaan senjata kimia. 

Sejak perang dunia pertama hingga kedua, senjata kimia digunakan dalam peperangan. Pada 1952, Konvensi Geneva melarang penggunaannya, tetapi tidak melarang produksi serta penyimpanan senjata kimia. Namun, penyalahgunaan tetap banyak terjadi.

Pada 1992-1993, konvensi yang baru pun melarang produksi dan penyimpanan senjata kimia ini. 

OPCW juga menyatakan kalau penggunaan senjata kimia adalah hal yang tabu di bawah hukum internasional. Dengan pemberian penghargaan ini, Komite juga sedang mencari cara untuk ikut berkontribusi mengurangi senjata kimia.

Kailash Satyarthi dan Malala Yousafzai – 2014 

Malala dan Kailash mendapatkan Penghargaan Nobel Perdamaian 2014 atas usaha mereka melawan penindasan terhadap anak dan pemuda dan memperjuangkan hak pendidikan anak.

Dengan penuh keberanian, Kailash Satyarthi telah beberapa kali melakukan protes dan demonstrasi yang fokus melawan eksploitasi anak-anak untuk keuntungan finansial. Dia juga ikut tergabung dalam perkembangan dari konvensi internasional mengenai hak anak. 

Berbeda dengan Malala, meskipun masih muda, dia telah melakukan banyak perjuangan untuk hak perempuan hingga pendidikan. Dia juga menjadi teladan kalau anak-anak dan pemuda juga bisa berkontribusi memperbaiki dunia. 

National Dialogue Quartet – 2015

Tahun lalu, Penghargaan Nobel Perdamaian diberikan kepada National Dialogue Quartet karena kontribusinya untuk menciptakan demokrasi yang plural di Tunisia dalam masa Revolusi Jasmine 2011. 

National Dialogue Quartet sendiri terdiri dari empat organisasi utama: Tunisian General Labour Union (UGTT), Tunisian Confederation of Industry, Trade and Handicrafts (UTICA), Tunisian Human Rights League (LTDH), dan Tunisian Order of Lawyers.

Organisasi-organisasi ini mewakili sektor dan nilai yang berbeda-beda di Tunisia: kehidupan kerja dan kesejahteraan, prinsip hukum dan hak asasi manusia. Namun, pemberian penghargaan diberikan kepada Quartet kesatuan organisasi-organisasi ini, bukan per masing-masing organisasi. —Rappler.com