Perang argumen warnai debat perdana Trump vs Clinton

DEBAT PERDANA. Kandidat dari Partai Republik, Donald Trump (kanan) menjabat tangan kandidat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton (kanan) usai menuntaskan debat perdana di Universitas Hofstra, New York pada Senin malam, 26 September waktu setempat. Foto oleh Paul J. Richards/AFP

DEBAT PERDANA. Kandidat dari Partai Republik, Donald Trump (kanan) menjabat tangan kandidat dari Partai Demokrat, Hillary Clinton (kanan) usai menuntaskan debat perdana di Universitas Hofstra, New York pada Senin malam, 26 September waktu setempat. Foto oleh Paul J.

Richards/AFP

JAKARTA, Indonesia - Dua kandidat Presiden Amerika Serikat, Hillary Clinton dan Donald Trump akhirnya bertemu dalam debat perdana yang digelar pada Senin malam, 26 September waktu setempat (Selasa pagi, 27 September waktu Indonesia) di Universitas Hofstra, Hempstead, New York. Tidak dapat dihindari jika keduanya kemudian saling melemparkan sindirian dan berdebat mengenai argumen masing-masing.

Dipandu presenter berita televisi NBC, Lester Holt, debat berjalan selama 90 menit dan terbagi ke dalam 3 tema besar yakni “arah Amerika Serikat”, “pencapaian kesejahteraan” dan “keamanan Amerika Serikat”. Di luar dugaan publik, Clinton melemparkan beberapa argumen yang langsung menohok Trump agar bisa meyakinkan para pemilih Negeri Paman Sam.

“Kamu hidup di dalam realita dan kehidupanmu sendiri,” ujar perempuan berusia 68 tahun yang diusung oleh Partai Demokrat itu.

Clinton menuding Trump menjalani karir politik didasari kebohongan bernada rasis, salah satunya ketika menyampaikan teori konspirasi dan mempertanyakan status kewarganegaraan Presiden Barack Obama. Trump ketika itu mendukung agar Obama menunjukkan sertifikat kelahirannya untuk memastikan bahwa dia benar-benar warga AS.

Sementara, bagi Trump tantangan terberat yakni bagaimana agar dia terlihat meyakinkan untuk bisa melangkah ke ruang Oval di Gedung Putih. Salah satu cara yang dia tempuh yakni dengan mengganti warna dasinya dari merah yang biasa dia pakai menjadi biru.

Tetapi, dalam sesi perdebatan tadi, Trump juga terlihat mudah tersinggung dan kerap menginterupsi Clinton dengan pernyataan tajam.

Biliuner berusia 70 tahun itu menyebut Clinton sebagai perempuan tipikal politisi pada umumnya yang hanya mampu berbicara dan tidak ada aksi nyata.

“Terdengar bagus, tetapi sebenarnya tidak efektif dan berhasil,” kata Trump.

Di mata Trump, politisi seperti Clinton lah yang menyebabkan banyak warga Negeri Paman Sam kehilangan lapangan pekerjaan. Kini, lapangan pekerjaan justru banyak dikuasai Meksiko dan Tiongkok. Itu semua disebabkan kesepakatan perdagangan yang buruk ketika Clinton masih berkuasa menjadi Menteri Luar Negeri AS.

“Negeri kita menderita karena orang-orang seperti mantan Menlu Clinton yang telah membuat keputusan buruk dalam hal lapangan pekerjaan dan berakhir pada situasi saat ini,” ujar Trump.

Dia justru mempertanyakan efektivitas kebijakan Clinton yang akan menaikan pajak bagi para pengusaha dan orang kaya di AS.

“Anda telah melakukan ini selama 30 tahun terakhir. Kenapa Anda baru terpikir solusi seperti ini sekarang? Selama 30 tahun, Anda telah melakukannya,” kata Trump.

Tidak mau kalah, Clinton merespons dengan menyebut semua usaha yang dimiliki oleh Trump sebenarnya hanya skala kecil. Clinton menuntut agar Trump segera melaporkan pajaknya agar sesuai dengan aturan pemilu.

Trump menjawabnya dengan menyebut dia akan melaporkan pajaknya, jika Clinton bersedia mengungkap 33 ribu surat elektronik yang telah dihapusnya. Nama Clinton memang terseret dalam skandal bocornya isi surat elektronik lantaran menggunakan server e-mail pribadi ketika masih menjadi Menlu.

Pertunjukkan politik

Debat perdana ini menjadi penting bagi para pemilih untuk menentukan apakah Clinton benar-benar dapat membuat sejarah dengan menjadi Presiden perempuan pertama AS atau kah akan menjadi kekecewaan terbesar publik ketika Trump yang akhirnya duduk di kursi kepresidenan. Kemenangan Trump mewakili Partai Republik menjadi sesuatu yang tidak diprediksi.

Saat mogul real estate itu meluncurkan kampanyenya di bulan Juni 2015, tidak ada yang bersedia mendukungnya. Bahkan, Trump kerap menerima makian dari publik.

Tetapi, kini dia memiliki kesempatan nyata untuk diangkat sumpah menjadi Presiden ke-45 AS pada 20 Januari 2017. Enam pekan menjelang pemilu menyebabkan polling di antara keduanya semakin menghangat dengan selisih yang ketat.

Kelemahan terbesar Trump yakni adanya tuduhan bahwa dia lemah dalam penguasaan kebijakan. Oleh sebab itu, dia berusaha mengimbangi dengan kerap menuding Clinton hanya membuat kebijakan yang tidak efektif di Timur Tengah saat dia masih menjadi Menlu.

“Benar-benar sebuah kekecauan, di bawah arahan Anda, bahkan dalam skala besar,” kata Trump.

Bahkan, Trump menyebut Clinton gagal membendung kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).

“Ketika ISIS masih baru lahir, Clinton ada di sana menjadi Menlu. Sekarang, ISIS sudah menyebar di 30 negara. Saya ragu dia bisa memberantasnya,” ujar Trump.

Tetapi, ketika ditantang balik oleh Clinton untuk mengungkap strateginya dalam menghadapi ISIS, Trump bersikeras tidak ingin menyampaikannya.

“Jika dia mengkritik kebijakan yang kami buat, seharusnya dia bisa memberikan alternatif yang lain,” kata Clinton.

Bagi Clinton, yang dianggap sebagai kandidat presiden yang sesuai sejak George Bush senior atau Dwight Eisenhower, memiliki keuntungan lebih dan posisi yang lebih kuat. Sayangnya, dia tetap dianggap tidak populer. Hanya 40 persen pemilih saja yang berpihak kepadanya.

Padahal, ketika Obama yang maju sebagai kandidat Presiden dalam dua periode pemilu sebelumnya, para pemilih berbondong-bondong ikut serta. Mereka datang dari beragam latar belakang, mulai dari kaum muda, kulit hitam, komunitas Latin, dan Asia.

Maka, Clinton harus berupaya keras agar bisa menyamai tingkat antusiasme tersebut. Berdasarkan data yang ada, hanya 47 persen pemilih yang berusia 18 hingga 34 tahun yang mengatakan akan ikut dalam pemilu tahun ini. Angka tersebut menurun drastis ketika Obama terpilih, di mana jumlah pemilih yang muncul mencapai 74 persen.

Debat kedua kandidat masih tersisa dua sesi yakni pada tanggal 9 Oktober dan 19 Oktober. Sementara, pada tanggal 4 Oktober, 2 kandidat Wakil Presiden ikut mengikuti sesi debat terbuka. 

Bagaimana menurut kalian debat perdana antara Trump melawan Clinton tadi? Silahkan tinggalkan pendapat kalian di kolom komentar! - dengan laporan AFP/Rappler.com