Sopir transportasi umum kembali unjuk rasa

JAKARTA, Indonesia – Para pengemudi angkutan umum yang tergabung dalam Persatuan Pengemudi Angkutan Darat (PPAD) kembali menggelar unjuk rasa hari ini. Mereka masih memprotes keberadaan transportasi berbasis online seperti Grab Car dan Uber.

Konsentrasi massa terpecah ke dua titik, yakni gedung Balai Kota DKI Jakarta dan gedung Dewan Perwakilan Rakyat. Sopir angkutan kota, KWK, dan Bajaj berkumpul di titik pertama; sementara sopir taksi dari pelbagai perusahaan beraksi di titik kedua.

Menurut Laode Djeni Hasmar selaku koordinator lapangan dan ketua umum Koperasi Wahana Kalpika (KWK) Jakarta, keberadaan transportasi online melanggar undang-undang (UU). “Sudah ilegal, mereka juga menggerus pendapatan dan kesejahteraan kami,” kata dia saat menyampaikan pendapat di depan gedung Balai Kota.

Sejak kemunculan jasa transportasi baru ini, 80 persen dari 120 ribu sopir angkutan umum terancam kesejahteraannya. Pendapatan mereka bisa berkurang hingga setengah karena penumpang direbut oleh moda transportasi baru ini.

"Bagaimanapun juga kami-kami ini punya istri, anak, dan keluarga yang harus diberi makan. Ini urusan perut," kata dia.

Sulit mendapat 20 ribu

Budiman, sopir KWK yang biasa beroperasi di daerah Jakarta Barat, mengakui pendapatannya memang menurun drastis. Pria berusia sekitar 30 tahun ini sehari-hari menempuh trayek dari Cengkareng-Citraland dengan KWK B14.

“Dulu saya bisa bawa pulang Rp 150-200 ribu sehari,” kata Budimana yang mengenakan seragam kaus berkerah warna biru langit dan celana jeans. Sekarang angka tersebut berkurang drastis.

Ia mengatakan, untuk memperoleh Rp 20.000 saja ia harus bersusah payah. Pendapatan tertingginya sekarang hanya di kisaran Rp 75.000 sampai Rp 90.000. 

“Mentok-mentok Rp 120,000,” ujarnya. Masalah ini tak hanya menimpa Budiman, juga puluhan ribu sopir lainnya.

Kekhawatiran akan terus berkurangnya pendapatan ini membuat Budiman dan kawan-kawannya memutuskan untuk turun ke jalan. “Kami ikhlas sehari gak kerja untuk demo,” kata dia.

Hal yang membuat para sopir semakin berang adalah fakta kalau transportasi ini ternyata melanggar UU nomor Undang-undang (UU) Lalu Lintas Nomor 2 Tahun 2009 tentang Angkutan Umum dan Jalan Raya. Di situ tertulis, kendaraan yang berfungsi sebagai angkutan umum harus berpelat kuning. Sementara kendaraan yang digunakan oleh Uber dan Grab Car berpelat hitam, atau kendaraan untuk penggunaan pribadi.

“Mereka ilegal tetapi mengeruk untung banyak. Sedangkan kami yang sudah sesuai aturan malah kesulitan,” kata Laode. Ia menuntut pemerintah untuk cepat menuntaskan masalah ini.

Berjanji permudah izin dan kesejahteraan

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah menyampaikan tanggapan atas tuntutan demonstran di depan gedung Balai Kota, Jakarta Pusat.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah menyampaikan tanggapan atas tuntutan demonstran di depan gedung Balai Kota, Jakarta Pusat.

Massa yang berdemo di Balai Kota diterima oleh Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Andri Yansyah. Ia mengatakan aspirasi dan tuntutan mereka akan disampaikan kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama.

“Pak Gubernur menjanjikan akan menyediakan sarana transportasi umum yang aman dan tertib, juga menjamin kesejahteraan sopir-sopirnya,” kata Andri, yang disambut sorakan pendemo. Salah satu janji yang ia berikan adalah pemudahan perpanjangan izin trayek angkutan; dan membuat standar acuan kendaraan layak pakai.

Namun, terkait dengan tuntutan penghapusan jasa transportasi online, ia mengatakan tak bisa berbuat apa-apa. “Itu urusan Kementerian Perhubungan. Mereka akan mencari solusi untuk mengatasi masalah ini,” kata dia.

Laode mengaku puas mendengar tanggapan ini, dan langsung membubarkan demonstrasi. Ia mengatakan tak akan mengadakan unjuk rasa terkait masalah ini lagi. “Selanjutnya kami akan berdialog langsung dengan pemerintah. Tak ada lagi demonstras,” kata dia.

Pantauan Rappler, aksi unjuk rasa ini berlangsung damai dan tertib, mulai dari awal hingga akhir. Peserta mengikuti arahan dari polisi penjaga, dan tak ada yang mencoba memicu perkelahian. Bahkan, beberapa kali mereka mengajak polisi untuk ikut bergoyang mengikuti alunan musik dangdut dari pengeras suara.

Go-Jek beroperasi sembunyi-sembunyi

Sementara itu, para sopir jasa transportasi online hari ini beroperasi sembunyi-sembunyi. Banyak di antara mereka yang sengaja meninggalkan atribut perusahaan untuk menyaru dengan ojek biasa.

Heru (bukan nama sebenarnya) termasuk salah satu sopir Go-Jek yang mengikuti cara ini. Sepanjang perjalanan dari Medan Merdeka Selatan ke Sarinah, ia menceritakan peringatan dan taktik kawan-kawannya.

“Kemarin sama perusahaan sudah diberitahu jalur-jalur demo yang harus dihindari,” kata dia. Hari itu, ia tak mengenakan jaket Go-Jek, tapi sengaja memakai jaket kulit hitam dan membawa helm berwarna pink polos. Rekannya, menurut dia, juga melakukan hal serupa.

Ponsel pun sengaja ia taruh di saku celana, tak dipasang di motor seperti biasa. Kebiasaan itu dapat menjadikan dirinya sasaran amuk demonstran. “Saya juga cuma berani ambil order yang dekat-dekat saja,” kata dia.

Setibanya di Sarinah, Heru menemui kawan-kawannya yang juga tak berpakaian seragam. “Pada gak berani ngambil penumpang,” kata dia sembari tersenyum miris.

Ia mengaku tak mengerti mengapa demonstrasi ini harus menggunakan kekerasan dan merepotkan banyak pihak. Menurut dia, sebaiknya para pengemudi taksi dan lainnya mulai menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman dan teknologi. -Rappler.com

BACA JUGA: