Buntut kemacetan parah, Dirjen Perhubungan Darat mengundurkan diri

 

Kemacetan panjang di Jakarta (ilustrasi). Foto oleh Mast Irham/EPA

Kemacetan panjang di Jakarta (ilustrasi).

Foto oleh Mast Irham/EPA

JAKARTA, Indonesia—Direktur Jendral Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Djoko Sasono resmi mengundurkan diri, Sabtu malam ini, 26 Desember. 

Pengunduran diri Djoko dilakukan dengan mengundang media di kantornya. "Saya merasa yang paling bertanggung jawab atasi kemacetan. Dengan ini saya menyatakan mundur dari Dirjen Perhubungan Darat," ujar Djoko. 

Rappler mengkonfirmasi berita ini pada juru bicara Kementerian Perhubungan JA Barata. "Benar, dirjen mengundurkan diri karena dia merasa bertanggung jawab atas macet di malam Natal kemarin, atas perencanaan yang tidak matang," kata Barata. 

Kemacetan parah terjadi di tol Cikampek-Purwakarta-Padalarang (Cipularang) di jalur Jakarta menuju Bandung. Keluhan tentang macet menjelang libur Natal ini memenuhi lini masa di media sosial.

Banyak yang terjebak macet hingga berjam-jam karena antrian kendaraan yang mengular hingga puluhan kilometer. Salah satunya adalah artis dan presenter Ruben Onsu yang hendak merasakan Natal bersama keluarga di Kota Bandung, Jawa Barat.

Ia berangkat dari Jakarta pada pukul 12:00 WIB, namun hingga Kamis malam, 24 Desember, Ruben yang ditemani asisten dan sopirnya itu masih terjebak macet di Karawang, Jawa Barat.

Tentang kemacetan ini, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulis Abadi mengatakan, kemacetan yang mencapai puluhan jam itu telah merugikan konsumen jalan tol, baik kerugian materiil dan atau kerugian immateriil.

"Secara makro, kenapa pemerintah dan operator jalan tol bisa dituntut ganti rugi, karena pemerintah terlambat mengantisipasi lonjakan arus mudik Natal, yang berbarengan dengan arus mudik liburan, dan Maulid Nabi," katanya.

Akibat keterlambatan itu, menurut dia, pemerintah dinilai tidak menyiapkan sumber daya yang cukup, baik petugas Polri, petugas tol, dan petugas lapangan lainnya.

Selain itu, Tulus menambahkan, operator jalan tol dan polisi tidak menertibkan truk-truk barang yang mengambil jalur tengah, sehingga makin memperparah kemacetan.

"Seharusnya truk-truk barang digiring untuk mengambil lajur kiri dan yang membandel bisa diberikan tilang oleh kepolisian," katanya. 

Tulus menyebutkan bentuk-bentuk kerugian konsumen selama macet di jalan tol adalah kerugian terhadap tarif tol yang dibayarkan. 

"Seharusnya membayar tol adalah mendapatkan benefit atas kelancaran lalu-lintas, bukan malah kemacetan," katanya. 

Kedua, lanjut dia, kerugian terhadap bahan bakar selama macet. "Puluhan liter bahan bakar terbakar percuma selama macet," katanya.

Penyelenggara jasa tol PT Jasa Marga mengatakan puncak arus balik libur Natal dan tahun baru diperkirakan terjadi, Sabtu, 2 Januari 2016.

"Kami sudah bekerja sama dengan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan rekayasa lalu lintas seperti contra flow, buka tutup tempat peristirahatan di lokasi rawan macet, prioritas pembukaan lajur. Hal-hal itu akan ditingkatkan pada arus balik nanti," kata Kepala Hubungan Masyarakat PT Jasa Marga Wasta Gunadi, Jumat. —dengan laporan dari Yuli Saputra (Bandung)/Rappler.com

BACA JUGA: