Jerman vs Polandia: Menguji fokus Sang ‘Turnier-Mannschaft’

JAKARTA, Indonesia – Kepercayaan diri Jerman saat ini hampir mirip dengan situasi setelah mereka  menjuarai Piala Dunia 1990. Dengan langkah yakin mereka menginjakkan kaki di Piala Eropa 1992 alias Euro 1992.

Memang, dalam uji coba sebelum bertanding di Swiss—negara yang menjadi tuan rumah ajang empat tahunan Eropa tersebut—Jerman kalah 0-1 lawan Italia dan seri 1-1 lawan Cekoslovakia.

Tim yang masih diperkuat striker Karl-Heinz Riedle itu hanya menang tipis atas Turki 1-0 dan kembali seri melawan Irlandia Utara 1-1.

Namun, tim panser tersebut masih dijagokan. “Karena Jerman adalah sebuah Turnier-Mannschaft,” kata veteran Piala Dunia Georg Schwarzenbeck seperti ditulis dalam buku kumpulan catatan sepak bola Romo Sindhunata berjudul Bola di Balik Bulan.

Turnier-Mannschaft berarti “tim turnamen”. Artinya, Jerman boleh tak sempurna di fase kualifikasi atau penyisihan. Namun, saat sudah tampil di turnamen, mereka akan tampil sebagaimana layaknya tim favorit juara.

Situasi yang sama juga dialami Jerman era “kekinian”. Mereka datang ke Euro 2016 dengan status juara Piala Dunia 2014. Sebelum memasuki Euro 2016, mereka kalah melawan Slovakia 1-3, Inggris 2-3, dan Perancis 0-2 di ajang uji coba.

Namun, begitu turnamen dimulai, mereka adalah satu-satunya dari tiga tim unggulan yang tampil meyakinkan di laga perdana. Pasukan Joachim Loew itu membabat Ukraina 2-0.

Bandingkan dengan dua favorit juara lainnya. Perancis harus mati-matian mengalahkan Rumania 2-1 sedangkan Spanyol hanya bisa menang tipis 1-0 atas Republik Ceko.

Polandia sangat mengenal Jerman

Namun, gelar juara tak ditentukan hanya dalam satu laga. Jerman harus menghadapi musuh kedua di grup C melawan Polandia pada Jumat, 17 Juni, pukul 02.00 WIB.

Polandia memang selalu inferior di depan Jerman. Robert Lewandowski dan kawan-kawan tak pernah menang dalam 18 laga.

Tapi, di kualifikasi Euro 2016, tim berjuluk Bialo-czerwoni (tim merah putih) tersebut mengakhiri kutukan dalam 18 laga di Warsawa. Mereka mengalahkan Jerman 2-0 dengan gol dari Arkadiusz Milik dan Sebastian Mila.

Karena itu, dalam laga keduanya, Jerman tak bisa terlalu percaya diri. Polandia termasuk tim yang sangat mengenal tetangganya itu. Lewandowski sudah bermain selama 6 tahun di Jerman. Begitu juga Milik yang sempat bermain untuk Bayer Leverkusen sebelum akhirnya hijrah ke Ajax Amsterdam secara permanen setelah masa pinjamannya pada musim 2014/2015.

Dari Borussia Dortmund, tentunya kita tidak bisa melupakan duo sayap kanan Jakub 'Kuba' Blaszczykowski dan Lukasz Piszczek. Kuba sudah berada di Dortmund sejak 2007, dan Piszczek memulai karirnya di Bundesliga di Hertha Berlin pada 2004 sebelum menyusul kawannya tersebut pada tahun 2010.

Tidak hanya para pemain Bundesliga, talenta muda Polandia seperti Bartosz Kapustka yang bermain untuk klub Ekstraklasa, Cracovia juga patut diperhatikan. Dalam laga lawan Irlandia Utara, Rio Ferdinand bahkan sempat mencuit ini:

Kapustka - 19yrs old....very clever, composed and skillful player. Impressive. — Rio Ferdinand (@rioferdy5) June 12, 2016

Milik dan Lewandowski terbukti merupakan duet yang saling melengkapi. Jika Lewy--sebutan Lewandowski--kerap berposisi sebagai target man, Milik lebih suka bermain lebih ke dalam. Dia kerap memposisikan diri sebagai second striker.

Karena itu, duet dua pemain tersebut wajib diwaspadai Loew. Pelatih yang menukangi Jerman sejak 2008 itu mengakui bahwa bentrok kali ini adalah penentuan juara dan runner up grup C.

“Polandia adalah tim yang kuat dan kompak. Mereka sangat berbahaya dalam serangan balik. Tapi, kami juga tahu beberapa dari mereka bermain di Bundesliga,” kata Loew seperti dikutip Daily Mail.

Sayang, beberapa pemain utama kedua tim masih belum bisa diturunkan. Bek tangguh Mats Hummels masih menjalani masa recovery dari cedera. Begitu juga kiper Polandia Wojciech Szczesny yang cedera setelah laga perdana Polandia.

Tapi, kondisi Jerman masih lebih mendingan. Posisi Hummels masih bisa digantikan Shkodran Mustafi yang terbukti tangguh bersama Jerome Boateng. Duet mereka solid saat melawan Ukraina.

Masalah besar bagi Polandia karena Szczesny jelas lebih baik dibanding kiper penggantinya, Lukasz Fabianski.

Meski situasi tersebut membuat mereka berada di atas angin, Loew tetap menganggap lawan adalah tim yang menyulitkan. “Mereka fleksibel dan memiliki kualitas individual (lebih baik) daripada Ukraina,” katanya.

Memang, meski julukan Turnier-Mannschaft sudah menempel sejak Euro 1992—atau bahkan jauh sebelumnya—Jerman tak bisa lantas berleha-leha.

Saat sebutan itu muncul—seperti dikutip Romo Sindhunata—pada Euro 1992, Jerman justru tak bisa mencapai final. Mereka hanya mampu merebut posisi ketiga.

Gelar juara pun melayang ke Denmark.

Tentu, tim berjuluk Die Mannschaft tersebut tak ingin mengulangi kisah pilu 24 tahun lalu tersebut.—Rappler.com

BACA JUGA: