Evaluasi mudik, mengapa minta maaf saja tidak cukup?

JAKARTA, Indonesia - Lebaran tahun ini memang ada dalam suasana mencekam. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan jalur mudik tahun ini akan diwarnai bencana alam. Entah banjir, longsor, maupun puting beliung.

Namun, begitu hari-H tiba, ternyata bukan alam yang menjadi penyebab korban jiwa berjatuhan. Kecelakaan dan kemacetan yang menyebabkan ratusan jiwa tidak sampai di kampung halaman masing-masing. Salah satu yang santer dibicarakan adalah macet parah jelang pintu keluar Tol Pejagan-Brebes, yakni Brebes Timur (Brexit) yang memakan korban 17 jiwa.

Wakil Presiden Jusuf Kalla, menyampaikan permintaan maaf atas tragedi macet mudik tersebut. “Jadi pertama, pemerintah minta maaf, menyesalkan ini semua. Saya kira sudah beberapa pejabat minta maaf,” kata dia pada Selasa, 12 Juli 2016 lalu.

Kejadian ini memang memantik kemarahan masyarakat terkait pengelolaan jalur mudik yang dinilai kacau.

Sebelum JK, Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan sudah lebih dulu meminta maaf.

Menko Polhukam Luhut Pandjaitan minta maaf kepada masyarakat atas jatuhnya korban jiwa selama tanggal 3-5 Juli lalu pic.twitter.com/yA39Xx4FvW — Kemenko Polhukam RI (@PolhukamRI) July 10, 2016

Dari rest area hingga volume kendaraan

Mudik lebaran, selain membawa kebahagiaan, juga bisa menimbulkan rasa was-was lantaran macet dan ancaman kecelakaan. Belum lagi kalau strategi pemerintah ternyata gagal mengantisipasi puluhan juta pemudik hingga berbuntut kemacetan puluhan jam atau kecelakaan.

Kepala Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) Herry Trisaputra Zuna mengatakan kalau kemacetan luar biasa di gerbang tol 'Brexit' sendiri terjadi karena beberapa hal. "Jalan keluar setelah Tol Brebes Timur terlalu sempit untuk volume kendaraan yang membludak saat Lebaran," kata dia pada Senin, 11 Juli 2016 lalu.

Pergerakan yang tersendat itu ditambah lagi dengan antrean masuk ke rest area yang juga mengular panjang. Kejadian ini dapat ditemui sepanjang jalan Tol Cikopo-Palimanan (Cipali). Selain itu, ada juga persoalan bahan bakar.

Pada rest area besar, selain orang beristirahat, antrean juga disebabkan kendaraan yang hendak mengisi ulang BBM. Karena tak semua mobil bisa masuk area, maka ada yang mengantre hingga ke ruas jalan tol dan menyebabkan arus mandek.

Masalah lainnya adalah pengguna bahu jalan yang juga menimbulkan macet dan mempersulit bantuan darurat. Herry mengatakan, saat pendistribusian BBM kemasan bagi mobil di jalan, salah satu hal yang mempersulit adalah bahu jalan yang tak dapat digunakan.

Namun, ia membantah bila dikatakan pemerintah tidak siap menghadapi arus mudik lebaran. Antisipasi dan pengamanan jalur Lebaran sudah sesuai dengan Standard Operation Procedure (SOP). Termasuk rekayasa lalu lintas berupa contra flow, pengalihan arus lalu lintas, dan juga buka tutup gerbang tol.

Cukupkah meminta maaf?

Ketua Bidang Advokasi Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Darmaningtyas mengatakan sebenarnya tragedi ini bisa dihindari. Lonjakan jumlah pengemudi yang luar biasa tentu wajar, mengingat jalur dari Tol Cipali sampai Brebes Timur membuat perjalanan Jakarta-Brebes hanya 4 jam saja.

"Itu ibarat undangan bagi pengguna mobil pribadi untuk melintasinya. Semua pemudik berasumsi sama, sehingga tidak berpikir jalan lain," kata dia saat dihubungi Rappler.

Padahal, jumlah gerbang tol keluar di Brebes hanya sedikit, belum lagi ditambah proses pembayaran yang lamban. Setelah keluar dari Brexit, mobil langsung bertemu dengan pertigaan arteri Pantura yang jalannya sempit dan traffic light (TL) diatur dalam kondisi normal, yaitu hijau/merah dari arah tol maupun dari arah Jakarta dan Semarang sama lamanya.

"Semestinya warna hijau di TL dari arah pintu tol lebih panjang karena kendaraan yang keluar dari tol lebih banyak dibandingkan yang dari arah Semarang/Jakarta," kata dia.

Dampak dari kemacetan di TL itu mengular sampai di pintu tol dan kemudian mengular sampai ke dalam jalan tol itu sendiri. "Kalau masalah arteri dan TL ini bisa diatasi, mungkin kondisinya sedikit lebih baik," kata dia.

Ia kemudian menyoroti beberapa poin yang harus diperhatikan pemerintah. Pertama, pemeliharaan jalan arteri supaya tetap layak dilewati, sehingga masyarakat tidak melulu 'kabur' ke jalan tol.

Kedua, sosialisasi rencana operasi angkutan lebaran supaya tak terfokus pada satu jalur saja. Tahun ini, Darmaningtyas menilai perhatian hanya pada Tol Cipali saja, sehingga masyarakat mengabaikan jalur Pantura, Tengah, dan Selatan.

Beban jalan juga tidak terbagi lancar. Misalnya, semua angkutan umum dan sepeda motor melalui jalur Pantura, Tengah, atau Selatan, sedangkan tol hanya untuk mobil pribadi saja. Akhirnya terjadi ketimpangan, karena jalan tol yang bayar lumpuh total, sedangkan jalan arteri yang gratis justru lancar.

Pengelola tol juga dinilai kurang taktis menghadapi kelebihan volume kendaraan. " Terlihat dari terlambatnya menerapkan kebijakan buka tutup di ujung masuk jalan tol dan tidak adanya pengumuman berjalan ke arah Jakarta mengenai panjang kemacetan," kata dia.

Bila diumumkan, para pemudik bisa tahu kondisi lalu lintas di jalan tol, sehingga bisa menghindarinya. Ketika kemacetan di tol sudah mencapai lebih dari 5 kilometer, di ujung masuk sudah diterapkan kebijakan buka tutup. "Pintu baru dibuka lagi setelah kemacetan terurai. Ini yang tidak dilakukan oleh pengelola jalan tol," kata dia.

Ia juga menyarankan masyarakat untuk memaksimalkan mudik dengan angkutan umum guna menghindari pelimpahan mobil pribadi.

Mengambil pelajaran

Sekretaris Jenderal Kementerian Perhubungan Sugiharjo mengatakan permintaan maaf dari JK sudah menjadi pernyataan resmi pemerintah.

"Kami sendiri, instansi di bawahnya, tinggal meningkatkan pelayanan lebih baik serta bagaimana untuk masa yang akan datang," kata dia di kantornya pada Rabu, 13 Juli. Kementerian Perhubungan sendiri akan melakukan rapat evaluasi terkait arus mudik Lebaran 2016 pada 18 Juli mendatang.

Ia mengatakan akan melakukan perbaikan pada titik-titik masalah seperti infrastruktur, sarana dan prasarana, juga jalur sebidang (JPL) yang menjadi sumber macet selepas dari jalan tol. Persiapan ini untuk mudik tahun-tahun selanjutnya juga.

Pemerintah berjanji untuk menuntaskan semua masalah secepat mungkin. Bila tidak, maka permintaan maaf saja tidak akan cukup pada lebaran tahun depan. -Rappler.com

BACA JUGA: