Tujuh film animasi horor untuk anak-anak


Momen Halloween biasanya dinikmati banyak orang dengan nonton film-film seram. Tetapi, tak hanya orang dewasa saja yang suka ditakut-takuti. Anak-anak pun bisa menikmati film-film dengan sentuhan horor. Dari deretan film animasi, ada beberapa judul menarik yang punya elemen film horor, tapi tidak terlalu menakutkan untuk penonton yang masih kecil. Kalau Anda mencari tontonan yang bisa disaksikan bersama anak Anda di akhir bulan ini, beberapa judul berikut bisa dijadikan pilihan.

1. The Nightmare Before Christmas (1993)

Produksi film animasi stop motion memang punya reputasi yang bisa membuat siapapun gentar. Meski ide cerita The Nightmare Before Christmas datang dari Tim Burton, ia sendiri tak bisa membayangkan kalau harus berada di set begitu lama. Oleh karena itu, film ini akhirnya disutradarai oleh Henry Selick. Kecemasan Burton masuk akal, karena film ini ternyata butuh waktu sekitar 3,5 tahun untuk diselesaikan, dengan proses animasi selama 1,5 tahun, dan semuanya dilakukan di 20 sound stage yang berbeda. Ada 120 kru yang bekerja di film ini, dan bujetnya hanya $18 juta. Tapi, kerja keras Selick dan krunya membuahkan hasil manis. Sampai saat ini, The Nightmare Before Christmas masih merupakan salah satu film animasi yang paling dikenal orang.

Sinopsis: Jack Skellington (Chris Sarandon) yang merupakan penghuni Halloween Town merasa bosan dengan penyelenggaraan Halloween yang monoton setiap tahunnya. Saat sedang berjalan-jalan di hutan, Jack tanpa sengaja menemukan pintu ke Christmas Town. Jack takjub dengan kehidupan di Christmas Town meskipun ia tidak terlalu memahami konsep perayaan Natal. Jack yang bingung dan salah kaprah akhirnya mengajak para penduduk kotanya untuk mengambil alih Christmas Town agar mereka dapat mencoba untuk membuat perayaan Natal menjadi lebih baik. Tetapi, tindakan Jack justru berujung kekacauan.

Rating: PG for some scary images.

2. Coraline (2009)


Terkesan dengan karya-karya Henry Selick, penulis buku Coraline, Neil Gaiman, mengirimkan manuskripnya pada sang sutradara 1,5 tahun sebelum buku tersebut diterbitkan. Tertarik dengan ceritanya, Selick hanya butuh waktu satu minggu untuk memutuskan bahwa ia akan membuat film Coraline—film animasi stop motion pertama yang sepenuhnya disyuting dalam format 3D.

Sinopsis: Coraline Jones (Dakota Fanning) pindah ke kota baru bersama kedua orang tuanya. Sebenarnya, ia tidak suka harus pindah ke rumah baru dan meninggalkan teman-temannya. Apalagi, orang tuanya yang sibuk juga kurang memperhatikan dirinya. Suatu malam, sebuah pintu kecil yang tersembunyi di rumah baru tersebut terbuka dan mengantarkannya ke sebuah dunia alternatif di mana semuanya terlihat sempurna, dan Coraline punya ayah dan ibu yang sangat menyayanginya. Coraline mulai berharap bahwa dunia asalnya bisa membahagiakannya seperti dunia misterius ini. Tetapi, dunia yang luar biasa ini menyimpan bahaya mengerikan bagi Coraline.

Rating: PG for thematic elements, scary images, some language and suggestive humor.

3. Monster House (2006)


Rumah hantu merupakan sesuatu yang sering diangkat dalam film horor. Tapi, dalam Monster House, rumah tersebut harus tampak benar-benar hidup dan tidak terlihat aneh. Untungnya, berkat kesuksesan motion capture yang diaplikasikan dalam film The Polar Express (2004), ImageMovers bisa membuat rumah dalam Monster House bergerak dengan bantuan mo-cap performer. Tapi tak hanya sampai di situ saja, penampilan para karakternya juga dibuat dengan cara yang sama. Memang pada waktu film ini dibuat, cara tersebut belum lazim digunakan. Tetapi, keputusan ini membuat produksinya berjalan jauh lebih cepat. Totalnya, syuting hanya berjalan selama 42 hari saja.

Sinopsis: Seorang anak bernama DJ Walters (Mitchel Musso) bertetangga dengan kakek pemarah bernama Horace Nebbercracker (Steve Buscemi) yang selalu murka kalau ada anak-anak yang tak sengaja memasuki halamannya tanpa izin. Suatu hari, setelah memergoki DJ berada di halaman rumahnya untuk mengambil mainan, Nebbercracker mengalami serangan jantung dan dibawa ke rumah sakit. Setelah menerima telepon misterius dari rumah Nebbercracker yang kosong, DJ yang merasa bersalah yakin bahwa ia sedang dihantui sang kakek. Tetapi, ketika DJ dan temannya menyelidiki rumah tersebut, mereka sadar bahwa rumah reyot milik Nebbercracker ternyata punya rahasia menakutkan.

Rating: PG for scary images and sequences, thematic elements, some crude humor and brief language.

4. Frankenweenie (2012)

Karena keterbatasan dana, Tim Burton hanya mampu untuk membuat Frankenweenie sebagai film pendek live action di tahun 1984. Tetapi, keinginannya untuk membuat kisah ini sebagai sebuah film panjang tak pernah redup. Ketika mendapatkan kesempatan, Burton akhirnya membuat cita-citanya jadi nyata dengan membuat Frankenweenie sebagai film animasi hitam putih panjang pertama yang pernah dibuat. Meski rumit, Burton memilih untuk membuat Frankenweenie dengan teknik stop motion karena hal ini merefleksikan kisah Frankenstein yang ingin diceritakannya—mengenai bagaimana sebuah benda mati dihidupkan dan memiliki nyawanya sendiri.

Sinopsis: Ketika anjingnya Sparky, mati dalam sebuah kecelakaan, seorang bocah bernama Victor Frankenstein (Charlie Tahan) menggunakan kecerdasannya untuk membuat mesin yang dapat menghidupkan sahabatnya itu. Tetapi, ketika Sparky ternyata mampu hidup kembali, Victor dengan susah payah berusaha menutupinya. Ketika rahasianya perlahan mulai diketahui orang dan mengakibatkan terjadinya kekacauan, Victor harus berusaha untuk mengatasi masalah ini sebelum ada yang jadi korban.

Rating: PG for thematic elements, scary images and action.

5. Wallace & Gromit: The Curse of the Were-Rabbit (2005)

Karakter Wallace dan Gromit berawal dari proyek kuliah yang dikerjakan oleh sang sutradara, Nick Park, sewaktu masih belajar di National Film and Television School di Inggris. Perlahan, seri ini jadi punya banyak penggemar dan juga meraih banyak penghargaan bergengsi. Wallace & Gromit: The Curse of the Were-Rabbit sendiri adalah film panjang pertama dalam seri ini. Sesuai dengan gaya studio Aardman Animations yang khas, film ini dibuat dengan plastiscine khusus yang dinamakan “Aard-mix.” Karena film ini bercerita tentang monster pemakan tanaman, detailnya pun dibuat dengan sangat serius. Selain menghasilkan 100 jenis dedaunan untuk menghasilkan tampilan pedesaan yang otentik, mereka juga harus membuat sekitar 700 miniatur tanaman dan buah untuk digunakan dalam ladang, rumah kaca, toko, dan adegan kompetisi buah-buahan terbesar.

Sinopsis: Wallace (Peter Sallis) dan anjingnya yang cerdas, Gromit, menjalankan bisnis pengendalian hama binatang bernama Anti-Pesto. Jasa mereka sangat dibutuhkan, apalagi kota tempat mereka tinggal segera akan mengadakan kompetisi buah dan sayur raksasa. Ketika Wallace kehabisan ruangan di rumahnya untuk tempat tinggal semua kelinci yang telah ditangkapnya, ia memutuskan untuk mencuci otak para binatang ini agar tidak makan sayuran lagi supaya mereka bisa dilepas dengan aman. Ketika terjadi kecelakaan kecil saat eksperimen mereka, Wallace dan Gromit tidak menyangka bahwa mereka telah menghidupkan sesosok monster pemangsa sayur yang akan meneror kota.

Rating: G

6. ParaNorman (2012)

ParaNorman merupakan salah satu contoh betapa detailnya film-film animasi keluaran Laika. Untuk membangun kota fiktif Blithe Hollow, mereka menggunakan 4000 foto yang diambil di New England, Massachusetts, sebagai referensi. Teknologi yang sudah lebih canggih sejak Coraline pun membuat mereka bisa membuat ekspresi wajah yang jauh lebih kompleks. Contohnya, adegan Norman sikat gigi di awal film dibuat dengan 150 wajah yang berbeda. Untuk membuat adegan satu detik, mereka kini bisa membuat 24 wajah yang berbeda untuk setiap frame.

Sinopsis: Norman Babcock (Kodi Smit-McPhee) bisa melihat hantu dan bicara dengan mereka. Tetapi, hanya teman sekolahnya, Neil (Tucker Albrizzi), saja yang percaya ia punya kemampuan itu. Ketika pamannya yang aneh memberi tahu Norman bahwa ia harus melakukan sebuah ritual penting demi keamanan kota mereka, ia memutuskan untuk melakukannya. Tetapi, ketika sesuatu yang tak direncanakan terjadi, kota mereka pun kembali berada di bawah kutukan seorang penyihir, dan zombie pun bangkit serta berkeliaran di kota. Hanya Norman yang dapat menghentikan kutukan ini, dan mengungkap rahasia pahit di balik teror yang telah lama menghantui kota Blithe Hollow.

Rating: PG for scary action and images, thematic elements, some rude humor and language.

7. Corpse Bride (2005)

Ada tragedi menyedihkan di balik film Corpse Bride yang bercerita mengenai wanita-wanita Yahudi yang dikubur bersama gaun pengantin mereka. Meski demikian, Anda tak perlu khawatir. Cerita rakyat Rusia dari abad ke-19 tersebut memang muram, tapi filmnya sendiri tidak segelap kisah yang jadi inspirasinya. Menurut Tim Burton, berbeda dengan The Nightmare Before Christmas yang dirancang dengan lebih matang, pembuatan Corpse Bride lebih organik dan mengalir. Sampai-sampai, Johnny Depp yang mengisi suara Victor Van Dort hanya punya persiapan 15 menit untuk menyiapkan karakternya sebelum ditodong Burton untuk ikut rekaman—dan ini dilakukan di tengah-tengah syuting Charlie and the Chocolate Factory (2005).

Sinopsis: Gugup karena harus menikahi seorang gadis bangsawan bernama Victoria Everglot (Emily Watson), Victor Van Dort (Johnny Depp) pergi berjalan-jalan ke hutan untuk menghapalkan janji pernikahannya. Ketika menemukan sebatang rating yang mencuat dari tanah, Victor menggunakannya untuk berlatih melingkarkan cincin kawinnya. Tapi, ranting tersebut ternyata adalah jari seorang gadis bernama Emily (Helena Bonham Carter) yang dibunuh dan dikuburkan di hutan. Victor tanpa sadar telah menikahi Emily yang kini bangkit dari kubur. Tapi, ia sebenarnya memendam perasaan pada Victoria. Victor pun harus mencari cara untuk keluar dari dunia orang mati dan membatalkan pernikahannya dengan Emily.

Rating: PG for some scary images and action, and brief mild language. —Rappler.com