Gajah Sumatera hadapi ancaman penyakit herpes

Uni Eropa meluncurkan film dokumenter kampanye penyelamatan gajah. Selain perburuan dan konflik, raksasa hutan ini juga terancam penyakit herpes. Foto oleh Ursula Florene/Rappler

Uni Eropa meluncurkan film dokumenter kampanye penyelamatan gajah. Selain perburuan dan konflik, raksasa hutan ini juga terancam penyakit herpes.

Foto oleh Ursula Florene/Rappler

JAKARTA, Indonesia — Nyawa gajah Sumatera di Indonesia tak hanya terancam oleh perburuan gading semata. Tapi, penyakit herpes juga menjadi momok yang mematikan. 

Penyakit ini disebabkan oleh elephant endotheliotropic herpes virus (EEHV).

"(Virus ini) bisa menyebabkan pendarahan hebat dan kematian, terutama bagi gajah muda," kata Wahdi Azmi dari Conservation Response Unit (CRU) Tangkahan dalam konferensi pers di Jakarta pada Minggu, 19 Juni.

Saat ini, perhatian pemerintah Indonesia dan Uni Eropa tengah berfokus pada EEHV. Dalam dua tahun terakhir ini, sudah ada 3 ekor bayi gajah di Tangkahan, Sumatera Utara, yang menjadi korban. Padahal, kelahiran bayi gajah sangat sulit dan ditunggu-tunggu.

Virus ini menyasar gajah berusia 1-8 tahun, dan waktu kematiannya cenderung cepat; hanya 1-2 hari setelah gejala penyakit seperti pendarahan timbul. 

Dana riset vaksin

Hingga saat ini, belum ada vaksin untuk EEHV, padahal penanganan dini sangatlah penting.

"Tentu saja bukan hal aneh kalau belum ada obatnya. Ini penyakit binatang, bukan hal komersil bagi perusahaan obat," kata Duta Besar Uni Eropa untuk Indonesia, Vincent Guerend.

Uni Eropa telah mengalokasikan dana bagi perusahaan medis Indonesia untuk membuat penangkal virus EEHV. Namun, Guerend enggan menyebutkan besarannya.

Direktur Jenderal Sumber Daya Alam dan Ekosistem Konservasi dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Tachrir Fathoni, mengatakan pemerintah juga tengah mengupayakan perlindungan terhadap gajah.

"Kita sudah dengar dari ahlinya kalau sampai saat ini, obatnya masih belum bisa dibuat. Perlu riset dan bantuan dana. Saya kira termasuk juga bagaimana kita bisa ciptakan sendiri anti-herpes itu untuk selamatkan satwa kita," kata Tachrir.

Pemerintah sudah mengetahui keberadaan penyakit ini sejak 1995, namun memang tak mengalokasikan dana khusus untuk EEHV.

Menurut Tachrir, saat ini sedang ada program untuk menyelamatkan 25 spesies yang mau ditingkatkan populasinya sebanyak 10 persen dalam jangka waktu 5 tahun.

"Tapi bukan tahun ini, mungkin akan dialokasikan untuk tahun depan," katanya. Namun, uangnya tak berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Nasional (APBN), melainkan dari sumbangan swasta dan internasional, termasuk Uni Eropa.

Pemerintah juga akan segera mendata kematian gajah akibat EEHV dari tahun ke tahun, untuk memetakan langkah pencegahan ke depannya.

Film dokumenter 'Save Our Giants'

Salah satu upaya Uni Eropa untuk meningkatkan kesadaran tentang bahaya penyakit ini adalah lewat film dokumenter pendek berjudul Save Our Giants. Aktor Nicholas Saputra tampil dalam tayangan berdurasi 6 menit ini.

"Gajah sangat penting bagi ekosistem. Kami harap film ini dapat membangkitkan kesadaran masyarakat dan membantu menyelamatkan raksasa hutan ini," kata Guerend.

Selain itu, pada 2015 lalu, Uni Eropa juga mengadopsi dua ekor bayi gajah, yaitu Aras dan Eropa dari Tangkahan.

Dalam film tersebut ditampilkan keindahan alam CRU Tangkahan, serta kehidupan sehari-hari para mahout (pawang) dan gajah di sana. Wahdi mengatakan, tujuan utama pembuatan CRU adalah untuk mengatasi konflik antara manusia dan gajah.

Nicholas Saputra yang sudah tak asing dengan daerah tersebut, mengatakan kalau sebagian besar pawang dan pemandu wisata di sana dulunya adalah pemburu ilegal. "Setelah dididik dan diberi pekerjaan, mereka justru jadi penjaga hutan nomor satu," kata Nicholas.

Salah satu pawang, Joni Rahman, mengatakan kalau kedekatan manusia dengan gajah di Tangkahan sangat terasa. Sehari-hari, mereka menemani binatang berbelalai panjang ini bermain, bahkan memandikannya di sungai.

"Gajah itu sifatnya mirip manusia, dari cara mereka bermain dan lain-lain," kata Joni. Karena itu, kematian gajah akibat penyakit ataupun perburuan meninggalkan luka yang sangat dalam.

Angka kematian gajah tinggi

Hingga saat ini, angka kematian gajah Sumatera masih tinggi. Dalam 3 tahun terakhir ada 16 ekor bayi gajah lahir. Sementara dalam jangka waktu sama, angka kematian mencapai 146 ekor.

Penyebabnya pun masih sama, yaitu perburuan liar dan konflik dengan manusia. Hutan tempat tinggal gajah telah berubah menjadi perkebunan ataupun permukiman, hingga meningkatkan intensitas pertemuan. Belum lagi, penduduk sering menganggap gajah sebagai hama lantaran memakan tumbuhan di kebun.

"Kalau tidak mati diburu, ya diracun," kata Wahid. Untuk tahun ini saja, jumlah gajah Sumatera tersisa 1.700 ekor, yang berada di kawasan lindung.

Guerend mengatakan Indonesia masih perlu meningkatkan tindakan hukum bagi para pelaku perdagangan gading dan pemburu gajah. "Implementasinya itu penting. Saya kira dengan membakar hasil perburuan terlarang, memberi kesan baik kalau hewan-hewan ini tak bisa dimiliki begitu saja," katanya.

Pemerintah Indonesia juga berencana untuk membuat area temu dan konflik manusia dan gajah menjadi lebih ramah binatang. "Nanti area lintas gajah kita buatkan koridor khusus. Kalau tak bisa jadi konservasi, ya kawasan ekosistem esensial," kata Guerend.

Masyarakat sekitar juga akan diberikan penyuluhan tentang bagaimana menghadapi gajah. Membunuh dengan racun atau ditembak tak akan lagi menjadi opsi. "Cukup diawasi saja nanti," katanya.

Menurut Guerend, penting untuk menjaga keberlangsungan hidup gajah. Karena, raksasa ini membutuhkan makanan dan area tinggal yang sangat luas. Bila terpenuhi, maka secara otomatis hewan lain yang lebih kecil seperti harimau dan orang utan, tentu tak berkekurangan dalam hal lingkungan tinggal maupun konsumsi. —Rappler.com