Ibu-ibu Kendeng kembali ke kampung halaman, janji terus berjuang

SEMARANG, Indonesia — Giyem menyeka air matanya saat berada di Stasiun Semarang Tawang, Kamis sore, 14 April. 

Ia sesekali dirangkul teman-temannya sebelum pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Baju kebaya dan kain jarit cokelat yang membungkus tubuhnya tampak lusuh. Kedua kakinya tak lagi dibalut gips. Tak ada lagi cairan semen yang membelenggu kedua kakinya seperti saat ia menggelar aksi di depan Istana Negara, Jakarta, dua hari lalu.

Ia kemudian menghela napas dalam-dalam sembari berjalan beriringan dengan delapan ibu-ibu paruh baya yang berasal dari Pegunungan Kendeng, Kabupaten Pati.

Giyem mengaku lega atas apa yang ia perjuangkan bersama teman-temannya selama dua hari dengan menggelar aksi pemasungan kaki dengan semen di depan Istana.

“Saya ndak menyangka banyak warga kampung yang mendukung perjuangan kami selama di Jakarta," kata Giyem.

Giyem bilang Presiden Joko “Jokowi” Widodo, melalui Kepala Staf Kepresidenan Teten Mazduki, telah berjanji menuntaskan polemik pembangunan pabrik semen di kampungnya. Jokowi juga berjanji akan memproses ulang izin pendirian pabrik semen.

"Lewat utusannya, Pak Presiden ngomong kalau sedang mengusahakan kalau bisa tidak ada pabrik semen di Pegunungan Kendeng," ujarnya.

Meski begitu, ia mengatakan akan terus memperjuangkan kepentingan warga kampungnya yang menentang keras rencana PT Semen Indonesia yang ingin membangun pabrik semen di atas pegunungan karst.

"Yang penting kami akan terus melanjutkan aksi-aksi penolakan pembangunan pabrik semen," ungkapnya.

Ia bahkan menyatakan tak gentar untuk menghalau PT Semen Indonesia dari wilayah Pati dan sekitarnya. "Apapun itu, saya pantang menyerah untuk memperjuangkan ibu-ibu di kampung saya," ucapnya.

‘Selamatkan Kendeng, ibu pertiwi kami’

Sementara itu, beberapa perempuan Kendeng lainnya berulang kali mengucapkan terima kasih kepada Jokowi yang telah mengirim utusannya untuk menemuinya saat menggelar aksi damai di Istana Negara.

Mereka akan tetap meneruskan aksi penolakan sampai pabrik semen tidak jadi dibangun. Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

Mereka akan tetap meneruskan aksi penolakan sampai pabrik semen tidak jadi dibangun.

Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

"Pak Jokowi mugi-mugi panjenengan mbantu wujudke Jawa Tengah ijo royo-royo dados lumbung pangan sak Nusantoro (Pak Jokowi, semoga Anda bisa membantu mewujudkan Jawa Tengah yang hijau dan subur, menjadi lumbung pangan untuk seluruh Nusantara)," ujar salah satu perempuan Kendeng lainnya yang tak ingin namanya disebutkan.

 

Ia meminta Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo segera merespons aksi penolakan proyek pabrik semen di Kendeng. Sebab, ia beranggapan kelangsungan ekosistem di wilayahnya kini terancam dengan berbagai upaya dari pemerintah daerah yang mengizinkan perusahaan tambang raksasa melakukan eksploitasi pegunungan kapur dengan membangun pabrik semen.

Upaya eksploitasi ini berpotensi membuat sumber air hilang serta merusak ribuan hektar lahan pertanian, sumber pakan ternak, dan pemukiman warga setempat.

"Nyuwun donganipun Pak Ganjar angenipun kulo nyemen kaki teng Jakarta amergi ngaboti programe jenengan Jawa Tengah ijo royo-royo (Mohon doa dari Pak Ganjar, karena kepergian saya menyemen kaki ke Jakarta adalah demi mendukung program Anda untuk menjadikan Jawa Tengah hijau)," katanya lagi.

Pegunungan Kendeng saat ini mampu menghidupi 203.217 jiwa di tiga Kecamatan Pati Selatan serta terdapat 112 sumber mata air yang mengaliri sawah-sawah di Rembang, Grobogan, dan Kecamatan Sukolilo Pati. Bahkan, bisa menjadi sumber air minum bagi ribuan warga setempat.

Selain punya kekayaan ekologis, Kendeng juga memiliki kearifan budaya lokal bernilai tinggi. Di situ, terdapat situs arkeologi Dampo Awang dan kompleks pemakaman Walisongo, serta situs pewayangan yang terletak di Kecamatan Sukolilo dan Kayen.

Dengan beragam kekayaan alam tersebut, anggota Solidaritas Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng Umi Hanik memastikan perjuangan para perempuan Kendeng untuk menolak pabrik semen belum usai.

Menurut Umi, apa yang telah dilakukan kesembilan perempuan itu sebagai bentuk perlawanan atas tindakan semena-sema yang dilakukan pemerintah daerah yang berkuasa di kaki Pegunungan Kendeng selama ini.

"Kita akan tetap meneruskan aksi penolakan sampai pabrik semen tidak jadi dibangun di Kendeng," tutur Umi. —Rappler.com

BACA JUGA: