Menelisik jaringan pelaku teror Sarinah (bagian II)

 

SOLO, Indonesia — Di tulisan pertama, kami menemukan petunjuk tentang seorang terduga pelaku teror bernama Afif. Ia disebut sangat dekat dengan pemimpin spiritual Aman Abdurrahman yang mendekam di penjara Nusakambangan saat ini. Baca profilnya di sini. 

Dalam perjalanan penelusuran kami di hari kedua, kami bertemu dengan beberapa sumber di Solo yang membeberkan bagaimana Bahrun Naim, orang yang disebut sebagai dalang teror peledakan bom dan penembakan di Sarinah, bekerja dan merekrut anggotanya. Mereka juga mengungkap nama pelaku kedua yang juga rekan Afif. 

Syarat dari Suriah

Sumber pertama kami adalah Sekretaris Jenderal The Islamic Studi and Action Center Hendro Sudarsono yang juga bagian humas Laskar umat islam Surakarta, staf pengajar Pondok Al Mukmin Ngruki. 

Hendro mengatakan Bahrun Naim memiliki hubungan yang cukup dekat dengan orang-orang yang ia kenal. Salah satu dari mereka adalah Ibad dan Andika. 

Ibad dan Andika sudah ditangkap oleh Detasemen Khusus 88 (Densus 88). Ibad ditangkap Densus pada medio Agustus 2015 di  Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah. Dan Andika, yang ditangkap pada Desember 2015 di Bekasi. 

Menurut Hendro, jaringan Bahrun Naim di Indonesia berdasar keterangan orang-orang yang pernah berhubungan dengannya, terdeteksi melalui aliran duit. 

“Seperti dalam kasus Andika, menurut keluarga ada transferan ratusan juta rupiah dari Bahrun Naim,” kata Hendro pada Rappler, Jumat, 15 Januari. 

Lalu bagaimana mereka bisa merekrut para ‘pengantin’—sebutan untuk pelaku bom bunuh diri—ini menjadi anggota Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) cabang Indonesia? Hendro tak tahu pasti, tapi dari pengakuan orang yang pernah diajak bergabung, mereka harus melakukan amaliyah

Amaliyah adalah amal atau aksi.  Amaliyah yang dilakukan harus memberi dampak yang signifikan. Misal, peledakan bom di gereja dan kantor pos polisi yang sempat direncanakan kelompok teroris Bekasi. 

“Bahrun mensyaratkan itu, harus ada amaliyah,” ujar Hendro. 

Sumber Rappler yang juga aktivis organisasi Islam dan jamaah membenarkan hal ini. Ia bahkan menuturkan, bukan Bahrun yang menjemput bola, namun orang-orang ini yang berminat ingin bergabung dengan barisan ISIS di Suriah. Mereka rata-rata setuju melakukan amaliyah untuk mendapat tiket ke Suriah.

“Tapi itu susah sekali,” katanya. 

Lalu bagaimana cara calon anggota ini menghubungi Bahrun? Sumber Rappler mengatakan bahwa untuk menghubungi Bahrun tak sulit.

“Dia itu punya banyak kurir,” ujar sang sumber. 

Calon anggota dapat bertemu dengan kurir lewat pergaulan, misalnya di dalam organisasi keagamaan. Kuncinya, “orang-orang yang memiliki minat sama, biasanya akan bertemu di satu lingkaran pertemanan,” katanya. 

Tim Gegana Polri melakukan penyisiran di lokasi ledakan di pos polisi di Sarinah Thamrin Jakarta, Kamis 14 Januari 2016. Foto oleh Muhammad Adimaja/ANTARA

Tim Gegana Polri melakukan penyisiran di lokasi ledakan di pos polisi di Sarinah Thamrin Jakarta, Kamis 14 Januari 2016.

Foto oleh Muhammad Adimaja/ANTARA

Bahrun berlipat ganda di internet

Dalam perkembangannya, sejak kabar Bahrun bergabung dengan ISIS muncul pada awal 2015, pria yang bernama asli Anggi Saputro itu berhasil merekrut 100 lebih anggota di Indonesia yang tersebar dari Aceh hingga Nusa Tenggara Timur. 

Seperti yang dijelaskan sumber sebelumnya, Bahrun tidak berkomunikasi langsung dengan mereka, melainkan lewat kurir dan internet. 

Menurut Hendro, Bahrun mengandalkan keahliannya untuk berkomunikasi secara aman via digital dengan kurirnya. Ia menjelma dengan banyak nama di Facebook, hingga membuat website bahrunnaim.co

Saking banyaknya akun FB yang dimiliki Bahrun, Hendro mencurigai Bahrun tak bekerja sendiri. “Kami curiga karena Bahrun Naim sosok yang muncul di FB dan blog itu dipakai untuk menjustifikasi benar-benar itu Bahrun Naim,” ujar Henro.

“Saya khawatir Bahrun Naim tidak tunggal, tapi juga ada aktor-aktor (Bahrun Naim) yang lain,” katanya lagi. 

“Geng Jakarta” mulai teridentifikasi

Sementara itu, polisi masih mengidentifikasi lima pelaku teror Sarinah. Kepala Polisi Jenderal Badrodin Haiti mengatakan hingga pagi ini, sudah empat nama terdeteksi.

Tapi ia tak mau mengungkap nama-nama yang dimaksud. Ia hanya mengakui Afif. Saat ini, kata Badrodin, polisi sedang fokus mengejar orang-orang yang berhubungan langsung dengan Bahrun.

“Ada yang kami kejar yang dihubungi langsung dari Suriah,” kata Badrodin pada Rappler pagi ini.

Dia mengatakan jumlahnya tak hanya satu, tapi banyak. 

Sumber Rappler di lingkungan kepolisian menambahkan keterangan Badrodin tentang identitas pelaku teror Sarinah alias ‘Geng Jakarta’. Menurut sumber tersebut, polisi sudah mengantongi nama. 

Yakni Afif, Amir Qali, warga Kanada yang juga memiliki kewarganegaraan Aljazair, Ali dan Dian yang tinggal di kampung Sanggrahan Meruya Utara Kembangan Jakarta Barat, dan AG yang disebut sebagai adik kelas Afif di SMU. Nama mereka ada di daftar korban yang dirilis Rumah Sakit Polri. 

Namun masih ada satu lagi pelaku yang belum teridentifikasi. Sumber tersebut tak bisa memastikan apakah pelaku tersebut termasuk dalam daftar nama korban atau kabur saat kejar-kejaran dengan polisi dan Densus 88 pada saat kejadian kemarin 

Melacak Bahrun hingga negeri Paman Sam? 

Lalu di mana sang ‘komandan’ Bahrun Naim? Keberadaan Bahrun memang masih menjadi misteri. Komunitas aktivis di Solo tak percaya begitu saja ketika polisi mengatakan operasi dikendalikan dari Suriah

Tak ada yang bisa memastikan di mana lokasi Bahrun saat ini.

“Ada dua pendapat, di Indonesia dan Suriah,” kata sumber Rappler. 

Tapi sumber lainnya mengungkap beberapa waktu yang lalu, Bahrun mengontak ayahnya menggunakan kode telepon Amerika. Apakah ini berarti ia sedang berada di negeri Paman Sam? Atau Bahrun sedang mengelabui publik dan Densus 88 saat ini? 

Tak ada yang bisa memastikan. Yang pasti sebuah rekaman yang dipercaya adalah dari Bahrun diedarkan di komunitas aktivis gerakan di Solo. Dalam pesan itu Bahrun menjawab tudingan bahwa ia mengendalikan serangan Sarinah dari Suriah.

“Lha wong saya itu jarang online, dikira komunikasi, komunikasi dari Hong Kong?” katanya. —Rappler.com

BACA JUGA: