Puluhan murid SD Jemah terlantar akibat pembangunan Waduk Jatigede

 

JAKARTA, Indonesia — Satu bangunan Sekolah Dasar di Desa Jemah, Sukabumi, Jawa Barat, yang terkena dampak pembangunan Waduk Jatigede, ternyata tidak direlokasi oleh pemerintah setempat. Lebih dari 40 siswanya pun terlantar. 

“Di Desa Jemah, ada satu SD dengan 17 murid yang kelasnya langsung dikosongkan, tapi anak-anaknya tidak tahu sudah pindah ke mana saja,” kata Pristi Mochtar, seorang relawan yang tergabung dalam Save Jatigede kepada Rappler, Jumat, 11 September.

Informasi tersebut diperoleh setelah para relawan menemukan warga Desa Jemah yang mengungsi secara sporadis. Menurut relawan, kebanyakan warga Desa Jemah mengungsi di Desa Cipicung dan Ujung Jaya. 

Dari laporan warga, relawan menemukan bahwa murid SD Jemah tidak bisa kembali berkumpul karena sekolah mereka tidak direlokasi. 

Menurut Pristi, pemerintah setempat awalnya menjanjikan relokasi sekolah sementara di tenda-tenda pengungsian di Paku Alam. “Tapi ternyata (siswa SD) disuruh pindah masing-masing atau mengikuti orang tua,” katanya. 

Hingga saat ini, kata Pristi, tim relawan yang berjumlah 8 orang tersebut, sedang mengumpulkan data-data SD yang terdampak pembangunan Waduk Jatigede. 

Menurut data terakhir, total SD yang akan tenggelam karena mega proyek ini adalah 21 bangunan dengan jumlah 1.737 siswa. 

Namun, bukan hanya SD Jemah saja yang relokasinya tidak jelas. Tiga SD lainnya di Desa Cipaku juga tak jelas nasibnya. Ketiga SD ini terletak di Dusun Kebon Koli dan Sadang.

“Katanya (warga), akan dipindahkan ke Dusun Ancol, Desa Karang Pakua, namun ditolak oleh orangtua siswa karena kejauhan dan berat diongkos,” ujar Pristi. 

BONGKAR. Sebuah rumah yang sudah setengah dibongkar untuk pembangunan Waduk Jatigede. Foto oleh Relawan SaveJatigede

BONGKAR. Sebuah rumah yang sudah setengah dibongkar untuk pembangunan Waduk Jatigede.

Foto oleh Relawan SaveJatigede

Guru SD Jemah: Anak-anak sedih 

Tete Yosep Wisanta, seorang guru SD Jemah, membenarkan pada Rappler bahwa 41 siswanya kini tak bisa berkumpul lagi.

 

“Anak-anak sedih. Biasanya berkumpul di sekolah, sekarang berpisah,” kata Tete yang sudah mengajar di SD itu sejak 1997. 

Menurutnya, seharusnya pemerintah lokal mempersiapkan relokasi sekolah dengan baik, karena akan memberikan efek langsung terhadap para siswa.

“Teman baru kan susah kenalnya lama,” kata Tete.

Ia juga mengaku kecewa dengan janji pemerintah yang akan tetap mempertahankan anak-anak dalam satu kelas. Kenyataannya, jangankan bangunan, tenda darurat untuk sekolah pun tak ada. 

Tete berharap pemerintah memiliki inisiatif untuk membangun satu kompleks sekolah bagi anak-anak SD Jemah yang dekat dengan lokasi tempat tinggal mereka. 

“Di Desa Jemah kan ada dua dusun yang tidak tergenang. Ada Dusun Dangder. Kenapa tidak merelokasi secara kolektif di sana? Bersama masjidnya sekalian. Jadi anak-anak bisa berkumpul,” katanya.

Ia mengaku tak bisa berbuat banyak, kecuali meneruskan mengajar untuk anak-anak di SD tetangga, SD Lontong. —Rappler.com

BACA JUGA: