Jokowi ke PLN: Selesaikan proyek listrik yang mangkrak sejak 7 tahun lalu

 

Presiden Jokowi melakukan peletakan batu pertama proyek Mobile Power Plant di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat pada Kamis, 2 Juni. Foto: S. Ilham A

Presiden Jokowi melakukan peletakan batu pertama proyek Mobile Power Plant di Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat pada Kamis, 2 Juni. Foto: S.

Ilham A

PONTIANAK, Indonesia – Presiden Joko ‘Jokowi’ Widodo melakukan peletakan batu pertama pemasangan Mobile Power Plant (MPP) berdaya 4 x 25 megawatt di Kabupaten Mempawah, dan meresmikan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berdaya 2 x 10 megawatt di Kabupaten Ketapang, dua-duanya di Kalimantan Barat, pada Kamis, 2 Juni.

Dalam acara yang diadakan di Jungkat, Kabupaten Mempawah, kira-kira satu jam dengan kendaraan sebelah utara Pontianak, Jokowi juga perintahkan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) menyelesaikan proyek PLTU berdaya 2 x 50 megawatt di Mempawah yang telah mangkrak sejak 7 tahun lalu dan telah menghabiskan biaya sebesar Rp 1,5 triliun.

"Sebelum ke sini, saya ingin pastikan MPP 2 x 50 MW bisa diselesaikan. Dengan biaya Rp 1,5 triliun, kalau tidak bisa dipakai bisa dibayangkan. Setiap masalah harus diselesaikan. Tahun ini harus selesai, janji Dirut PLN akhir Desember ini selesai," kata Jokowi.

Proyek MPP 4 x 25 MW diharapkan bisa mulai beroperasi bulan September 2016.

"Dua pembangkit di Kalbar ini nantinya akan memberi tamabahan listrik yang cukup besar," kata Jokowi.

 

Jokowi berharap dengan bertambahnya energi listrik, Indonesia, khususnya Kalimantan Barat, bisa mengolah hasil kekayaan alam atau hasil tambang sebelum dijual ke luar negeri.

"Dalam waktu dekat di kalbar ini akan ada proyek besar yakni kerja sama antara PT Antam dan perusahaan luar negeri dalam mengembangkan dan mengolah bauksit menjadi bahan jadi atau setengah jadi ataupun minimal seperempat jadi kemuadian baru boleh dijual ke luar negeri," kata Jokowi.

 

Menurut Jokowi, dengan mengolah sendiri kekayaan alamnya, Imdomesia bisa meningkatkan pemasukan negara dan tentu sangat berpengaruh dalam meningkatkan kesejahreraan serta membuka peluang lerja bagi tenaga kerja bagi negara dan masyarakat itu sendiri.

"Makanya saya memang perintahkan bahwa hasil tambang dan kekayaan alam kita jangan dijual langsung mentahnya, akan tetapi harus kita olah baru kita jual ke luar negeri," kata Jokowi.

Dengan Adanya Tambahan Listrik, Kalbar Bisa Realisasikan Industri Bahan Tambang Jadi

Harapan Guberur Cornelis

Sementara itu, Gubernur Kalbar Cornelis berharap pembangkit listrik yang diremikan oleh Persiden Jokowi dapat selesai tepat waktu. 

"Mudah-mudahan pembangunan ini segara selesai paling lambat akhir bulan September 2016 dua pembangkit listrik ini sudah dapat dimanfaatkan masyarakat Kalbar. Dan dengan adanya tambahan listrik ini. kita berharap Kalbar bisa realisasikan berkembangnya industri pengolahan bahan tambang mentah menjadi bahan tambang jadi," kata Cornelis di depan Presiden Jokowi.

Cornelis mengatakan listrik dari pembangkit Jungkat akan memenuhi kebutuhan di Kota Pontianak, Kubu Raya, Singkawang, Mempawah dan Bengkayang. 

"Memang saat ini untuk daerah perbatasan masih mengunakan pasokan listrik dari Malaysia. Kemarin utusan dari kementerian kelistrikan Malaysia meninjau langsung Jaringan Tegangank Ekstra Tinggi (JTET) yang sudah terpasang di wilayah Kabupaten Bengkayang," kata Cornelis.

Sementara tu, Deputi Manajer Hukum dan Komunikasi PLN Kalbar M Doing mengatakan dari 932.869 pelanggan PLN di Kalbar, sekitar 94.564 pelanggan berada di PLN Area Ketapang.

"Sedangkan daya mampu sistem di Ketapang saat ini adalah 26 MW dengan beban puncak 31 MW, sehingga kehadiran PLTU baru ini dapat menutupi defisit sistem isolated Ketapang dan sekitarnya," kata Doing.

Selain PLTU Ketapang, tahun ini PLN juga menargetkan untuk merampungkan pembangunan PLTU Sintang (3 x 7 MW), PLTG MPP Kalbar (100 MW), PLTU Parit Baru FTP 1 (2 x 50 MW), serta PLTU Pantai Kurakura (2 x 27,5 MW). – dengan laporan Antara/Rappler.com