Joshua Oppenheimer menerima penghargaan Tasrif Award 2015

JAKARTA, Indonesia—Joshua Oppenheimer, sutradara film “Jagal” dan “Senyap” yang bertema tentang pembantaian pada 1965, meraih penghargaan Suardi Tasrif Award 2015 dari Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, Jumat, 4 September.

Anonim, sutradara Indonesia yang membuat film bersama Joshua, juga ikut menerima penghargaan ini. Keduanya diganjar Suardi Tasrif Award karena mengungkapkan tragedi 1965-1966 dari perspektif pelaku, sesuatu yang tidak terbantahkan dan belum pernah dilakukan sebelumnya.  

 “Tanpa pengungkapan fakta atas pembantaian 1965-1966, proses rekonsiliasi mustahil dilakukan. Pengalaman di banyak negara menunjukkan rekonsiliasi tidak akan pernah tercapai jika kebenaran tidak diungkap dan diakui,” kata dewan juri. 

Dewan juri juga menyebut karya Joshua adalah upaya untuk mengingatkan masyarakat Indonesia atas peristiwa pelanggaran hak asasi manusia terbesar pada 1965, di tengah pemberitaan tentang topik ini yang makin sepi. 

Joshua persembahkan penghargaan untuk para korban

“Penghargaan ini kami abdikan untuk para wartawan, mahasiswa, aktivis HAM, guru, akademisi, seniman, buruh, dan warga masyarakat, penyelenggara pemutaran dan para penonton yang menolak tunduk, pada ancaman dan tekanan, untuk menciptakan iklim demokrasi yang sehat dan mereka yang membuka ruang bagi persilangan pendapat tanpa pemaksaan atau kekerasan,” katanya melalui video.

Joshua tak dapat hadir dalam penganugerahan Tasrif Award di gedung film perfilman Usmar Ismail. Dia memang telah menyatakan pada media bahwa dirinya tidak akan kembali ke Indonesia. 

Pidato lengkap Joshua lewat sebuah video berdurasi 3 menit 33 detik:

Ini merupakan suatu penghormatan bagi kami menerima penghargaan Suardi Tasrif 2015. Penghargaan ini sangat berarti karena inilah pertama kali kami menerima penghargaan dari Indonesia. 

Kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada AJI untuk penghargaan ini. Dan kami tidak mungkin menerima penghargaan ini, tanpa dukungan teman-teman yang telah mendukung dalam membuat dan menyebarluaskan kedua film kami. 

Oleh karena itu, izinkanlah kami berbagi penghargaan ini dengan orang-orang yang telah bersama-sama memperjuangkan kebebasan pers, kebebasan berpendapat dan berekspresi, serta kebebasan untuk mendapatkan informasi di Indonesia. 

Penghargaan ini kami dedikasikan untuk para korban dan penyintas pelanggaran HAM. Kepada mereka yang berani terus berjuang menyuarakan kebenaran dalam kisah-kisah mereka. 

Mereka yang terus menyuarakan keadilan, dan mencegah pembantaian massal serta genosida terulang kembali. 

Penghargaan ini kami abdikan untuk para wartawan, mahasiswa, aktivis HAM, guru, akademisi, seniman, buruh, dan warga masyarakat, penyelenggara pemutaran dan para penonton yang menolak tunduk, pada ancaman dan tekanan, untuk menciptakan iklim demokrasi yang sehat dan mereka yang membuka ruang bagi persilangan pendapat tanpa pemaksaan atau kekerasan. 

Penghargaan Tasrif 2015 dan perjalanan menyebarluaskan kedua film kami di Indonesia, mudah-mudahan juga menjadi pengingat bahwa kebebasan berekspresi dan mendapatkan informasi adalah sebuah jalan panjang yang harus ditempuh dan sebuah perjuangan tanpa henti. 

Kebebasan berekspresi dan kebabasan untuk mendapatkan informasi menjadi sangat penting di tengah derasnya arus propaganda penguasa yang bertahan dengan upayanya menyembunyikan kejahatannya dari pengetahuan masyarakat umum dan menimati impunitas lewat penggelapan sejarah. 

Kami berharap bahwa penghargaan Tasrif 2015, menjadi pengingat bagi khalayak luas, bahwa kebenaran belum lagi diungkapkan, keadilan belum lagi ditegakkan, permintaan maaf negara belum lagi dinyatakan, korban belum direhabilitasi, apalagi mendapatkan kompensasi atas segala yang pernah dirampas dari mereka. 

Diskriminasi terhadap para penyintas, kepada korban, dan keluarga korban, masih berjalan, sementara sejarah yang diajarkan di sekolah masih bungkam, mengenai kekejaman yang terjadi pada jutaan manusia Indonesia. 

Kami berharap penghargaan Tasrif ini menjadi pendorong semangat untuk meneruskan semua upaya pengungkapan kebenaran, penegakan, keadilan, dan rekonsiliasi. Terima kasih.

Film “Jagal” yang menuturkan kesaksian pelaku pembantaian 1965-1966 di Sumatera Utara dipublikasikan pada 2013 dengan versi berbahasa Inggris berjudul “The Act of Killing”. Sementara “Senyap” yang menuturkan kesaksian para korban dipublikasikan pada 2014 dengan versi berbahasa Inggris yang berjudul “The Look of Silence”. Kedua film ini telah meraih banyak penghargaan di luar negeri, tapi baru kali ini mendapatkan penghargaan dari Indonesia.

Dewan Juri Suardi Tasrif Award 2015 beranggotakan Pemimpin Redaksi Merdeka.com Didik Supriyanto, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Arif Zulkifli, dan Co-founder ICT Watch Donny BU.

Suardi Tasrif, Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia, semasa hidupnya tak kenal menyerah dalam memperjuangkan kemerdekaan pers. Suardi Tasrif gigih memperjuangkan kemerdekaan berpendapat, hak konstitusional yang selalu disebut-sebut sebagai hak fundamental yang menjadi jalan bagi dipenuhinya berbagai hak asasi manusia lainnya.

AJI Indonesia mengabadikan namanya sebagai penghargaan bagi perorangan maupun kelompok atau lembaga yang gigih memperjuangkan kemerdekaan pers dan kemerdekaan berpendapat pada umumnya. Penghargaan Suardi Tasrif mulai diberikan pada 1998, dan Munir, Koordinator Badan Pekerja Kontras menjadi peraih pertama Tasrif Award. —Rappler.com

Baca juga: