Kabut asap mengancam pariwisata Samosir, memukul ekonomi lokal

 

MEDAN, Indonesia — Bencana kabut asap yang sudah berminggu-minggu melanda tak hanya mempengaruhi kesehatan, tapi juga memukul pariwisata yang pada akhirnya mempengaruhi ekonomi lokal.

Dengarlah penuturan Dian Siallagan, petugas pos masuk kompleks wisata Batu Persidangan dan Batu Parhapuran Huta Siallagan, di Ambarita, Samosir, Sumatera Utara. 

"Biasanya dari Juni hingga September ini, arus kunjungan wisatawan asing cukup banyak, tapi sekarang ini tidak begitu ramai," kata Dian belum lama ini. 

Tak hanya Dian, Rockhudson Rumahorbo, sopir transportasi antarkota yang berbasis di Pasar Tiga Raja, Parapat ini juga mengkhawatirkan turunnya jumlah wisatawan asing yang memukul pendapat masyarakat.  

Kekhawatiran mereka beralasan. Turis yang berkunjung memang merasa sangat terganggu dengan kabut asap. Pada bencana kabut asap tahun lalu, Pemerintah Kabupaten Samosir mengatakan jumlah turis berkunjung turun drastis. 

Dua wisatawan asal Paris, Jonathan Daniels Rojas dan Lia Le Ster, menyukai wisata seni dan budaya di Sumatera, namun tak bisa menikmati kunjungan karena kabut asap. 

"Saya merasa kasihan dengan penduduk yang kesehatan dan perekonomiannya terganggu oleh bencana asap dari kebakaran hutan dan lahan itu," kata Jonathan, mengingatkan pengalaman buruk Italia karena bencana ekologis yang disebabkan deforestasi dan kebakaran hutan di masa lalu. 

"Saya berharap Indonesia bisa segera menghentikan kebakaran hutan dan lahan ini," katanya.

Turis asal Polandia, Zuzanna Kasprzyk, juga berharap Pemerintah Indonesia bisa segera menghentikan kebakaran hutan dan ladang. 

Bencana kabut asap tahun ini bukan hal baru di Indonesia. Ini sudah terjadi sejak 1997 di Sumatera dan Kalimantan. Enam presiden sudah berganti selama itu, namun kebakaran hutan tak kunjung berhenti. 

Tidak jelas berapa kerugian ekonomi saat ini karena kebakaran hutan. Namun 18 tahun yang lalu, kerugian akibat bencana asap lintas negara mencapai US$ 9 miliar, menurut data ASEAN. Kerugian itu dihitung dari total biaya kesehatan yang ditanggung masyarakat yang terpapar kabut asap serta kehilangan nilai ekonomi akibat kerusakan hutan dan lahan yang terbakar, serta sektor yang terdampak seperti pariwisata, transportasi dan pertanian. — Laporan dari Antara/Rappler.com

BACA JUGA: