Kaji pabrik semen di Rembang, Ganjar Pranowo bentuk tim kecil

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat memberikan keterangan kepada wartawan di kantornya, Jalan Pahlawan Semarang, Kamis (15/12). Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo saat memberikan keterangan kepada wartawan di kantornya, Jalan Pahlawan Semarang, Kamis (15/12).

Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

SEMARANG, Indonesia - Polemik pemberian izin baru bagi pabrik semen di Rembang, Jawa Tengah, terus bergulir. Kali ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menyepakati hasil rapat bersama Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya dan Menteri BUMN Rini Soemarno mengenai izin operasional pabrik semen di bawah naungan PT Semen Indonesia tersebut.

Rapat lintas kementerian itu diselenggarakan di kantor Kementerian Lingkungan Hidup di Jakarta, pada Rabu petang 14 Desember. Dalam rapat ini juga hadir perwakilan pejabat terkait di lingkungan Pemprov Jateng dan BUMN Semen Indonesia.

Ganjar mengatakan saat ini telah dibentuk tim kecil sesuai usulan dua kementerian untuk mengkaji kelanjutan pembangunan pabrik semen. Tim kecil itu saat ini mulai bekerja hingga batas waktu proses Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) pada 17 Januari 2017 mendatang.

"Sekarang sedang dilakukan kajian teknis izin pabrik hingga 17 januari. Dan saat batas waktu itu berakhir, maka Surat Keputusan (SK) bernomor 660.1/2016 tentang penambangan pabrik semen Rembang dicabut. Karena itu sesuai batas waktu KLHS," kata Ganjar di kantornya, Jalan Pahlawan Semarang, Kamis 15 Desember.

Ia menyatakan pencabutan SK yang mengatur izin baru untuk pabrik semen tersebut telah dibicarakan bersama Menteri Siti Nurbaya san Menteri Rini. Izin baru yang dimaksud itu untuk proses penambangan di area pegunungan kapur Kendeng. "Karena aspek yang dibicarakan saat rapat hanya soal lingkungannya saja, itu mencakup di Pegunungan Watu Putih," sambungnya.

Meski begitu, ia bersikukuh bila pembangunan pabrik semen tetap dilanjutkan, dengan memperbaiki beberapa prosedur yang dinilai cacat hukum dan persoalan sosial lainnya. "Kalau dicabut harusnya ada manfaat sosial di sana. Bila sebelumnya ada kekhawatiran kekurangan air bersih, maka akan kita tunjukan bahwa di sana banyak embung (penadah air)," katanya.

Keputusan MA kacau

Ia mengatakan keputusannya itu telah melalui pertimbangan yang matang dan kajian panjang sejak lama. Lalu untuk izin Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) yang juga menuai protes warga setempat, menurutnya hal itu belum tentu direvisi.

Ia bahkan balik menuding hakim Mahkamah Agung (MA) yang menganut sistem peradilan yang kacau. Justru ia berpendapat apa yang telah diputuskan oleh MA tidak akurat.

"Tim Badan Lingkungan Hidup (BLH) lagi mengkajinya. Saya terus terang saja, saya sampaikan dalam diskusi dengan kementerian di Jakarta kalau tidak ada perintah mencabut izin pabriknya," terangnya.

"Ini peradilannya kacau dan hakimnya (MA) awur-awuran. Jadi pabriknya tetap jalan terus apapun yang terjadi," katanya.

Suara hati warga Sedulur Sikep

Sementara itu, dalam kurun waktu yang bersamaan, ratusan warga Sedulur Sikep dari masyarakat adat Samin Blora bergerak ke Semarang untuk menemui Ganjar. Mereka berkumpul di aula Gedung Gubernur Jawa Tengah untuk menyampaikan unek-uneknya karena telah tereret dalam pusara konflik pabrik semen yang berkepanjangan. 

Penampilan mereka yang memakai ikat kepala cokelat (udeng) dan pakaian serba hitam menarik perhatian pegawai Pemprov yang tengah sibuk bekerja. Ganjar yang menyambut ratusan Sedulur Sikep kagum dengan sikap mereka yang menjunjung tinggi rasa keadilan dan kejujuran dalam berperilaku. Tapi warga Sedulur Sikep menegaskan tak mau dikonfrontasi dalam polemik pabrik semen.

"Saya agamanya Adam yang ingin adil di alam semesta," kata seorang warga Sedulur Sikep yang datang dari Desa Ngapakan Bandarharjo Blora dengan logat Jawa kental.

Poso, tokoh Sedulur Sikep dari Kabupaten Blora menyatakan tidak ada sikap penolakan maupun mendukung dalam kasus pabrik semen yang ada di Rembang.

"Siapa yang nandur (menanam) pasti akan mengunduh sendiri. Kita serahkan pada alam, kita tidak mendukung maupun menolak. Kita kembalikan kepada alam saja," ujarnya.

Ia hanya memegang sebuah prinsip dalam hidupnya bila apapun yang ada di muka bumi ini, semuanya merupakan sandang dan pangan. "Seperti ular, kayu, burung dan tanah buat kita semua. Dan alam semesta menciptakan hal hal yang baik buat kita," tuturnya.—Rappler.com