Dijanjikan berdialog dengan Jokowi, Kartini Kendeng akhiri aksi tanam kaki di semen

JAKARTA, Indonesia - Sembilan perempuan asal Kendeng, Jawa Tengah pada Rabu malam, 13 April mengakhiri aksi menanam kaki dengan semen setelah dijanjikan bisa berdialog dengan Presiden Joko "Jokowi" Widodo. Janji itu disampaikan oleh Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki yang menyapa kesembilan perempuan tersebut di luar Istana Negara.

"Pak Presiden sudah beberapa kali bertemu dengan perwakilan warga yang menolak pembangunan (pabrik) semen ini dan kebetulan hari ini jadwal Beliau padat," ujar Teten yang didampingi Menteri Sekretaris Negara, Pratikno.

Jadi, Teten melanjutkan, pertemuan akan diagendakan di lain waktu. Sementara, sambil menanti kepastian waktu untuk bisa berkomunikasi dengan Jokowi, Teten menyebut akan terus berdialog dengan warga untuk memahami apa isi tuntutan mereka dan opsi yang bisa dibicarakan sebagai solusi.

"Kalau mengenai tanggal (pertemuan) belum tahu, karena sampai akhir bulan kan Beliau (Presiden) berada di luar negeri," tutur dia.

Sementara, koordinator aksi pemasungan kaki dengan menanam di semen, Gunretno, mengatakan mereka bersedia mengakhiri aksi tersebut karena masih percaya kepada pemerintah.

"Kami masih yakin pemerintah akan berdialog dengan masyarakat untuk menyelesaikan permasalahan di Pegunungan Kendeng," ujar Gunretno.

Simak video pembongkaran semen yang membelenggu kaki sembilan perempuan dari Kendeng yang diambil dari Facebook KontraS berikut:

Aksi kesembilan perempuan itu bermula dari penolakan pembangunan pabrik semen yang dilakukan oleh PT Sahabat Mulia Sakti (PT SMS), anak perusahaan Indocement. Akibat pembangunan pabrik tersebut, alam di pegunungan karst Kendeng bisa tercemar.

Ambarwati, satu dari sembilan perempuan yang ikut menanam kakinya dengan semen, bercerita kepada Rappler, saluran air ke sawah kini sudah terganggu. Penolakan itu bukannya didengar oleh Bupati Pati, tempat pabrik dibangun, melainkan pabrik malah diberi izin lingkungan (AMDAL).

Ambarwati mengatakan rela kedua kakinya disemen dan menahan sakit demi memperjuangkan kehidupan masa depan cucunya.

"Bagaimana nanti hidup mereka dengan adanya pabrik semen," kata dia.

Hal serupa juga disampaikan oleh Deni Yulianti. Dia mengatakan sejak hadirnya pabrik semen, tanaman dan sumber air yang menjadi sumber kehidupan masyarakat tercemar.

"Kami punya hak hidup, begitu pun anak cucu kami. Pegunungan adalah sumber mata air kami, namun selama dua tahun terakhir warga Grobogan harus membeli air saat musim kemarau panjang sebagai akibat dari pembangunan pabrik semen," tutur dia.- dengan laporan Febriana Firdaus, ANTARA/Rappler.com

BACA JUGA: