10 orang terbunuh dalam penembakan di Oregon

ROSEBURG, Amerika Serikat — Seorang pria bersenjata melakukan penembakan di Kampus Umpqua, Oregon pada Kamis, 1 Oktober, menyebabkan sepuluh orang tewas serta tujuh orang lainnya luka-luka. Sang pelaku tewas dalam baku tembak dengan petugas kepolisian.

Presiden Amerika Serikat Barack Obama meminta kerjasama semua pihak untuk mengawasi penggunaan senjata api, dan menyalahkan Kongres atas kinerja buruknya dalam mengatasi pembunuhan massal “rutin.”

Sang pelaku — yang diidentifikasi oleh media lokal sebagai Chris Harper Mercer (26 tahun) — melakukan penembakan di ruang kelas Kampus Umpqua di Roseburg, dan berpindah ke ruangan lain dengan mengarahkan senjatanya ke para korban, seperti keterangan para saksi.

Kepala Kepolisian Daerah Douglas John Hanlin mengatakan terdapat sepuluh orang yang terbunuh dan tujuh orang lainnya terluka parah. Hanlin mengatakan identitas korban tidak akan dipublikasikan dalam 24 hingga 48 jam ke depan.

Hanlin mengonfirmasi bahwa mereka telah berhasil mengidentifikasi pelaku penembakan, tetapi identitasnya juga tidak akan dipublikasikan.

“Anda tidak akan pernah mendengar saya menyebutkan namanya,” kata Hanlin. “Saya tidak akan memberinya kesempatan untuk menjadi tenar, seperti tujuannya, karena aksi brutal dan pengecutnya ini.”

Acara malam renungan untuk korban dilakukan pada Kamis, jam 8 malam waktu setempat yang rencananya akan dihadiri oleh 3.300 siswa Kampus Umpqua.

Seperti dikutip media setempat, para saksi menggambarkan adegan teror dan kepanikan jelas terlihat saat kejadian.

Seorang siswa bernama Cassandra Welding sedang berada di dalam kampus ketika ia mendengar 35 hingga 40 tembakan dari ruangan di dekatnya. Ia melihat siswa lain tertembak setelah membuka pintu kelas untuk melihat apa yang terjadi.

“Lalu kami mengunci pintu kelas, mematikan lampu dan … kami semua berada dalam keadaan panik dan berusahan menghubungi 911 dan orang tua kami dan (mengatakan) ‘aku sayang kalian’ karena kami tidak tahu apa yang akan terjadi, dan mungkin saja kata-kata tersebut adalah kata-kata terakhir kami.”

‘Kita jadi mati rasa’

Obama mengaku marah dan sedih atas terjadinya penembakan masal ini. Beliau menyalahkan kejadian ini kepada para pembuat kebijakan — dan yang memilih mereka — sehingga peraturan terhadap pengawasan penggunaan senjata sangat lemah.

“Entah bagaimana, kejadian ini telah menjadi rutinitas, dan kita jadi mati rasa,” tutur Presiden Obama.

“Kita sebenarnya bisa melakukan sesuatu, tapi kita harus mengubah hukum yang sekarang berlaku,” kata Obama dengan wajah yang terlihat marah.

“Hal ini bukanlah sesuatu yang bisa saya selesaikan sendirian. Saya harus mendapatkan dukungan dari Kongres, anggota dewan negara bagian, dan para gubernur untuk segera menghadapi permasalahan ini.”

“Kemudahan untuk mendapatkan senjata bagi orang yang ingin menyakiti pihak lain seharusnya tidak dapat dibiarkan,” jelas Obama.

Pihak kepolisian telah mendapatkan informasi mengenai penembakan masal ini sesaat setelah pukul 10:30 dan langsung menuju ke tempat kejadian, saat tragedi tersebut masih berlangsung.

Menurut penjelasan Hanlin, terjadi baku tembak antara pelaku dengan polisi, yang kemudian menewaskan si pelaku.

Pihak berwajib menyatakan akan terus melakukan investigasi terkait postingan di media sosial yang diduga milik pelaku. Beberapa laporan menyatakan bahwa sepertinya sebelum kejadian ini, pelaku telah mengumumkan rencana penembakan tersebut di dunia maya.

Laporan lainnya mengatakan bahwa pihak kepolisian telah menemukan empat senjata dan sebuah ponsel di tempat kejadian yang berkaitan dengan tragedi tersebut.

'Kami semua membeku'

Brady Winder, siswa lainnya di Umpqua, menyatakan bahwa ia sedang berada di kelas ketika tiba-tiba ia mendengar suara ledakan yang keras dari ruang kelas di sebelah.

Ia mengatakan, gurunya membuka pintu dan memeriksa apa yang terjadi, yang disambut dengan lebih banyak suara tembakan.

“Kami semua membeku dan berlarian keluar pintu,” kata Winder. “Saya benar-benar tidak dapat berpikir jernih.”

Polisi melakukan pencarian di seluruh kampus dengan bantuan anjing pelacak serta menggeledah para siswa dan guru, sebelum mereka dipulangkan dengan bus yang telah disediakan pihak berwajib.

“Kebanyakan dari kami punya kenalan yang bersekolah di sini,” tutur Kepala Bagian Senjata Kepolisian Daerah Douglas Ray Shoufler. “Bisa dikatakan, semua orang kenal satu sama lain.”

“Sehingga tentu saja kejadian ini berpengaruh terhadap banyak sekali orang.”

Penembakan di sekolah seolah telah menjadi bagian dari kehidupan warga Amerika Serikat dan banyak tempat yang telah meningkatkan pengamanannya dalam beberapa tahun terakhir, khususnya setelah terjadinya tragedi Sandy Hook pada 2012.

Dua puluh siswa dan enam orang dewasa mati dalam penembakan yang dilakukan oleh Adam Lanza di Sekolah Dasar Sandy Hook, Connecticut, Amerika Serikat.

Pada Rabu, 30 September seorang siswa yang berdebat dengan kepala sekolah di sekolah menengah South Dakota mengeluarkan senjata api dan menembak sang kepala sekolah, sebelum akhirnya dihentikan oleh staf lain.

Menurut catatan Mass Shooting Tracker sejak tragedi Sandy Hook telah terjadi 142 penembakan di sekolah di Amerika. — Laporan dari AFP/Rappler.com

BACA JUGA: