KPAI temukan dampak psikis pada anak Salim Kancil

 

LUMAJANG, Indonesia — Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengatakan melihat dampak psikisi terhadap anak petani Salim alias Kancil yang dibunuh oleh sekelompok orang akhir September lalu.

Dalam kunjungannya ke Desa Selok Awar-Awar, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur, KPAI menyayangkan dampak psikis yang dialami oleh anak Salim, Dio Eka Saputra (13 tahun), dan siswa-siswi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) lainnya yang menyaksikan penganiayaan aktivis tolak tambang tersebut pada 26 September 2015. 

"Kedatangan kami, ingin tahu langsung seperti apa dampak terhadap anak-anak atas peristiwa kekerasan yang dilihat oleh matanya," kata Wakil Ketua KPAI Susanto saat berkunjung ke Lumajang, Sabtu, 10 Oktober.

Sebelumnya, Salim tewas setelah dianiaya dan dibunuh oleh puluhan orang yang diduga sebagai mantan tim pendukung Kepala Desa Haryono. Ia ditangkap di rumahnya di hadapan Dio, sebelum disiksa di halaman Balai Desa, yang bersebelahan dengan gedung sekolah PAUD. 

Komplotan itu disebut sebagai Tim 12. Haryono sendiri dan 38 orang lainnya telah ditetapkan sebagai tersangka untuk kasus penganiayaan dan kasus tambang ilegal.

Selain mengunjungi Dio di rumahnya, KPAI juga menyambangi siswa-siswi PAUD yang melihat langsung Salim disiksa di Balai Desa.

Bupati Lumajang As’at Malik sebelumnya pernah mengatakan akan memberikan jaminan kepada anak Salim.

"Pendidikan dari Dio harus terjamin, karena bapaknya yang menjadi tulang punggung sudah tiada dan negara harus bertanggung jawab," kata Susanto.

"Kita akan berkoordinasi dengan Kementerian Pendidikan Nasional, untuk masalah di Selok," ujarnya.

Istri Bupati Lumajang, Tutuk Fajriatul Mutofiah, juga memberikan trauma healing kepada Dio dan anak-anak dari PAUD tersebut.

KPAI juga akan meminta ke Bupati Lumajamg serius menangani anak-anak untuk trauma healing. "KPAI akan mendampingi baik langsung dalam beberapa hari selama di Lumajang," kata Susanto. —Rappler.com

BACA JUGA: