Italia vs Spanyol: Perang dua komandan anyar

Dari kiri, Alesandro Florenzi, Graziano Pelle, dan Ciro Immobile saat berkunjung ke Stade de Lyon, lokasi tempat mereka akan bertanding melawan Belgia. EPA/SERGEY DOLZHENKO

Dari kiri, Alesandro Florenzi, Graziano Pelle, dan Ciro Immobile saat berkunjung ke Stade de Lyon, lokasi tempat mereka akan bertanding melawan Belgia.

EPA/SERGEY DOLZHENKO

JAKARTA, Indonesia — Selepas Euro 2016, Italia dan Spanyol mengalami nasib yang hampir sama. Kedua raksasa sepak bola Eropa itu harus berpisah dengan pelatihnya masing-masing.

La Furia Roja harus mengakhiri kebersamaan penuh gelar bersama Vicente Del Bosque. Selama lebih dari satu dekade, di tangan mantan pelatih Real Madrid itu Spanyol meraih hampir segalanya. Mereka menjuarai Piala Dunia Afrika Selatan 2010 dan Euro 2012. 

Del Bosque akhirnya digantikan pelatih yang jauh lebih muda, Julen Lopetegui. 

Situasi yang kurang lebih sama dialami Italia. Tim berjuluk Gli Azzurri tersebut harus beradaptasi kembali dengan allenatore (pelatih) anyar Giampiero Ventura. Bedanya, jika Del Bosque menangani Spanyol dalam waktu yang cukup panjang, tidak demikian halnya dengan Antonio Conte, pendahulu Ventura.

Conte menangani Italia setelah mereka babak belur di Piala Dunia 2014. Praktis, hanya 2 tahun Gianluigi Buffon dan kawan-kawan dibesut mantan pelatih Juventus tersebut. 

Namun, dalam 2 tahun yang singkat itu, Italia termasuk tim yang impresif. Terutama dalam penampilan mereka di Euro 2016. Dianggap sebagai pasukan paling buruk sepanjang sejarah tim, mereka justru mampu mengalahkan Spanyol 2-0 di fase grup dan lolos hingga ke perempat final. 

Sebaliknya, edisi terakhir Spanyol bersama Del Bosque justru porak poranda. Mereka sudah tersingkir sejak babak kedua Euro 2016. 

Dengan situasi tersebut, dua juru taktik dari kedua tim jelas ingin menampilkan performa meyakinkan tim asuhan mereka. Bahwa penunjukkan mereka sebagai komandan tim tidak salah. 

Di laga kompetitif pertama, baik Ventura maupun Lopetegui mampu meraih kemenangan. Italia menghajar Israel 3-1 sedangkan Spanyol membantai Liechtenstein 8-0.

Tentu, kedua lawan mereka tersebut bukan rival sepadan. Karena itu, dalam matchday kedua kualifikasi Piala Dunia Rusia 2018 grup G, bentrok kedua tim di Juventus Stadium, Turin, pada Jumat 7 Oktober pukul 01.45 WIB bakal menjadi ukuran sejauh mana transisi mereka di bawah pelatih anyar.   

Transisi Italia lebih mudah

Membandingkan Ventura dengan Conte memang sangat jauh. Terutama jika dilihat dari raihan piala di antara keduanya. Baik saat menjadi pemain maupun pelatih. Conte menjadi juara Eropa dan Italia saat masih aktif bermain di Juventus. Sebaliknya, Ventura paling mentok hanya bisa meraih gelar di Serie D, tiga kasta di bawah kasta tertinggi Serie A. 

Meskipun begitu, Ventura memiliki karakter yang membuatnya mendapat kepercayaan lebih. Selama membesut tim-tim Serie A seperti Bari dan Torino, dia adalah pelatih yang memberi ruang lapang bagi para pemain muda. 

Para pemain top seperti Matteo Darmian, Ciro Immobile, Lorenzo Insigne, Federico Bernardeschi, Andrea Belotti, Domenico Berardi, Andrea Ranocchia, dan yang kini sudah menjadi pemain senior, Leonardo Bonucci, adalah para pemain hasil besutannya.

Dengan skuat Italia warisan Conte yang semakin menua—trio BBC Giorgio Chiellini kini berusia 32 tahun, Andrea Barzagli 35 tahun, dan Leonardo Bonucci 29 tahun—masuknya Ventura bisa menjadi jalan untuk meremajakan tim.

Selain itu, tim juga tak bakal sulit beradaptasi dengan karakter permainan Ventura. Sebab, pilihan skema dia tidak jauh berbeda dengan Conte. Pelatih 68 tahun tersebut juga lebih suka memainkan formasi 3-5-2 bersama Torino. Karena itu, pilihan sistem yang sama kemungkinan bakal dia mainkan saat melawan Spanyol.

Apalagi, skema yang sama juga sukses menjungkalkan Spanyol 2-0 di Euro 2016. 

Jalan untuk pemain muda bisa langsung Ventura lakukan dalam laga tersebut. Satu dari trio BBC, Chiellini, tak bisa diturunkan karena akumulasi kartu kuning. Pilihan bisa jatuh kepada bek belia AC Milan Alessio Romagnoli yang masih 21 tahun.

“Jika Romagnoli bermain, ini akan menjadi langkah kecil menuju masa depan. Kita akan tahu apa yang bisa dia lakukan untuk tim,” katanya seperti dikutip Football Italia

Ventura tak peduli dengan suara-suara sumbang yang mengiringi pemain tersebut. Menurut dia, ini adalah pertaruhan. “Sama seperti saat saya memainkan Bonucci dan Ranocchia ketika Bari menghadapi Inter. Mereka juga ragu. Tapi ini adalah perjudian,” katanya.

Sebaliknya, Lopetegui harus lebih berusaha keras untuk membangun kembali skuat yang gagal di Euro 2016. Apalagi, paradigma yang berbeda diterapkan mantan entrenador (pelatih) Rayo Vallecano tersebut.

Jika Del Bosque mendasarkan tulang punggung permainan tim pada Barcelona—dibuktikan dengan dominasi pemain Blaugrana di tim—Lopetegui lebih variatif. Dalam laga melawan Italia, kemungkinan hanya 3 penggawa raksasa Catalan itu yang diturunkan.

Mereka adalah gelandang Sergi Busquets, Andres Iniesta, dan Gerard Pique. 

Sisanya adalah para pemain dari Manchester City, Chelsea, Real Madrid, dan Atletico Madrid. Posisi penyerang akan diisi Diego Costa (Chelsea), sedangkan trio gelandang dalam format 4-3-3 akan diemban Koke (Atletico), Iniesta, dan Busquets. 

Dengan variasi latar belakang klub tersebut, Lopetegui harus bekerja lebih keras. Bahkan jauh lebih keras dibanding Del Bosque. Sebab, para penggawanya bermain di klub-klub dengan karakter permainan yang sangat berbeda.

Memang, Spanyol tak harus memaksakan kemenangan untuk meladeni Italia. Apalagi jika bermain di Turin, Italia sulit dikalahkan. Sebab, setelah ini tim matador tersebut akan menghadapi tim lemah Albania. Namun, Lopetegui tak ingin fokusnya terbelah.

“Kami sangat fokus ingin mengalahkan Italia. Apa yang terjadi sesudahnya akan kami pikirkan kemudian,” katanya seperti dikutip Marca.—Rappler.com