Membangkitkan lagu-lagu terlarang yang sudah dihapus dari sejarah


Dekon nike tuhu wejangane becik. Margi kesaratan mangda ical je sayahe. De je uyut mesogsag mengajak timpal. Bersatu pang teguh, rakyat buruh tani musuhe nu galak tikus tikus ekonomi. De mengugu pencoleng mebaju gagah. Jalan jani luh muani, cerik kelih tua bajang bersatu apang je teguh, menyarengin nasakom menjadi inti.


(Dekon itu wejangan yang baik. Jalan kemakmuran agar hilang penderitaan. Jangan ribut bertengkar dengan teman. Bersatu agar teguh, rakyat buruh tani musuh kita masih merajalela, tikus-tikus ekonomi. Jangan percaya penghasut berbaju gagah. Mari sekarang laki-perempuan, kecil-besar, tua-muda bersatu agar teguh mengikuti nasakom menjadi inti.)

Lagu ini berjudul Dekon, karya Ketut Putu. Liriknya tajam, kritis, sekaligus lantang. menjadikan Dekon reflektif dan bikin malu setengah mati. Malu pada diri sendiri yang masih menstigma Ketut Putu dan korban-korban pembantaian mereka yang dicap komunis.

Kisah Ketut Putu sungguh membuat hati teriris. Ketut Putu adalah seniman Bali yang berasal dari kota Singaraja, di utara pulau Bali. Ketika tahun 1965 usia Ketut Putu masih 30-an tahun. Namun kemampuannya meramu sebuah lagu dari pidato Soekarno sampai realitas sosial yang ada di masyarakat membuat namanya terkenal di masa itu. Bukan hanya lagu “Dekon” yang lahir darinya tapi ada juga beberapa lagu lain, seperti: “Genta Suri”, “Nasakom Bersatu”, “Prapat Agung”, dan lainnya.

Keahliannya menciptakan lagu bertema perjuangan pada masa itu membuat ia dikenal masyarakat sebagai pencipta lagu-lagu revolusioner berbahasa Bali. Selain sebagai pencipta lagu Ketut Putu juga seorang penyair handal di Bali. Sebagai seorang yang aktif di dunia sastra dan seni Ketut Putu juga aktif menjadi anggota Lekra, sebuah organisasi progresif yang terdiri dari para budayawan, sastrawan, seniman yang menolak imperialisme dan feodalisme di Indonesia.

Lekra ketika itu tempat berkumpulnya para seniman dan sastrawan yang memiliki komitmen perjuangan bagi rakyat tertindas. Menurut catatan Roro Sawita, peneliti muda tentang korban peristiwa 65, di Bali sekitar tahun 60-an, lagu “Dekon” adalah lagu wajib dalam pementasan-pementasan yang diorganisir Lekra di kampung-kampung, hampir di seluruh Bali.

Dengan lirik yang singkat dan padat, plus berbahasa Bali, semakin memudahkan para pendengar memahami maknanya. Lirik lagu “Dekon” yang diciptakan oleh Ketut Putu sebenarnya diambil dari kutipan pidato Presiden Soekarno pada Tanggal 28 Maret 1963 di Jakarta, yang berjudul “Deklarasi Ekonomi”. 

Ketut Putu disebut mati akibat tragedi kemanusiaan 1965/66 di Bali.

Para saksi hidup hanya bisa menerangkan bahwa Ketut Putu adalah adik kandung Putu Shanty, seorang sastrawan Lekra dari Singaraja. Putu Shanty juga turut menjadi korban kebiadaban yang disponsori tentara itu. Tubuhnya diseret oleh mobil dan disaksikan banyak orang.

Suasana dalam penjara.
“Bagaimana mungkin seorang yang merakyat, seorang penyair berbakat dan genius di bidang musik dibunuh dan dihilangkan dengan begitu tragis,” kata Roro dalam artikelnya. Namun jangankan Ketut Putu yang sudah dikenal, mereka yang dulu hanya mendengar dan menyanyikan lagunya saja sudah bisa dituduh PKI.

Lagu karya Ketut Putu sudah dilupakan. Komunitas65 harus menanyai para saksi sejarah yang masih hidup. Para penyintas diminta mengingat bagaimana lirik dan nadanya ketika itu. Made Mawut dari Komunitas65 mulai mencocokkan kuncinya dengan gitar. “Setelah mereka menyetujui baru saya nyayikan depan mereka,” kata Made Mawut.

Made bercerita bahwa salah seorang penyintas perempuan, Bu Pasek, memberikan lirik dan notasi. Namun tak bisa lagi menyayikan karena sudah pikun dan pendengaran melemah. Tapi dari notasi itu, Mawut mencoba mereka-reka lagunya. Proses ini berjalan sejak 2012.  

Koalisi untuk Keadilan dan Pengungkapan Kebenaran (KPKK) dan Taman 65 sudah meluncurkan album dan buku yang lengkapnya berjudul Prison Song: Nyanyian yang Dibungkam ini Agustus lalu. Selain Made Mawut dan Kupit, ada Jerinx-Superman Is Dead mendendangkan Di Kala Sepi Mendamba dengan gaya rockabilly. Lirik karya Ni Ketut Kariasih, arranger Pak Atjit.

Kariasih juga adalah kisah tragis. Dia ditangkap ketika masih menyusui bayinya pada akhir 1965. Suaminya sudah ditangkap duluan dan tak tahu rimbanya. Rumahnya dibakar massa. Beberapa kali ditangkap dan diinterogasi, terakhir ditahan di Penjara Pekambingan lokasi penyiksaan penyintas di Bali (kini jadi pertokoan di Jl Diponegoro Denpasar). Tak terbayangkan bagaimana ketabahannya sampai lirik lagu itu tercipta.

Ada juga Sekeping Kenangan karya Amirudin Tjiptaprawira aka Pak Atjit. Dalam beberapa baris, Pak Atjit secara gamblang mengungkap jejak kekejaman perampas kehidupan ini.

“Kau hadir duhai Buyung dalam derita. Tangismu ayah tiada mendengarnya. Hanya diiringi derai air mata suci bunda. Kau songsong hidup ini penuh luka. Namun demikian Buyungku seorang kuyakin Sang Hyang Widi berserta engkau sayang. Besarlah lekas besar ibu doakan slalu jadilah pahlawan nusa bangsamu.”

Pak Atjit dan Ida Bagus Santosa dalam Tini dan Yanti secara halus bisa melecut generasi kini (termasuk Jokowi-JK) untuk membongkar buku-buku sejarah sekolah yang dengan gemilang menjadikan korban dan penyintas 65 sebagai penjahat.

“Tini dan Yanti, kepergianku buat kehadiran di hari esok yang gemilang. Jangan kecewa, meski derita menantang, itu adalah mulia. Tiada bingkisan, hanya kecintaan akan kebebasan mendatang. La historia me absolvera, La historia me absolvera.”

Gde Putra menulis syair “La Historia Me Absolvera” dikutip dari kalimat Fidel Castro saat dia memberikan pidato pembelaan di pengadilan pada 1953. Pemimpin revolusioner Kuba ini diadili karena menyerang Moncada Barack, markas tentara pemerintah. Penyerangan ini menjadi tonggak revolusi di Kuba.

Syair tersebut dalam bahasa Indonesia berarti sejarah akan membebaskan kita semua. Salah satunya jejak sejarah Prison Songs ini. - Rappler.com

BACA JUGA