LINI MASA: Carut marut Lion Air dari waktu ke waktu

JAKARTA, Indonesia - Tak dapat dipungkiri lagi, Lion Air adalah salah satu maskapai yang banyak menerima protes dari penumpang. Mulai dari perkara keterlambatan waktu berangkat hingga menurunkan penumpang di terminal yang salah, sudah pernah terjadi.

Berikut lini masa kasus Lion Air yang pernah hangat dibicarakan masyarakat dan tentu membuat penumpang merasa emosi: 

14 Desember 2016

Ratusan pengguna jasa Lion Air dengan nomor penerbangan JT-867 "tersandera" di dalam pesawat selama 1,5 jam di Bandara Tjilik Riwut, Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Hal itu akibat salah satu ban pesawat tergelincir dari landasan tak lama usai mendarat dari Jakarta. 

Sayang, selama berada di dalam pesawat, pendingin udara justru dimatikan. 

"Bisa dibayangkan bagaimana rasanya 1,5 jam berada di dalam pesawat dengan mesin hidup tetap tanpa AC menyala," ujar salah seorang penumpang begitu menjejakan kaki di gedung terminal. 

Dia kecewa karena manajemen Lion Air mengabaikan keinginan mereka untuk turun dari pesawat pasca mendarat. Sejumlah penumpang terlihat pucat dan bermandi keringat karena dilarang keluar pesawat. Kendati mengalami kecelakaan minor, pesawat Lion Air kembali mengangkut penumpang sekitar pukul 16:30 WITA.

31 Juli 2016

Sedikitnya 5 penerbangan terlambat berjam-jam sehingga memicu kemarahan penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada Minggu, 31 Juli, hingga Senin, 1 Agustus.

Kelima penerbangan yang terlambat tersebut adalah:

Akibatnya, Kementerian Perhubungan memanggil Direksi PT Lion Mentari Airlines, untuk meminta penjelasan. Meski demikian, Lion belum dikenakan sanksi atas kejadian tersebut.

"Kami harus evaluasi menyeluruh dulu, faktor apa saja yang memicu keterlambatan. Tak bisa semena-mena memutuskan," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub Hemi Pamuharjo yang disampaikan di kantor Kemenhub pada Selasa, 2 Agustus.

Presiden Direktur Lion Group Edward Sirait menyempatkan diri untuk meminta maaf atas kejadian tersebut. "Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya," kata dia.

10 Mei 2016

Pesawat Lion Air JT 161 dengan rute internasional mendarat di terminal kedatangan domestik Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang. Akibatnya, beberapa penumpang termasuk warga negara asing (WNA), yang berangkat dari Singapura itu keluar bandara tanpa melalui pengecekan imigrasi.

Direktur Angkasa Pura II saat itu, Budi Karya Sumadi, menjelaskan yang terjadi adalah pesawat Lion Air dengan rute penerbangan SIN-CGK tersebut mendarat dan parkir di Remote D/R 51, atau sudah berada di area internasional.

Kemudian penumpang dijemput oleh bus ground handling. Dalam perjalanan bus, terjadi pergantian pengemudi dan tanpa ada alasan penumpang dibawa ke terminal I-B Gate B2.

Hemi kemudian menjelaskan kalau kesalahan berada di ground handling Lion Group. Atas kesalahan ini, mereka dikenakan sanksi pembekuan pelayanan di darat.

10 Mei 2016

Ratusan pilot Lion Air melakukan aksi mogok terbang karena uang transport mereka terlambat diturunkan. Akibatnya, penerbangan maskapai berlambang singa merah tersebut mengalami keterlambatan di 5 bandara: Manado, Makassar, Lombok, Bali, dan Yogyakarta.

Namun, masalah tersebut akhirnya tuntas setelah pihak perusahaan memenuhi tuntutan para pegawai. Sekitar pukul 11 siang, para pilot sudah kembali bekerja seperti biasanya.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait melalui keterangan tertulisnya mengungkapkan, sejumlah awaknya memang ada yang mengalami masalah administrasi. Masalah itu dinilai berdampak pada jadwal penerbangan pesawat Lion Air di tempat-tempat tertentu.

"Saat ini, masalah administrasi sudah dapat diselesaikan dan operasional penerbangan sudah kembali normal. Ke depannya, masih ada beberapa penerbangan yang akan mengalami keterlambatan dan kami akan berusaha untuk mengurangi keterlambatan tersebut. Kami atas nama manajemen Lion Air mohon maaf atas ketidaknyamanan ini," ujar Edward.

Atas peristiwa ini, hukuman juga diberikan untuk Lion Air berupa penundaan pemberian rute baru selama enam bulan ke depan atas tertundanya beberapa jadwal penerbangan. Hal tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 30 Tahun 2015.

"Kita tidak berikan rute baru selama enam bulan, itu sanksi ada delay dan sebagainya," tutur Direktur Jenderal Perhubungan Udara Suprasetyo, yang saat itu masih menjabat.

2 Mei 2016

Dua pesawat Lion Air 330 dengan nomor penerbangan JT02 rute Jakarta-Denpasar dan pesawat Lion Air 737-800 dengan nomor penerbangan Jakarta-Manado bersenggolan di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta (Soetta).

Ketika keduanya selesai mundur dari apron menuju taxi way untuk lepas landas di runway, ujung sayap keduanya bersenggolan. Karena senggolan 2 pesawat Lion Air itu, penerbangan pun dibatalkan, baik yang akan ke Denpasar ataupun ke Manado.

Penumpang langsung dievakuasi dan dinaikan ke pesawat pengganti. Sehingga tidak ada delay atau pembatalan keberangkatan.

5 Januari 2016

Polisi menangkap empat pencuri barang penumpang pesawat di Bandara Internasional Soekarno Hatta. Pelakunya adalah petugas angkut barang Lion Air berinisial S (22) dan M (29), serta petugas keamanan Lion Air A (28) dan H (29).

Polda Metro Jaya mengungkap para pelaku menjalankan modus dodos atau membuka tas dan mengambil barang milik penumpang di kompartemen atau lambung pesawat,

S kemudian mengaku kalau kebiasaan ini sudah turun-temurun dilakukan oleh pekerja porter Lion Air. Dia mengatakan akan ditekan senior jika tidak mencuri. Petugas keamanan maskapai berperan memuluskan pencurian tersebut dengan melihat kondisi sekeliling sebelum membongkar tas penumpang.

Terungkapnya sindikat pencuri ini berawal dari laporan pencurian pada 16 November 2015 lalu. Petugas Polres Bandara Soekarno melakukan penelusuran pencurian tersebut, dan mengungkap para pelaku lewat rekaman kamera CCTV.

27 Desember 2015

Kartini Kongsyahyu, seorang penumpang Lion Air dengan nomor penerbangan GT 926 rute Denpasar (Bali) -Makassar (Sulawesi Selatan) menuliskan kisah mengerikannya di akun media sosialnya. 

Pengalaman mencekam itu terjadi setelah beberapa menit pesawat Lion Air lepas landas. Kartini mengaku mendengar bunyi gemuruh di pesawat yang ditumpanginya.

"Nah, saat lepas landas mulai terdengar suara aneh. Suara gemuruh keras seperti bunyi 10 vacuum cleaner atau 20 hair dryer dinyalakan bersamaan. Awalnya saya pikir bunyi suara hujan, tapi saat saya melihat ke luar jendela, ternyata cuaca agak sedikit berawan dan pesawat agak sedikit berguncang," tulis Kartini dalam akun Facebook-nya.

Saat itu, kata dia, awak pesawat mengumumkan jika burung besi itu akan kembali ke Denpasar karena kerusakan teknis, sementara lampu indikator tanda bahaya juga terus berkedip-kedip.

"Alangkah kagetnya saya saat turun di landasan sudah standby mobil SAR (berarti mereka sudah siap-siap dengan hal yang gawat, kan?). Ternyata kerusakan yang terjadi ada di pintu depan pesawat yang tidak bisa tertutup rapat," tulis Kartini.

"Itulah penyebab suara bising badai yang saya dengar sedari pesawat tinggal landas. Bisa Anda bayangkan kalau tekanan udara kuat, maka bisa membuat kabin pesawat hancur seketika."

Public Relations Manager Lion Air Group, Andy M Saladin, menyatakan, saat peristiwa itu terjadi pilot memutuskan untuk kembali ke Denpasar demi keselamatan penumpang.

Dia mengatakan seluruh penanganan sudah dilakukan sesuai prosedur yang berlaku. Lion Air juga melakukan investigasi terkait penyebab kerusakan pada pintu pesawat tersebut.

20 Desember 2015

Pesawat Lion Air JT-772 tujuan Jakarta-Makassar, terpaksa mendarat di Bandara Surabaya. Ini terjadi lantaran temperatur udara di kabin terlalu dingin hingga membuat air membeku.

Pesawat tersebut lepas landas sekitar pukul 21.00 WIB, Senin 20 Desember 2015 dari Jakarta menuju Makassar. Namun saat mengudara, udara di kabin pesawat tiba-tiba menjadi sangat dingin, bahkan beberapa tempat di kabin, seperti di lantai pesawat muncul bunga-bunga es.

14 November 2015

Seorang penumpang bernama Lambertus Maengkom mengadukan keluhannya terhadap Lion Air di dalam pesawat tersebut melalui situs Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Salah satu aduannya adalah suara desahan yang terdengar lewat pengeras suara saat pesawat sedang mengudara.

Dalam penerbangan Lion Air JT 990 pada Sabtu, 14 November 2015, pukul 19.15 WIB, dengan rute Surabaya-Denpasar, beberapa kali ada tawaran pramugari yang berstatus janda kepada para penumpang menggunakan pengeras suara.

Suara desahan dari pengeras suara kabin sendiri terdengar selama perjalanan sehingga para penumpang resah dan takut akan keselamatan mereka. Penerbangan pesawat kala itu juga terlambat tiga jam dari jadwal.

Direktur Umum Lion Air Edward Sirait menjelaskan suara mendesah yang dimaksud bukan seperti yang diberitakan.

"Namun, ketika co-pilot melakukan announcement, napas co-pilot tersebut seperti tersengal-sengal karena cara bicaranya memang seperti itu. Selain itu, posisi mic pada saat itu terlalu dekat dengan bibir sehingga pada saat menarik napas atau pada saat mau berbicara, terdengar seperti desahan," kata Edward.

Dalam hasil investigasinya juga ditegaskan bahwa co-pilot tidak dalam keadaan mabuk atau pengaruh narkoba seperti yang diberitakan dan dalam keadaan sehat. Hal ini diperkuat kesaksian pilot dan awak kabin yang lainnya.

Namun,  pihak Lion tetap menjatuhkan hukuman pelanggaran prosedur pengumuman terkait ucapan ulang tahun dengan pelarangan terbang (grounded).-Rappler.com