Presdir Lion Air minta maaf maskapainya delay 5 penerbangan

 

JAKARTA, Indonesia – Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi memanggil Direksi PT Lion Mentari Airlines, pada Selasa, 2 Agustus, untuk dimintai keterangan terkait penyebab keterlambatan (delay) penerbangan.

Sebelumnya, sedikitnya 5 penerbangan terlambat berjam-jam sehingga memicu kemarahan penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Cengkareng, pada Minggu, 31 Juli, hingga Senin, 1 Agustus.

Kelima penerbangan yang terlambat tersebut adalah:

Presiden Direktur Lion Air Group Edward Sirait memenuhi panggilan Menhub di kantornya di Jakarta, pada Selasa pagi.

Banyak faktor penyebab keterlambatan

Usai pertemuan selama lebih dari 1 jam, Edward mengatakan pihaknya telah menyerahkan seluruh data dari kejadian tersebut ke Menteri Budi. Edward juga meminta maaf terhadap seluruh pihak yang dirugikan atas delay 5 penerbangan itu.

"Kami meminta maaf yang sebesar-besarnya," kata Edward.

Meski demikian, ia tidak membeberkan faktor apa saja yang menyebabkan ratusan penumpang terlantar di Bandara Soekarno-Hatta. Menurutnya, ada banyak faktor penyebab.

Pertama, ada faktor yang masih bisa dikendalikan seperti ground handling penumpang, juga keterlambatan bagasi, Air Traffic Controller, maupun kepadatan bandara. Namun, ada juga yang tak bisa diprediksi seperti faktor cuaca.

Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenhub Hemi Pamuharjo mengatakan pemerintah juga tidak bisa semena-mena menetapkan sanksi atas kejadian ini.

"Kami harus evaluasi menyeluruh dulu, faktor apa saja yang memicu keterlambatan. Tak bisa semena-mena memutuskan," kata Hemi.

Tim investigasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara tengah memeriksa bandara-bandara yang bersangkutan, dan hasilnya akan disampaikan secepat mungkin.

"Nanti tak hanya untuk Lion Air, tapi juga ke seluruh maskapai lain untuk meningkatkan performa transportasi udara," kata Hemi.

Selain beberapa faktor penyebab keterlambatan yang disebutkan di atas, salah satu faktor lain adalah penutupan landasan pacu Bandara Internasional Juanda, Surabaya, karena adanya pekerjaan perbaikan (overlay) landasan.

Menhub Budi telah memberi instruksi pada PT Angkasa Pura I, selaku pengelola bandara, untuk memperpanjang jam operasional bandara, dari awalnya hingga pukul 22:00 WIB menjadi pukul 24:00 WIB.

"Saat ini sedang kami proses dan akan kami berlakukan secepatnya," kata Budi.

Kompensasi dan sanksi

Untuk saat ini, belum ada sanksi yang akan dijatuhkan ke maskapai Lion Air. Namun, Hemi membantah saat dikatakan Kemenhub cenderung lembek menghadapi penerbangan berlambang singa merah tersebut.

"Kan kalau dari yang Mei lalu sudah kami beri sanksi, dan Lion Air juga menuruti dan melakukan perbaikan yang signifikan," kata Hemi, merujuk kepada insiden penumpang yang keliru diturunkan di terminal kedatangan domestik pada 18 Mei lalu.

Edward membenarkan hal tersebut. Sejak dilarang menambah jalur penerbangan pada Mei lalu atas kendala ground handling, ia menilai performa perusahaannya sudah meningkat.

"Sejak Mei sampai Lebaran kemarin, on time performance kami mencapai 73, dan nyaris tepat waktu semua," kata Edward. Untuk kasus ini, perusahaannya juga masih mengkaji penyebab utama.

Asosiasi Pilot Lion ikut protes

Namun, masalah Lion Group tak berhenti hanya di bandara saja. Serikat Pekerja Asosiasi Pilot Lion Group (SP-APLG) menyampaikan protes atas praktik tata kelola manajemen perusahaan Lion.

Ketua SP-APLG Eki Adriansjah mengatakan harusnya perusahaan penerbangan itu mengikuti kaidah-kaidah tata kelola perusahaan yang baik serta menaati seluruh regulasi dan perundangan yang berlaku.

"Namun pada kenyataannya SP-APLG merasakan hal tersebut tidak tecermin dalam praktik manajemen Lion Air selama ini, khususnya dalam aspek ketenagakerjaan," ujarnya dalam keterangan tertulis.

Menanggapi hal ini, Edward mengatakan akan mengklarifikasi terlebih dahulu apakah memang pegawai perusahaannya yang memprotes carut marut manajerial Lion Air.

"Saya pastikan dulu. Tidak, saya belum tahu apa beritanya," kata Edward.Rappler.com