Logo palu arit: Beda generasi, beda persepsi

Setelah Simposium Nasional 1965 dihelat pada April lalu, palu arit tiba-tiba menjadi isu yang ramai. Yang disebut simbol Partai Komunis Indonesia (PKI) ini tidak sekadar jadi bahasan media dan perbincangan di media sosial, tapi juga melibatkan polisi dan TNI.

Kasus yang terbaru adalah pemeriksaan IM, seorang pemilik toko di Blok M, yang menjual baju bergambar palu arit, oleh polisi. Dia sudah menjual kaus tersebut selama tiga bulan, namun baru Minggu, 8 Mei, dibawa ke Polsek Metro Kebayoran Baru. Dia bukan satu-satunya dalam kurun sepekan.

Tiga hari sebelumnya di Sulawesi Selatan ada kejadian serupa. Muhammad Agus Faisal tak sadar ia tengah dikuntit oleh Sersan Kepala Ryckye dan Serka Syamsuddin. Pemuda itu dibuntuti karena memakai kaus merah dengan gambar palu dan arit.

Agus akhirnya dicegat di RSUD Padjonga Dg. Ngalle, Takalar, Sulawesi Selatan. Hari itu juga, Kamis, 5 Mei, Agus digiring ke ruang intel Kodim 1426/ Takalar dan belum ada informasi lagi soal motivasinya memakai kaus “lambang PKI” itu.

Penindakan oleh aparat juga pernah dilakukan pada November 2015. Aparat TNI menyita mainan tentara dengan bendera bergambar palu-arit buatan Tiongkok di Yogyakarta. Si penjual mengaku tak tahu itu simbol PKI.

Tak cuma oleh TNI dan polisi, tindakan menghakimi palu arit ini juga dilakukan oleh pengguna media sosial dan anggota lembaga swadaya masyarakat di jalan.

Puteri Indonesia 2015, Anindya Kusuma Putri, dikritik karena mengunggah fotonya mengenakan kaus merah bergambar palu arit. Anindya membantah mendukung komunisme, sebab kaus tersebut diberikan peserta Miss Universe asal Vietnam saat kegiatan tanam pohon bersama di negara itu. 

“Selama kegiatan itu aku sering bertukar t-shirt dengan 130 negara lainnya. Aku berikan kaus lambang garuda, mereka kasih masing-masing lambang negara," kata Anindya.

Lantas yang paling viral adalah video seorang pemuda yang tidak jelas identitasnya dipukul oleh lelaki setengah baya di jalan raya karena memakai “PIN PKI”. Tidak jelas kapan kejadiannya. Tidak jelas di mana kejadiannya. Tidak jelas identitas pemuda tersebut.

Bila dilihat sekilas, pengendara bermotor yang mengenakan PIN tersebut terlihat masih muda, sementara pelaku pemukulan sudah cukup berumur. Dari video jelas terlihat bahwa mereka berniat mengejar pemuda tersebut dengan mobil dan menghentikannya.

Si pelaku pemukulan yang mengaku anak tentara mengatakan, “Ini sampeyan dari mana?” Dia bertanya sambil mengambil PIN berwarna oranye dengan logo palu arit dari dada pemuda itu. “Lu kenapa pakai PIN PKI?”

“Saya bukan PKI!” jawab pemuda.

 “Kalau bukan PKI kenapa pakai ini?”

“Saya enggak tahu, Pak. Saya enggak sengaja. Demi Allah bukan. Sorry.”

Pelaku juga mengancam akan “menghabisi sang pemuda” karena tidak menghargai perjuangan para pendahulu. Mereka juga memaksanya untuk menyanyikan Indonesia Raya dan menanyakan sila kedua Pancasila.

Secepat reaksi media menyebarkan berita tanpa mengklarifikasi lebih jauh, video ini juga viral di Internet. Ada yang mengecam aksi main hakim sendiri yang tak dicegah oleh polisi yang ada di lokasi, namun ada juga yang merestui pemukulan itu. Ikut menghakimi dengan menyalahkan pemuda yang mengenakan PIN palu arit tersebut. 

Malah ada yang mengunggah ulang video tersebut di YouTube ditambah komentar seperti di bawah ini:

“Sebagian juga mempertanyakan kejujuran si pemuda tersebut yang mengatakan kalau dia tidak tahu. Masa enggak tahu kalau itu PIN PKI?”

Lantas benarkah penjual mainan di Yogyakarta benar-benar tak tahu pada dagangannya ada simbol PKI? Atau mengapa Anindya tidak segera menolak ketika diberikan kaus berlogo palu arit?

Beda generasi, beda persepsi

Yang tidak dipahami oleh banyak pihak, termasuk si pemukul “pemuda pin PKI” adalah, bahwa beda orang, beda juga persepsi dalam mengartikan suatu sign atau tanda. Tanda, menurut filsuf Edmund Husserl, mengindikasikan sesuatu yang lain. Asap mengindikasikan keberadaan api. Lalu apakah palu arit mengindikasikan komunisme?

Buat mereka yang sudah cukup umur untuk memahami peristiwa 1965, mereka mungkin langsung mengaitkan tanda palu arit dengan komunisme. Buat anak-anak orang yang pernah mengalami langsung peristiwa tersebut, mereka mungkin hanya mengetahui tapi tidak memiliki memori langsung terkait peristiwa.

Buat mereka yang lahir pada 1980-an, generasi ketiga di bawah mereka yang mengalami langsung peristiwa tersebut, tanda tersebut bisa jadi tidak berarti apa-apa. Bisa jadi malah dianggap sesuatu yang “keren”.
 
Kenapa begitu? Dalam kerangka berpikir Husserl, untuk mengaitkan antara tanda dengan apa yang ditandainya (petanda) memerlukan seseorang dengan pemahaman yang telah dimiliki sebelumnya.

Sederhananya seperti ini. Orang yang mengklaim mengalami siksaan PKI mungkin tidak hanya mengaitkan antara palu arit dengan PKI, tapi juga dengan kepedihan karena kehilangan keluarga. Generasi di bawahnya, mungkin akan mengaitkan palu arit dengan PKI plus mengingat kembali ada keluarganya yang pernah punya pengalaman buruk dengan PKI.

Generasi di bawahnya lagi mungkin tidak cuma memiliki memori apa pun, tapi juga bisa saja tidak tahu kalau palu arit itu di kepala sebagian orang adalah petanda dari PKI. Bagi mereka, apalagi dalam kebingungan pelajaran sejarah yang tak konsisten, PKI tidak terkait dengan mereka.

Mari kembali ke peristiwa pemukulan. Si pelaku mengaku anak tentara, mengaku kalau “abang-abangnya” banyak menjadi korban di Operasi Seroja, operasi tentara Indonesia melawan kubu Fretilin yang berhaluan kiri. 

Baginya, bila pernyataan benar, palu arit mungkin dimaknai sebagai pengorbanan besar-besaran dari orang-orang di dekatnya. Sehingga penggunaan tanda itu oleh si pemuda bisa menjadi perlambang perlawanan terhadap pengorbanan.

Sementara itu si pemuda terus mengklaim tidak tahu. “Saya kagak tahu, demi Allah.” Anda dan saya tidak bisa memaksa dia untuk mengaku kalau dia tahu. Bisa jadi memang dia tahu, atau tidak tahu. Dia mungkin terputus dari sejarah atau mengalami kebingungan sejarah bangsa.

Terus bagaimana menyikapinya? Kalau si pelaku memang berniat mencegah paham komunis berkembang, dia bisa melakukannya dengan gaya komunikasi yang disesuaikan dengan generasi yang jadi sasarannya.

Komunikasi harus dilakukan dengan tepat, khususnya menyampaikan signifikansi kenapa dia harus tahu dan peduli. Kalau disampaikan dengan pemukulan, pemaksaan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pemaksaan mengucapkan Pancasila, apakah dia akan paham?

Kalau segenap rakyat di media sosial mengecam si pemuda atau pemakai simbol-simbol palu arit lainnya, akankah itu membuat mereka tiba-tiba jadi setuju dengan niatan menyatakan komunisme tidak boleh ada di Indonesia? Tidak, dia tetap terlepas dari sejarah yang bahkan sampai saat ini masih memerlukan klarifikasi.

Jangankan paham, dia mungkin malah akan semakin antipati. Jangan salahkan dia, maukah Anda menelan omongan orang yang berceloteh mengenai bahaya komunisme sambil memukuli Anda dan mengancam menghabisi Anda?

Alih-alih menangkap, memukuli, pahamilah dulu bahwa persepsi terhadap suatu hal bisa berbeda. Memaksa dengan kekerasan dan mencela hanya berpotensi membuat mereka makin antipati. —Rappler.com

Camelia Pasandaran adalah dosen komunikasi dan jurnalistik Universitas Multimedia Nusantara. Sebelumnya dia bekerja sebagai jurnalis yang berfokus pada isu keberagaman dan toleransi.

BACA JUGA: