Lubang Buaya dan pola pemerkosaan massal yang berulang di Indonesia

DEN HAAG, Belanda — Sore hari kedua, Rabu, 13 November, Pengadilan Rakyat Internasional untuk 1965, ruangan sidang itu senyap. Yang terdengar hanya suara Tintin Rahayu bicara, lalu terisak. Tak mengindahkan pertanyaan jaksa apakah ingin jeda sejenak, perempuan itu meneruskan kesaksiannya.   

Saya ditelanjangi dan disuruh naik ke atas meja. 

"Mengaku tidak kalau kamu melakukan gerakan politik?" 

Tidak, saya tidak bisa mengaku.

Mereka mencecar tubuh saya dengan puntung rokok.

Bulu kemaluan dan rambut saya dibakar.

Saya hanya bisa berkata, ‘Yesus, Yesus…’

Mereka makin marah. ‘Kamu ateis, kenapa kamu sebut Yesus, Yesus!’

Tintin adalah satu dari sekian banyak perempuan yang ditangkap dengan tuduhan menjadi anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) setelah peristiwa 1965. Selama 11 tahun penahanan, ia harus bertahan menerima kekerasan seksual berulang-ulang. 

Ada banyak momen saat dia merasa hidupnya sudah berakhir. 

"Berapa lama kamu ikut gerakan politik? Berapa orang di sana?"                

Saya jawab, ‘Saya tidak ikut. Saya sudah hidup mapan sebagai mahasiswi dan guru.’                

Saya lalu ditendang dan ditelanjangi.                

Saya disuruh menciumi kelamin mereka.                

Setelah selesai mereka semua di situ, saya ditanya lagi hal yang sama.                

Saya dimaki kenapa diam saja.              

Saya dipaksa telungkup, diinjak-injak, rambut saya digunduli.                

Setelah itu saya tidak ingat lagi. Semuanya gelap.

Lima puluh tahun berlalu, namun Tintin ingat dengan jelas siapa penyebab kesengsaraannya. 

"Yang menangkap saya CPM (Corps Polisi Militer) dan tentara. Yang menyiksa saya yang paling kejam. Boleh saya menyebut namanya?”

Hening sejenak. Sebelum Tintin melanjutkan, “Lukman Sutrisna.”

Lukman adalah mendiang guru besar Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Tintin akhirnya mengetahui ia tidak sendirian setelah dipindah ke Plantungan. Di tahanan khusus perempuan itu, ia bertemu banyak perempuan yang bernasib serupa. 

Pertanyaan mereka pun serupa: Mengapa mereka harus mengalami perlakuan seperti itu?

Kesaksian Tintin dan para perempuan penyintas 1965 merupakan kesaksian dari para perempuan yang bertahan hidup. Sementara, mereka yang mati tidak bisa bersaksi. 

"Suara-suara mereka ini tidak bisa kita kumpulkan lagi," kata Saskia Wieringa, antropolog Universitas Amsterdam yang menjadi saksi ahli untuk dakwaan Kekerasan Seksual di Pengadilan Rakyat Internasional, atau International People’s Tribunal (IPT), 1965 ini.

Wieringa berkata, di Purwodadi, terdapat kuburan massal terbesar yang ditemukan yang berisi 700 orang. Karena tanah longsor, beberapa tubuh terkuak. 

"Salah satunya adalah perempuan. Dia telah diperkosa menggunakan batang. Tulang panggul dan kemaluannya retak," tuturnya. 

Kita tidak tahu ada berapa banyak lagi perempuan Indonesia yang mati dan mengalami kekerasan seksual seperti ini, ujarnya.

Yang diketahui publik adalah bagaimana Orde Baru menampilkan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dalam film propaganda Pengkhianatan G30S/PKI

Di Lubang Buaya, lagu Gendjer-Gendjer diputar. Perempuan-perempuan Gerwani menarikan Tari Harum Bunga sambil bugil. Mereka ikut menyiksa para jenderal, memerkosa, bahkan memotong penis para jenderal.

"Perempuan Gerwani adalah pelacur, penjahat, hiperseks. Lonte. Propaganda ini menyebar luas di masyarakat," kata Wieringa. 

Peneliti yang pernah melakukan riset tentang Gerwani itu mengatakan bahwa cap Gerwani seperti ini begitu melekat. Sebagai akibatnya, perempuan tertuduh Gerwani akan mengalami kekerasan seksual berat ketika mereka ditahan. 

Pada saat ditangkap, mereka diperiksa dengan menyingkapkan semua pakaian dari pinggang ke bawah. Lalu mereka digerayangi dengan alasan mencari cap Gerwani di tubuh mereka.

Selama periode operasi penggayangan PKI, kata Wieringa, beragam kekerasan seksual terjadi. Mulai dari pemerkosaan vaginal, pemerkosaan oral, pemerkosaan beramai-ramai, perbudakan seks, penganiayaan, penyetruman pada puting dan kelamin, hingga mutilasi pada payudara. 

Pemerkosaan massal berakar pada 1965

Sepanjang riset yang dilakukan Wieringa, penyintas perempuan dulu banyak mengisahkan perkosaan terjadi, tapi bukan pada diri mereka. "Ada rasa malu dan bersalah. Ketika Mei 1998 terjadi pemerkosaan massal lagi di Jakarta, lalu di Timor Timur, ada penyintas yang akhirnya runtuh pertahanan dirinya. Dia bilang, itu aku. Itu persis seperti yang aku alami," tuturnya.

Wieringa melihat pola pemerkosaan massal ini berakar pada peristiwa 1965 atau berasal dari mitos Lubang Buaya. 

"Ini seperti sebuah pola militer. Menelanjangi, memerkosa secara massal, memerkosa dengan memasukkan benda atau botol ke dalam vagina. Mirip dengan yang terjadi setelah 1965. Saya tidak tahu kenapa ini terjadi dan terjadi lagi," katanya.

Propaganda terhadap Gerwani telah membuahkan penilaian moral. Padahal, imbuhnya, ada banyak gerakan Gerwani yang menarik. Gerwani menjangkau perempuan miskin dan petani. Mereka memerangi kekerasan rumah tangga, menuntut hak perempuan, menentang buruh anak dan kerja paksa, serta anti poligami. 

Jika stigma terhadap Gerwani terus hidup, ia melihat kisah kekerasan seksual 1965 dapat terus berlanjut. Persis seperti api yang tersimpan di bawah lahan gambut. —Rappler.com

BACA JUGA: