Masyarakat Yogya belajar antisipasi radiasi nuklir

REAKTOR NUKLIR. Reaktor nuklir Kartini di Yogyakarta. Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

REAKTOR NUKLIR. Reaktor nuklir Kartini di Yogyakarta.

Foto oleh Dyah Ayu Pitaloka/Rappler

YOGYAKARTA, Indonesia – Reaktor nuklir Kartini di Kecamatan Sleman, Yogyakarta mempunyai daya 250 KW saja, terkecil dari tiga reaktor nuklir yang dimiliki Indonesia. Tetapi bila terjadi kebocoran, radiasi nuklir Kartini sama bahaya dengan radiasi yang disebabkan reaktor-reaktor besar di dunia.

Itu kira-kira pesan yang ingin disampaikan oleh pihak Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) ketika mengadakan pelatihan penanganan kedaruratan di kawasan pada penduduk itu pada Rabu, 31 Agustus.

“Ini masalah koordinasi saja, kalau potensi kebocoran dari reaktor nuklir Kartini di BATAN bisa dibilang mendekati nol," kata Susilo Widodo, Kepala Pusat Sains dan Teknologi Akselerator BATAN Yogyakarta Rabu, 31 Agustus 2016.

"Pelatihan ini justru agar kalangan luar BATAN lebih melek nuklir, ada banyak ancaman reaksi nuklir justru bukan dari BATAN,” kata Susilo.

Sejak beroperasi tahun 1979, reaktor nuklir Kartini tak pernah terjadi bencana.

Namun demikian, kemungkinan bencana bisa terjadi di sekitar wilayah BATAN Yogyakarta seperti ledakan dan radiasi akibat kebocoran reaktor nuklir dengan kapasitas maksimal 250 kw tersebut.

Kawasan nuklir BATAN sendiri berada di wilayah yang padat penduduk serta dekat dengan sekolah hingga perguruan tinggi.

Apa yang harus dilakukan bila terjadi radiasi nuklir? 

Dalam latihan pada Rabu, 31 Agustus, para peserta – anggota masyarakat, aparat keamanan, dan petugas medis – belajar prosedur penanganan jika terdapat rilis radio aktif, baik dalam bentuk cair, gas, atau partikel lain.

Jika monitor menunjukkan level radio aktif lebih tinggi dari normal, alarm akan berbunyi. Bila itu terjadi, tim penanggap Radiologic segera melakukan pengukuran di lapangan. 

Data hasil pengukuran diserahkan ke tim pengkaji Radiologic untuk menentukan langkah pengamanan, menentukan batas perimeter dan daerah aman.

"Tindakan pengamanan tergantung pada level radiasi. Mulai dari minum tablet yodium untuk mencegah gas yang terhisap tubuh. Jika itu belum cukup, warga dilarang keluar  rumah atau sheltering. Dan jika masih  dinilai membahayakan maka akan ada evakuasi," kata Susilo.

Batas aman paparan radiasi adalah 1 mSv untuk publik, dan maksimal 20 mSv sehari untuk petugas BATAN. Dalam waktu lima tahun, maksimal paparan petugas BATAN tak boleh lebih dari 100 mSv.

"Saya tidak ingat tepatnya berapa paparan radiasi yang diikuti tindakan. Yang jelas itu pasti di atas 100 mSv," katanya.

Lalu apa yang akan terjadi jika seseorang terpapar radiasi lebih tinggi di atas batas norma?

Menurut Suslo, akan tampak sejumlah dampak yang bisa diamati, seperti perubahan sel darah merah dan darah putih, rambut rontok, mucul luka bakar hingga pada tingkat lethal dose dan terpapar sekaligus akan menyebabkan kematian.

"Lethal dose jika terpapar sekaligus dengan radiasi mencapai 5000 mSv maka 50 persen akan menyebabkan kematian," katanya.

Reaktor nuklir Indonesia 

Reaktor nuklir Kartini adalah satu dari tiga reaktor nuklir yang dimiliki Indonesia dan beroperasi untuk kebutuhan riset saja. Salah satu temuan BATAN adalah alat pendeteksi fungsi ginjal yang disebut renograf. 

Dari daya maksimum sebesar 250 KW, reaktor tipe kolam dengan diameter 2 meter dan kedalaman 6 meter itu rata-rata hanya digunakan sebesar 100 KW.

Pengelola menggunakan sistem pengamanan berlapis untuk mencegah terjadinya kebocoran bila terjadi bencana gagal teknologi.

Reaktor nuklir pertama Indonesia bernama Triga Mark di Bandung, Jawa Barat. Reaktor dibangun pada 1960an atas prakarsa Presiden Soekarno dengan kapasitas maksimal sekitar 1000 kw.

Reaktor Kartini adalah yang kedua, dibangun tahun 1975 dan beroperasi tahun 1979 dengan kapasitas maksimal 250 kw. Reaktor  ketiga berada Serpong dengan rnama GA –Siwabessy dengan kapasitas maksimal 30 mw.

“Diantara tiga reaktor nuklir itu Kartini memiliki kapasitas yang paling kecil,” kata Susilo. – Rappler.com.