Melukis ketidakadilan terhadap perempuan korban kekerasan dan penindasan

SOLO, Indonesia – Dalam dunia seni Dewi Candraningrum, tragedi dan penderitaan tak selalu kelam. Kesedihan tidak melulu monokromatik, tetapi bisa juga rakus akan warna. Begitulah feminis dan aktivis Jejer Wadon itu mengekspresikan wajah-wajah perempuan para korban kekerasan di atas kanvas.

Dewi adalah pemimpin redaksi Jurnal Perempuan – jurnal feminis pertama di Indonesia sejak 1995 – dan banyak menulis tentang Islam, gender, dan lingkungan. Ia mulai menggemari melukis sekitar dua tahun lalu, terinspirasi oleh anaknya yang autis tetapi sangat berbakat dalam olah kuas dan cat.

Meski demikian, perempuan yang sehari-hari mengajar di Universitas Muhammadiyah Surakarta ini, sudah menghasilkan ratusan karya berupa sketsa arang dan acrylic.

Temanya tak jauh-jauh dari persoalan perempuan, dan kebanyakan tentang para korban kekerasan fisik dan seksual. Ia memilih seni rupa sebagai media visual untuk menyuarakan perlawanan damai terhadap penindasan hak-hak perempuan, di samping melalui tulisannya.

Dewi adalah Muslim-feminis yang menolak diskriminasi seksual. Dalam salah satu karyanya, Tubuh Ekologi, ia membuat sketsa tentang tubuh perempuan sebagai wilayah otonom dan tidak bisa diintervensi oleh siapapun. 

Baginya, setiap orang punya hak otoritatif untuk menentukan hasrat dan orientasi seksualnya, termasul lesbian, gay, biseksual, atau transgender.

Dari ‘ianfu’sampai Mei ’98

Ada lebih dari 150 karya lukisnya yang bercerita tentang para perempuan yang tak mampu bersuara, terpinggirkan, dan nyaris hilang tertelan waktu.

Dewi merekam serangkaian potret korban pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan eksploitasi terhadap perempuan, mulai dari para ianfu zaman Jepang hingga ibu-ibu di pegunungan karst Kendeng yang masa depannya terancam oleh pabrik semen.

Para perempuan yang dipaksa menjadi budak seks tentara Jepang pada masa pendudukan awal dekade 1940 adalah korban yang nyaris terlupakan. Diakui atau tidak, peristiwa itu benar-benar terjadi pada sosok yang dilukis Dewi.

Berbeda dengan perempuan ianfu yang merupakan korban kekerasan akibat perang dunia, para perempuan mantan anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) adalah korban propaganda bangsa sendiri. Orde Baru mencap mereka sebagai perempuan pengkhianat bangsa dan penyiksa para jenderal. Banyak dari mereka yang diperkosa, dipenjara, dan disiksa tanpa tahu kesalahannya.

Hantu komunisme membuat Suharto dan militer pada masa kekuasaannya menyapu bersih pengaruh Partai Komunis Indonesia (PKI). Atas nama ketuhanan, pengikut ajaran komunis dilarang hidup di Indonesia dan para wanita yang terkait Gerwani – organisasi perempuan yang berafiliasi ke partai berlogo palu-arit itu – ikut ditindas haknya dan diperlakukan bukan sebagai manusia.

Dalam sketsa arang di atas kertas, Dewi mengabadikan garis-garis wajah yang sudah termakan usia para perempuan tertuduh terlibat Gerwani, yaitu Lestari, Putmainah, Sulami, dan SK Trimurti. Mereka adalah para perempuan korban pelanggaran HAM berat 1965-1966.

Cerita kanvas Dewi berlanjut ke peristiwa tragedi kerusuhan Mei 1998 yang disertai kasus pemerkosaan massal dan pembunuhan terhadap perempuan beretnis Tionghoa di Jakarta dan Solo. Dewi sangat vokal mendukung penyelesaian kasus pelanggaran HAM 17 tahun silam yang menandai kejatuhan rezim Orde Baru, meskipun sampai sekarang proses yudisial tidak pernah ada.

“Saya menggambarkan wajah-wajah korban pemerkosaan dalam warna cerah. Kesedihan dan derita selalu punya harapan. Mereka sedikit pun tidak kehilangan kehormatan dan kesuciannya sebagai perempuan,” ujar Dewi.

Menurut data Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF), sedikitnya ditemukan 85 kasus kekerasan seksual yang kebanyakan dialami perempuan etnis Cina. Sebanyak 52 di antaranya pemerkosaan massal, 14 kasus pemerkosaan dengan kekerasan, 10 penyiksaan, dan 9 kasus pelecehan seksual. Sedangkan data dari sebuah tim independen menyebutkan jumlah kasus sebenarnya mencapai ratusan.

“Prasasti Pondok Rangon, penting sebagai pengingat. Tetapi lebih penting bagi korban dan keluarganya adalah jaminan negara bahwa tragedi serupa tidak berulang,” kata Dewi.

Perempuan Kendeng

Dewi adalah pengagum para perempuan Kendeng. Ia datang, bertemu, dan berbincang dengan para ibu-ibu yang memprotes berdirinya pabrik semen dan tambang batu gamping di wilayah karst yang berpotensi merusak lingkungan pertanian mereka, termasuk menyebabkan mata air kering.

Para perempuan ini tegar dan tidak gentar terhadap ancaman aparat keamanan yang pernah membubarkan demonstrasinya. Ibu-ibu itu tetap bertahan di lokasi pabrik semen di Rembang meski gugatan mereka ditolak oleh Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Semarang dan sedang proses banding.

“Ibu-ibu di Kendeng berjuang demi kelestarian alam, mereka bertahan berbulan-bulan di dalam tenda. Mereka para penjaga bumi dan air, mereka adalah ibu-ibu kita,” kata Dewi yang melukis wajah perempuan Kendeng sebagai dukungan atas perjuangan masyarakat Sikep (Samin).

Bagi Dewi, perempuan Kendeng adalah potret perempuan masyarakat adat agraris yang ingin melangsungkan hidup mereka secara berlanjut dari generasi ke generasi tanpa merusak alam. Setiap industri yang berpotensi merusak alam mereka lawan dengan cara damai, termasuk melalui jalur hukum.

Tanggal 17 November 2015 ini, Dewi ikut berbahagia menyambut putusan PTUN Semarang yang mengabulkan gugatan petani Tambakromo, Kayen, dan Sukolilo. Putusan majelis hakim yang memerintahkan pencabutan Surat Keputusan Bupati Pati tentang izin lingkungan bagi anak perusahaan Indocement itu dinilainya cukup adil.

Sunat perempuan dan pernikahan anak

Keprihatinan Dewi tidak hanya berhenti di Indonesia. Tahun lalu saat mengadakan riset tentang kepemimpinan anak perempuan di sekolah di Afrika, ia menemukan fakta tentang maraknya praktik female genital mutilation (FGM), atau proses pemotongan bagian dari organ intim wanita, seperti juga di beberapa negara Asia yang masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Di Zambia, tempat ia membuat sketsa tentang wajah anak-anak yang keceriaannya terenggut oleh banyak kasus eksploitasi dan perdagangan anak, FGM juga menjadi ancaman serius bagi nyawa anak perempuan. Tidak sedikit yang menemui ajal saat menjalani praktik tradisional ini.

“FGM di Zambia punya risiko angka kematian tinggi. Anehnya, praktik ini tetap saja dipertahankan di 27 negara Asia dan Afrika. Sekitar 125 juta anak-anak perempuan terancam kesehatan dan nyawanya akibat FGM,” ujarnya.

Kemiskinan dan praktik FGM juga diperburuk oleh tingkat risiko infeksi HIV yang tinggi sejak negara ini berada dalam  urutan 11 negara paling kurang berkembang. Banyak anak perempuan yang belum mendapat akses pendidikan, kesehatan, dan fasilitas sosial.

Tingkat melek huruf anak perempuan di Zambia 15 persen di bawah anak laki-laki (usia 15-24 tahun) berdasarkan data Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO). Di usia belasan, anak perempuan biasa “digadaikan” menjadi pengantin belia.

Angka pernikahan anak juga masih tinggi di Indonesia, atau kedua di setelah Kamboja. Satu dari lima anak menikah sebelum usia 18 tahun. Sedikitnya ada sekitar 142 juta anak perempuan di dunia menikah sebelum dewasa dalam satu dekade terakhir. —Rappler.com

BACA JUGA: