Tahun-tahun yang gelap dan pesta para hantu

Tetapi malam-malam setelah 30 September tetap menakutkan. Hampir tiap malam, Ibu memeriksa semua pintu dan jendela dan menyuruhku memperkuat dengan gembok atau lilitan kawat. Ibu tidur bersama anak-anak perempuan. Tam, Andi, dan aku tidur di kamar depan yang menghadap ke jalan. Beberapa kali, jika ada bunyi yang mencurigakan, Ibu selalu membangunkan aku. Tam selalu melanjutkan tidur dan mendengkur. Eyang pernah menjulukinya si Kumbakarna cilik karena hanya makan dan tidur jika di rumah.  

Suatu malam sekitar jam 11, terdengar bunyi ketukan yang cukup keras di pintu belakang dekat dapur atau “pintu butulan” yang menghadap ke pagar kawat berduri. Di seberang pagar itu terhampar sawah luas diapit dua sungai kecil yang dibatasi sebuah lembah. Kali Duwur di sebelah atas dan Kali Ngisor di sebelah bawah.

Ibu segera membangunkan aku dan menyuruhku diam supaya adik-adikku tidak panik. Ketukan makin keras tetapi tidak ada tanda menggedor atau mendobrak. Ibu mulai ketakutan, tetapi aneh aku cukup tenang.   

Kubuka laci meja dekat jendela untuk mengambil pisau belati Ayah, lalu aku mengendap-endap menghampiri pintu. Tindakan ini sebenarnya salah dan berbahaya. Seharusnya kami mengintip jendela depan dan memanggil penjaga di sana. Tetapi keinginan tahuku mengaburkan nalar.

Pisau belati Ayah bergagang tanduk sepanjang 25 cm itu tidak cukup tajam. Lengan Tam pernah kuiris dengan pisau itu dan tidak banyak mengeluarkan darah. Selain ini, ada dua pisau belati di rumah, belati lempar tipis runcing dan belati komando model Bowie besar dan tajam. Keduanya  dibawa Ayah ke medan tugas. 

Aku dekati pintu pelan-pelan, Ibu makin gemetaran dan tangannya bergerak-gerak seolah menghapalkan jurus beladiri tangan kosong yang dipelajarinya di Purwokerto. Mulutnya komat kamit atau ndremimil berdoa campur aduk dan menggumam tidak jelas. Ibu membaca surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas yang disebutnya Al-Patekah dan Kulhu. Saat itu, Ibu memang baru belajar menghapal beberapa surat Al-Qur’an dibimbing Yu Rah, si tukang cuci merangkap guru mengaji tidak resmi.

Setelah dua tiga kali membaca, Ibu merasa kedua surat itu tidak cocok untuk menghadapi situasi ini. Lalu dia membuat tanda salib dan menggumamkan sebuah doa Katolik. Ibu memang dibesarkan dalam tradisi Katolik oleh Eyang Mujo, adik Kakek. Tetapi Ibu juga ragu-ragu apakah doa itu akan memecahkan persoalan. 

Ibu diam sebentar menarik nafas, tiba-tiba dari bibirnya pelan-pelan mengalir tembang Dandhanggula Mantraweda karangan Sunan Kalijaga: 

//Ana kidung rumekso ing wengi/ teguh hayu luputa ing lara/ luputa bilahi kabeh/  jim setan datan purun/  paneluhan tan ana wani/  miwah panggawe ala/ gunaning wong luput/ geni atemahan tirta/ maling adoh tan ana ngarah ing mami/  guna duduk pan sirna//

//Ada kidung yang menjaga malam / menjadikan kuat selamat terbebas dari semua penyakit / terbebas dari segala mala petaka / jin dan setan pun tidak mau (mendekat) / segala jenis sihir tidak berani / apalagi perbuatan jahat / guna-guna tersingkir / api menjadi air / pencuri pun menjauh dari aku / segala bahaya — ilmu hitam akan sirna //

Itulah kidung penolak bala yang sering dinyanyikan Eyang, khususnya setiap malam Jumat Kliwon di pendopo Solo. Atau sambil menggendong anak-anaknya dan kemudian cucu-cucunya yang rewel. Rupanya saat terdesak, maka dari dalam batin manusia mencuatlah ritual paling awal dan paling akrab, menutupi yang datang kemudian. Dengan keheranan, aku pandangi Ibu yang berdoa campur aduk itu, “Lho, Bu ?”   

Ibu menukas, “Mbok wis ben tha! Dongane iki ben lengkap” (Sudah, biar aja! Doa ini biar lengkap).  

Aku tak membantah dan menghindari debat teologis yang tak perlu.

Sampai itu, ketukan itu makin keras dan makin sering. Terpengaruh Ibu, aku juga menggumamkan sepenggal mantera Rajah Kalacakra yang pernah kubaca dari Primbon Betal Jemur milik Eyang: “Aum, Yamaraja-Jaramaya; Yamarani-Niramaya; Yasilapa-Palasiya” (Aum, siapa yang akan membuat bahaya, hilang kekuatannya; siapa yang akan membuat celaka, hilang niat buruknya; siapa yang akan membuat kelaparan, malah memberi makanan).  

Rajah Kalacakra atau Sastra Bedhati itu dibaca dalang saat upacara ruwatan. Doa itu panjang, aku tidak ingat semua. Pintu lalu kubuka sedikit, ini juga kesalahan besar. Di antara sinar lampu 15 watt, aku melihat sesosok orang berbadan kekar berotot berkulit legam, tanpa baju, dan bercelana kolor hitam. 

Di antara bunyi doa campur baur, Ibu bertanya dari belakangku: “Sapa kuwi?” (Siapa itu?). 

Ketukan berhenti dan terdengar suara berat: “Kulaaa Bu Kompi” (Saya, Bu Kompi).  

Ibu berhenti merapal doa. Tubuhnya lemas lalu duduk di bangku kayu di dapur, tapi  wajahnya tampak lega. Puas, karena doa lengkapnya manjur.   Aku membuka pintu dan melihat sosok hitam legam tanpa baju itu: The Great Rasbi!

Tangan kanannya menggenggam parang tajam dan tangan kirinya menenteng seikat ikan: gabus, sepat, bethik dll. Sambil tertawa lebar dia berkata,  “Kula nembe ngoncor, Bu Kompi, niki iwake kangge Ibu” (Saya baru ngoncor, Bu Kompi. Ini ikannya untuk Ibu).   

Pak Rasbi  yang miskin tetapi baik hati segera berlalu. Setelah mengucapkan terima kasih, ikan–ikan itu kuambil dan kulemparkan ke ember cucian.  Besok pagi Tam  akan kusuruh “mbetheti”, membersihkan atau memeruti ikan. Aku tidur lagi. Sampai pagi, Ibu masih termangu-mangu. Sesuatu yang lebih buruk dari kejadian malam itu bisa terjadi setiap saat.

Suatu hari, bintara piket berkata bahwa situasi di Jawa Tengah, terutama di Solo dan daerah Istimewa Yogyakarta, makin gawat.  Di pihak lain, pasukan-pasukan terkuat di Jateng tidak ada di tempat. Brigif IV dikirim ke Sumatera Utara dan Brigif V melaksanakan tugas Operasi Dwikora di Kalimatan Barat.  

Kabar burung, Jawa Tengah memang sengaja dikosongkan atas perintah komandan tentara yang pro-PKI. Bintara piket itu bilang bahwa kemungkinan besar Yonif 407 akan segera ditarik pulang untuk mengisi kekosongan.  

Berita itu benar. Brigif 4 yang berada di Sumatera Utara, pada tanggal 23 Oktober 1965, segera diperintahkan kembali ke Jawa Tengah guna mengatasi situasi di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Yonif 405 dan 407 kembali dari Sumatera dengan memakai kapal, mampir di Tanjung Priok, kemudian ke Semarang, lalu bersama-sama Yonif 406 menumpas G30S/PKI di daerah Surakarta (Ma Ko Brigade berkedudukan di Solo). Yonif 406 sudah ditempatkan di Klaten satu minggu terlebih dahulu. 

Suatu malam, Ayah pulang ke rumah dikawal sekitar satu regu  tentara  bersenjata lengkap yang kemudian stelling (bersiaga) di halaman. Lampu halaman dimatikan, semua orang tampak tenang tetapi siaga. Serma Hadi juga ada di situ, kali ini dia tidak merokok. 

Tidak sampai setengah jam, Ayah berbicara dengan Ibu, lalu  menanyakan kabar tentang sekolahku dan adik-adikku. Ayah sangat terkejut waktu Ibu bilang didatangi seorang anggota Gerwani yang mengedarkan kertas. Suara Ayah keras, “Kamu tandatangani, enggak?” 

Ibu menjawab tak kalah keras, “Ya ora…, goblok apa aku?” 

Ayah kelihatan lega dan bergumam, “Ya wis, kalau kamu tandatangan, bisa-bisa kamu diciduk atau diselesaikan”.  

Banyak kosa kata baru saat itu: digropyok, diciduk, diamankan, dilenyapkan, diambil, diselesaikan, dan dihabisi.

Setelah saling memberi hormat dengan Serma Hadi, Ayah melompat ke atas truk kecil hijau tua yang dikemudikan Serka Hartojo. Sopir, pengawal, dan sahabat Ayah yang setia itu selalu bersama hampir pada tiap operasi militer, bahkan sampai Operasi Seroja (1977-1978) di Timor Timur. Jeep itu menghilang di kegelapan malam melewati pebukitan Kajen kembali ke induk pasukan-pasukan 407 di Boyolali dan Surakarta.  

Ayah kemudian menjadi caretaker bupati di suatu kabupaten karena bupati lama tersangkut G30S/PKI. Malam itu, wajah Ayah tampak serius dan angker, “Jaga Ibu dan adik-adikmu”. 

Tanpa menyadari kegawatan situasi ini, aku malah asyik melihat tentara beraksi, bergerak dengan sistematis dan disiplin. Aku anak kolong.

—Rappler.com

BACA JUGA: