Modus teror baru dalam kasus bom di area Sarinah

Serangan yang dilakukan teroris di area Jalan MH. Thamrin, Jakarta, Kamis pekan lalu, 14 Januari, menampilkan aksi operasi yang baru : melemparkan granat dan menembaki sasaran.

“Sebelumnya, dalam aksi di sejumlah tempat di Indonesia, mulai dari bom di rumah dinas Dubes Filipina di Jakarta, Bom Bali sampai Bom di Hotel Marriott, teroris hanya meledakkan bom. Baik itu bom mobil maupun bom bunuh diri,” kata Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teroris, Komisaris Jendral (Pol) Saud Usman Nasution, dalam wawancara khusus dengan tim Rappler di kantornya, di kawasan Sentul, Senin pagi (18/1).

Pekan lalu tim Polda Metro Jaya mengumumkan hasil penyelidikan di tiga tempat kejadian perkara, yaitu di Pos Polisi Sarinah, di dalam kafe Starbucks dan di halaman kafe itu. Polisi menyimpulkan bom yang diledakkan pelaku di serangan di kawasan Sarinah itu berdaya ledak rendah. Kendati demikian, karena di dalam bom ada paku-paku tajam, serta mur maut dan lempengan logam, bom itu punya daya mematikan bagi mereka yang ada dalam jarak dekat, apalagi pelaku bom bunuh diri.

Menurut Saud Usman, penggunaan granat yang dilemparkan ke arah sasaran, termasuk menembaki sasaran dalam aksi di tengah kota juga baru kali ini dilakukan. Pola ini mirip dengan serangan teroris di Paris tahun 2015.

“Jika saat itu polisi yang ada di lokasi tidak berani berhadapan dengan teroris, maka bisa dipastikan korban sipil akan lebih banyak. Keberanian polisi yang ada di TKP saat itu membuat nyali penyerang cukup keder,” kata Saud.

Itu sebabnya enam bom dan sejumlah granat tidak sempat dilontarkan. Cara-cara pembuatan bom dan senjata rakitan kini mudah ditemui di ranah internet.

“Siapa saja bisa mengakses informasi itu. Indonesia adalah negara demokrasi, bebas mengakses informasi. Kecuali kita memiliki bukti kuat bahwa mereka merencanakan tidak kriminal dan atau aksi teror dengan kekerasan, maka kita tidak bisa sembarangan menangkap,” ujar Saud Usman.

Dia menambahkan bahwa para “jihadis” Indonesia dikagumi di kawasan Asia Tenggara, karena keberaniannya melakukan amaliyah alias aksi nyata tindakan teror untuk mengharapkan ganjaran masuk surga.

Internet bukan hanya menjadi tempat bagi jaringan teroris saat ini - termasuk kelompok ISIS- untuk merekrut calon anggota, melainkan juga untuk mempelajari cara-cara membuat senjata rakitan dan bahan peledak.

Saud Usman yang pernah menjabat Kepala Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror mengatakan perancang serangan memilih lokasi yang strategis. Serangan terhadap pos polisi termasuk sasaran utama selain serangan terhadap pusat kegiatan ekonomi dan lokasi yang mengusung merek terkait Amerika Serikat dan Eropa.

Indonesia menjadi sasaran serangan teroris yang menyatakan diri sebagai pengikut jaringan ISIS karena Indonesia mengecam aksi-aksi serangan yang dilakukan ISIS, tidak menjalankan pengelolaan negara berdasarkan syariah Islam, serta tindakan polisi yang secara konsisten memburu para pelaku aksi teror. - Rappler.com

BACA JUGA: