BNPB: Lebih dari 500 ribu orang menderita ISPA karena asap

PALANGKARAYA, Indonesia — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkapkan jumlah penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) hingga hari ini, Jumat, 30 Oktober, sudah mencapai 529.527 jiwa.

Penderita ISPA terbanyak tinggal di Jambi. Rinciannya sebagai berikut:

 

 

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, data tersebut diambil dalam kurun waktu Juli hingga Oktober tahun ini, bukan sejak Januari.

“Karena kita hanya memantau tiga bulan terakhir, saat lahan mulai terbakar,” kata Sutopo. 

Total, kata Sutopo, jumlah penderita ISPA memasuki angka 500.000, sejak sepekan yang lalu.  Tingginya angka penderita ISPA tak bisa dihindari karena tebalnya asap di daerah bencana. 

Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, penderita ISPA juga terus berdatangan memeriksakan diri di rumah sakit.

Kepala Bidang Humas RSUD Doris Sylvanus Dokter Theodorus Saptaatmadja mencatat, di tempatnya sudah 75 orang yang dirawat inap karena ISPA sejak Januari hingga 29 Oktober lalu.

“Sedangkan 483 menjalani rawat jalan,” kata Theodorus pada Rappler. 

Menurutnya, angka ini tertinggi dibanding tahun lalu. Tahun 2014, ada 107 pasien rawat inap dan 201 jiwa yang menjalai rawat jalan. 

Masker langka atau malas memakai? 

MALAS PAKAI MASKER. Aan, 18 tahun, penjual makanan di Kota Palangkaraya mengatakan ia tak mau memakai masker dengan alasan tidak perlu. Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

MALAS PAKAI MASKER. Aan, 18 tahun, penjual makanan di Kota Palangkaraya mengatakan ia tak mau memakai masker dengan alasan tidak perlu.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Dari temuan Rappler di Palangkaraya, sebagian warga mengaku tak memakai masker. Seperti yang diungkap Aan (18 tahun), penjual makanan di Kota Palangkaraya ini mengaku tak memakai masker karena merasa udara sudah lebih baik, setelah hujan mengguyur selama 3 hari berturut-turut. 

Apakah ada keluhan pada kesehatannya? “Tidak, saya sehat,” kata Aan, walau ia mengaku tak pernah memeriksakan kesehatannya pada dokter. 

Muhammad Kusasi (50), penjual barang antik di Jalan Cilik Riwut, Palangkaraya, juga hanya tersenyum saat ditanya Rappler tentang masker.

“Ketinggalan di rumah,” katanya. Ia tak berniat untuk membeli masker N95 yang bisa ditemui di apotik dengan harga Rp 20.000 itu. “Uangnya untuk keperluan lain.” 

Menurut Sutopo, ia tak heran dengan pengakuan kedua warga Palangkaraya tersebut. Katanya,   sebagian warga memang malas memakai masker. “Padahal kami sudah kirim jutaan masker,” katanya. 

Menurut Sutopo, setiap provinsi yang terdampak bencana asap mendapat jatah 250.000 masker. Sehingga jika dikalikan 6 provinsi bencana asap, jumlahnya mencapai Rp 1,2 juta.

“Ada tambahan pasokan masker sehingga jumlahnya mencapai dua juta."

Tapi distribusi masker tampaknya tak dapat dinikmati semua lapisan masyarakat. Joko Isbanu, seorang penjual bakso di Jembatan Tumbang Nusa, Kalimantan Tengah, mengatakan tak ada pembagian masker di daerahnya.

“Enggak ada (pembagian). Yang dibagi hanya masker yang lembut, bukan yang bagus kayak begini,” katanya kepada Rappler beberapa waktu lalu.

Rumah singgah dan oksigen sepi pengunjung 

TERJANGKIT ISPA. Marfin sudah lima hari dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Doris Sylvanus. Ia didiagnosis ISPA, inspeksi saluran pernapasan oleh dokter, diduga karena terpapar asap. Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

TERJANGKIT ISPA. Marfin sudah lima hari dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Doris Sylvanus. Ia didiagnosis ISPA, inspeksi saluran pernapasan oleh dokter, diduga karena terpapar asap.

Foto oleh Febriana Firdaus/Rappler

Sutopo juga menyebut warga masih jarang yang secara sadar memeriksakan dirinya ke rumah singgah dan oksigen. “Mereka itu budayanya home sweet home, lebih baik di rumah saja,” katanya. 

Untuk menyiasati, BNPB sudah mendirikan rumah-rumah singgah di pelosok, sehingga warga tak harus datang ke tengah kota. 

Namun beberapa warga mengaku tak mendapat informasi mengenai rumah singgah ataupun rumah oksigen. “Saya baru tahu dari media sosial,” kata Ayu (20), mahasiswi Fakultas Arsitektur Universitas Palangkaraya. 

Mungkinkah pemerintah daerah kurang sosialiasi?

Menurut laporan harian Kalteng Pos, pemerintah setempat baru saja meresmikan rumah singgah Induk Kapuas Kamis kemarin, Kamis, 29 Oktober.

Rumah singgah itu saat ini tengah menangani delapan pasien, satu di antaranya adalah bayi.

Bupati Kapuas Ben Brahim S. Bahat mengklaim telah melakukan tindakan cepat untuk menangani warganya yang terserang penyakit akibat kebakaran hutan.—Rappler.com

BACA JUGA: