Pendeta pencatat sejarah 'Kaum Kiri' di Wonogiri


Dengan kehilangan kata-kata di hadapan Luweng Mloko

Tanpa menaburkan bunga peziarahan ini kurasa tetap sah saja

38 tahun berlalu sudah dan tetap tergambar jelas

 

Rentetan tembak dan teriak mengiring jatuh tawanan-tawanan

Terbanting di dinding-dinding bebatuan

Terkapar di dasar kegelapan

 

Masih hidup luka-luka ataukah langsung mati bukan lagi urusan

Pesan teror sudah jelas diancamkan kepada penduduk sekitar

Bila coba-coba berani menanyakan mengapa

 

Mungkin pohon dadap duri di pinggir luweng ini bisa bersaksi

Bagaimana wajah-wajah tiga truk tawanan sebelum mereka mati

Benarkah mereka riang bernyanyi “Genjer-Genjer", juga “Internasionale"

 

Ataukah diam membisu ketakutan sepanjang puluhan km perjalanan dari kamp

Dengan jempol tangan terbelenggu dikrinceng di punggung, mata dibalut kain hitam

Ketika maut dipaksakan, tak perduli hati telah pasrah ataukah berontak penasaran

 

Sepak sepatu lars, peluru tet tet tet tet tet, telah merebut kewenangan malaikat el-maut

Di alam sana entah bagaimana penghakiman terjadi aku tak mengurusi

Namun jelas di sini yang ada ialah: impunity

 

Dengan kehilangan kata-kata di hadapan Luweng Mloko

Kesunyian sekitar bukit-bukit cadas kapur tandus gersang bercerita banyak

Angkatan demi angkatan silih berganti

 

58 tahun Indonesiaku merayakan kemerdekaan

Dan terlalu banyak kisah seperti luweng mloko ini;

Terus menganga tak bisa ditutupi

 

Dan angin kabur membawa bau gendruwo, mambang dan peri

Dan tanpa ada bunga tertabur

Tulang-tulang berserak di luweng bukit kapur

 

Dengan diam dan sabar mengadu kepada Komnas HAM

Menantikan kerja komisi kebenaran dan rekonsiliasi

Menagih kemanusiaan minta dimaknai di Bumi Pertiwi

 

Puisi di atas adalah karya Yahya Tirta Prewita, seorang pendeta, penyair, dan aktivis kemanusiaan yang tinggal di Purwantoro, ujung timur Kabupaten Wonogori, Jawa Tengah. Puisi tersebut dipersembahkan untuk JJ Kusni, sastrawan kiri yang menjadi eksil di Eropa pada era Orde Baru. 

Puisi yang ditulis pada Agustus 2003 itu berjudul Luweng Mloko, yang berkisah tentang sebuah goa vertikal di wilayah perbukitan karst yang gersang, yang menjadi saksi bisu penghilangan paksa ratusan orang yang diduga simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) periode 1965-66. Bait-baitnya menyusun sebuah penggalan sejarah setengah abad lalu yang nyaris terlupakan.

Yahya adalah aktivis sosial pembela kelompok marjinal, petani, dan korban peristiwa 1965. Lulusan teologi Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta yang ditasbihkan menjadi pendeta sejak 1992 itu memiliki catatan tentang peristiwa berdarah yang menimpa "kelompok merah" di Wonogiri.

Di luar gereja dan jemaatnya, Yahya mendata dan menuliskan dalam catatan pribadinya penuturan para saksi dan penyintas yang masih hidup. Ia berhasil menemukan sekitar 100 orang saksi dan penyintas di Wonogiri pada awal 2000-an, namun jumlahnya terus berkurang setiap tahun karena meninggal dunia.

Wonogiri pernah menjadi tempat Tan Malaka saat mengobarkan perlawanan anti-swapraja terhadap Keraton Kasunanan Surakarta dan merupakan jalur pelarian tokoh komunis Amir Syarifuddin dan Muso pasca Peristiwa Madiun 1948. Pada Pemilu 1955, PKI memperoleh suara terbanyak kedua setelah Partai Nasional Indonesia (PNI).

Pergolakan politik 1965 di ibu kota membawa imbas sampai ke daerah. Simpatisan PKI di Wonogiri diburu, ditangkap, ditahan, dan sebagian lainnya dieksekusi mati tanpa pengadilan. Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan (YPKP) ’65 pernah memperkirakan kurang lebih 1.000 orang di Wonogiri dihilangkan paksa.

Yahya bercerita, para tahanan politik di Wonogiri mendapat stigma seumur hidup. Di Kecamatan Purwantoro, misalnya, mereka yang mempunyai masa lalu sebagai penganut ideologi komunisme, Kartu Tanda Penduduk (KTP) mereka ditandai “ET” singakatan eks-tahanan politik (tapol).

Mereka juga selalu dikambinghitamkan setiap kali ada kerusuhan di masyarakat. Pada pemilu terakhir sebelum Orde Baru jatuh, di Wonogiri banyak terjadi kerusuhan kecil-kecil, dan para eks-tapol dikumpulkan karena dianggap bertanggung jawab.

"Orang-orang yang sudah tua renta dipanggil dan dikumpulkan, diberi pembinaan, seolah mereka itu adalah biang rusuh," kata Yahya.

Yahya Tirta Prewita, pendeta, penyair, dan aktivis kemanusiaan pembela korban tragedi 1965 di Wonogiri. Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Yahya Tirta Prewita, pendeta, penyair, dan aktivis kemanusiaan pembela korban tragedi 1965 di Wonogiri.

Foto oleh Ari Susanto/Rappler

Peristiwa ini kemudian memantik rasa simpati Yahya pada mantan tahanan politik dan keluarga korban 1965. Akal sehatnya merasakan ketidakadilan dan diskriminasi, bahkan setelah penguasa tega membiarkan ratusan ribu orang mati di tangan bangsanya sendiri.

Yahya prihatin, mantan tapol ’65 dianggap sebagai manusia paling buruk di negara yang menganut prinsip kemanusiaan yang adil dan beradab. Suara mereka dibungkam, dan hak sebagai warga negara dikekang, untuk kesalahan yang tidak jelas.

“Sebagai pemimpin umat, saya merasa memiliki kewajiban moral yang merupakan bagian dari kesalehan sosial atas nama kemanusiaan – melayani yang tertindas,” kata pendeta Gereja Kristen Jawa Purwantoro itu.

Tanpa melibatkan gereja, ia bergerak sendiri mencari para saksi yang tersebar di Wonogiri dan mencatatkan sejarah tutur itu agar tidak pernah mati. Ia sadar semakin hari, semakin sedikit penyintas dan saksi peristiwa ’65 yang tersisa. Kalaupun masih ada, tidak gampang mencari yang ingatannya masih bagus karena rata-rata mereka adalah lansia di atas 70 tahun.

Ia juga memperjuangkan agar rekonsiliasi bisa terwujud. Menurut Yahya, rekonsiliasi hanya membutuhkan pemimpin yang bernyali besar seperti Gus Dur. Berbagai bukti pelanggaran hak asasi manusia dalam peristiwa ’65 sudah lebih dari cukup, termasuk yang terakhir adalah rekomendasi dari International People’s Tribunal (IPT) di Den Haag tahun lalu.

“Rekonsiliasi dimulai dari pengakuan atas pelanggaran. Pengakuan adalah ajaran dasar teologi dari semua agama,” katanya.

Kuburan massal dan penghilangan paksa

Yahya mencatat ada 22 kuburan massal di Wonogiri yang menjadi tempat eksekusi terduga komunis. Beberapa saksi juga menuturkan peristiwa berdarah itu.

Di Purwantoro, pada Desember 2002, ia menemukan dua orang saksi hidup yang masih tersisa, Satiman dan Sodimeja, penggali kuburan massal Puh Doyong dan Sekar Sanan, tempat sekitar 130 orang mati di tangan algojo. Ia menuliskan kesaksian mereka secara rapi.

Satiman dan Sodimeja bersama beberapa orang lainnya disuruh tentara untuk menyiapkan liang kubur sedalam dada orang dewasa. Mereka tak berani bertanya untuk apa dan siapa.

Mereka menyaksikan tahanan yang diturunkan dari truk dalam keadaan pergelangan tangan maupun kedua ibu jari terikat. Para penggali kubur lalu disuruh menjauh oleh tentara, tetapi mereka bisa menyaksikan dari agak jauh.

Kemudian, para tahanan satu per satu disuruh masuk ke dalam lubang galian. Ada rombongan tahanan yang berpakaian rapi dan bersepatu, tetapi ada juga yang lusuh, berambut gondrong, dan kurus-kurus.

Satu orang, satu lubang. Suara bedil dan pistol mengakhiri hidup para tahanan satu per satu. Usai eksekusi, para penggali kubur dipanggil untuk menimbun mayat dengan tanah, tanpa upacara dan doa. Ada pula tahanan yang ditembak tujuh kali namun masih masih mengeluarkan suara mengerang sampai akhirnya langsung ditimbun tanah.

Seorang tentara juga berpesan agar para penggali kubur itu tutup mulut atas apa yang mereka saksikan. Seandainya ada orang yang mendengar suara bedil dan bertanya, mereka disuruh berbohong bahwa sedang ada tentara latihan menembak di kuburan.

Di sisi utara kuburan, pernah ada pembongkaran kecil. Kemudian seekor anjing menggondol tengkorak kepala manusia dan dibawa ke jalan besar.

Sayangnya, kedua saksi kini sudah meninggal dunia. Meskipun demikian, cerita tentang keberadaan kuburan massal ini dikonfirmasi oleh beberapa penyintas dan penduduk sekitar Purwantoro.

Amir Suripno, mantan pengurus YPKP ’65, yang kini tinggal di Wonogiri, mengakui bahwa kuburan tersebut pernah dikunjungi tim YPKP dari Jakarta untuk keperluan penelitian. Namun, kuburan tidak mungkin dibongkar atau dipindahkan karena saat ini sudah ditimpa dan digunakan untuk pemakaman baru, sedangkan sebagian lainnya sudah menjadi ladang dan sawah.

“Saya mendengar malah ada sekitar 144 orang yang dikubur di situ. Kuburannya di bagian bawah, di atasnya sekarang dipakai untuk makam umum,” kata Amir.

Selain kuburan massal di Wonogiri, Luweng Mloko juga sepi dari penuturan. Luweng yang pernah didatangi Yahya bersama Amir pada 2003 itu tidak setenar Luweng Grubug di Semanu, Gunung Kidul, goa vertikal yang terkenal dengan “cahaya surga” dan sungai bawah tanahnya yang sekarang menjadi tempat wisata susur goa. 

Keduanya dulu merupakan tempat para algojo mengeksekusi tahanan terduga komunis.

Cerita tentang Luweng Grubug pernah dituturkan Romo Paul de Blot, seorang pastor dosen Universitas Gadjah Mada (UGM) waktu itu yang menyaksikan eksekusi di lubang maut itu.

Sementara Luweng Mloko di Johonut, Paranggupito, mungkin hanya diketahui oleh penduduk setempat yang sudah tua, seperti Pak Paimo, yang menyaksikan eksekusi di malam Jumat Pon. Sehari sebelumnya, ada perintah dari kepala desa untuk membuat jalan menuju menuju luweng, tetapi tidak dijelaskan untuk apa.

Malam harinya Paimo disuruh tentara berjaga di bukit yang lain pada tengah malam untuk mencegah para pedagang yang berjalan kaki menuju pasar agar tidak mendekat ke lokasi luweng. Tiga truk tentara datang, berhenti di pertigaan dekat bukit. Selang berapa waktu kemudian terdengar rentetan tembakan memecah malam.

Beberapa hari kemudian, bau bangkai menyebar. Semua penduduk dikerahkan untuk menutup luweng dengan dedaunan. Ada sesosok mayat bersarung yang tersangkut di bibir goa, Paimo dan warga mendorongnya dengan bambu agar jatuh ke dasar. Sampai berbulan-bulan, angin terus membawa bau bangkai ke desa-desa sekitarnya. —Rappler.com

BACA JUGA: