'Lain kali kalau liputan, haram hukumnya naik Lion Air'

Hari ini saya bangun pagi-pagi, lebih pagi dari suara adzan Subuh di masjid, dengan perasaan gembira. Saya akan berangkat ke Palembang, Sumatera Selatan, untuk melaporkan secara langsung keseruan kota tersebut menyambut Gerhana Matahari Total (GMT).

Saya memesan tiket Lion Air dengan nomor penerbangan JT-340 yang dijadwalkan terbang pada Selasa, 8 Maret, pukul 6:20 WIB.

Satu hari sebelumnya, Senin, 7 Maret, saya mendapatkan pesan singkat bahwa tiket saya di-upgrade ke Batik Air—maskapai full-service di bawah Lion Air Group—pada jam yang sama.

Saya tiba di terminal 1C pukul 5:10 WIB, masih cukup waktu karena batas untuk check in penerbangan domestik adalah 45 menit.

Saya langsung menyerahkan bukti booking tiket ke counter Batik Air. Pada saat itu, dimulailah drama penerbangan saya.

Saya menunggu tidak jelas selama kurang lebih 10-15 menit. Kata petugasnya, “Sebentar ya, Bu. Di cek dulu di dalam.”

Setelah menunggu, saya tidak juga diberikan boarding pass dan diminta ke meja customer service untuk mendengar penjelasan. Yes, the operator said, “Silakan ke customer service ya, Mbak, untuk penjelasannya.”

Saat itu sudah pukul 5:30. Saya mulai khawatir saya tidak akan naik pesawat pada jam yang seharusnya.

Saya berjalan menuju counter customer service dan langsung memberikan kartu identitas serta bukti booking. Saat itu saya kembali menunggu sekitar 15 menit tanpa kejelasan.

Petugas customer service Batik Air dan Lion Air. Foto oleh Sakinah Ummu Haniy/Rappler.com

Petugas customer service Batik Air dan Lion Air. Foto oleh Sakinah Ummu Haniy/Rappler.

com

Oh, mbak operator itu sempat bilang, “Ini dipindah ke jam 9:15 ya.” 

Iya, tanpa alasan apa-apa, Mbaknya langsung bilang kaya gitu.

Saya menuntut penjelasan, mengapa seenaknya memindahkan penumpang seperti itu.

Saat sedang menunggu petugas, ada dua orang lagi yang mengalami nasib sama seperti saya.

Mereka juga di-upgrade ke Batik Air. Dan mereka juga tidak bisa check-in.

Pukul 06:00, petugas Lion Air bernama Aries pun muncul, dia kemudian menjelaskan alasan mengapa kami tidak bisa naik ke pesawat meskipun kami datang tepat waktu.

Kurang lebih begini katanya:

“Karena kita ada change aircraft, perubahan pesawat dari lapangan, jadi kapasitasnya berkurang.”

Saya bilang, saya enggak minta di-upgrade ke Batik, saya cuma minta bisa terbang dengan jadwal yang sesuai dengan tiket yang saya beli.

Jawabannya? “Pesawat Lion-nya enggak terbang, Mbak.”

Lho, kok? Saya bingung. Bagaimana bisa jual tiket kalau pesawatnya memang tidak terbang?

Saya jadi speechless.

Tapi, ya sudah lah. Akhirnya saya pasrah dipindahkan ke penerbangan pukul 9:10 WIB, tanpa kompensasi apa-apa.

Seorang rekan kerja mengingatkan seraya berseloroh, "Lain kali kalau liputan, haram hukumnya naik Lion Air". Lesson learned. —Rappler.com

Sakinah Ummu Haniy adalah multimedia reporter untuk Rappler Indonesia. Selain hobi menulis, Haniy juga suka membaca buku, jalan-jalan, ngobrol, dan makanan enak. Simak kegiatannya lewat Twitter @hhaanniiyy.

BACA JUGA: