Bagaimana peran media sosial dalam mendukung pemenuhan pangan?

Berikut adalah data di Indonesia menurut International Telecomunication Union pada 2015: 

Data Susenas 2014 menunjukkan bahwa 82% dari 50 juta penduduk Indonesia yang mengakses internet menjadikan media sosial sebagai tujuan utama menggunakan internet. 

Tujuan kedua adalah mencari informasi/berita (73,5%), hiburan (45,1%), mengerjakan tugas sekolah (35,1%), mengirim dan menerima email (27,8%), perdagangan online (11,3%), e-banking (8,4%), dan lain-lain (3,9%).

Angka-angka di atas menunjukkan besarnya peran media sosial dalam proses komunikasi di antara penduduk Indonesia.

Di Filipina, Rappler mengembangkan komunitas dan promosi social media for social good melalui gerakan #MovePH. Di Indonesia, kegiatan membangun komunitas untuk tujuan baik dilakukan dengan payung “Ayo Indonesia”.  

Kegiatan ini bertujuan mengajak kaum muda, mereka yang menjadi pengguna aktif teknologi komunikasi, menjadi pengguna media sosial, untuk menginisiasi dan berbagi ide inovasi, ide solusi masalah global dan nasional, terutama terkait dengan SGDs, yang memberikan manfaat bagi manusia dan kemanusiaan.

Menggelar Social Good Summit adalah bagian dari kegiatan Ayo Indonesia pada September 2016.

Semangat Ayo Indonesia itu kami bawa ke Kampus Sekolah Bisnis Institut Pertanian Bogor, pada Sabtu, 22 Oktober 2016.  

Tema acara kali ini adalah “Feeding The Nation: Challenges & Solutions”. Pembicara kunci dalam acara ini adalah Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Akan berbicara juga Direktur Program Magister Manajemen dan Sekolah Bisnis IPB DR. Ir. Arief Daryanto.

Ekonomi digital, bagaimana dengan pangan?

Menurut Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) kebutuhan jagung untuk pakan ternak pada 2017 diprediksi naik sekitar 8,5 juta ton, lebih tinggi dibandingkan tahun ini yang sebesar 8 juta ton. Foto oleh Harviyan Perdana Putra/Antara

Menurut Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) kebutuhan jagung untuk pakan ternak pada 2017 diprediksi naik sekitar 8,5 juta ton, lebih tinggi dibandingkan tahun ini yang sebesar 8 juta ton.

Foto oleh Harviyan Perdana Putra/Antara

Awal minggu ini saya mengikuti sebuah seminar mengenai ekonomi digital di Indonesia. Ada data menarik dari Oxford Economics, berdasarkan riset pada Mei 2016 mengenai dampak mobile internet di Indonesia terhadap produk domestik bruto (GDP).

Dari setiap poin kenaikan persentase penetrasi mobile internet, akan menambah US$640 juta dolar ke GDP pada 2020. Dampaknya terhadap penciptaan lapangan pekerjaan? Dari setiap poin kenaikan penetrasi mobile internet, ada penambahan 10.700 lapangan pekerjaan formal.

Pertanian dan pangan adalah bagian dari ekonomi. Tak bisa dipungkiri lagi, kita sudah memasuki era ekonomi digital.

Dalam forum Ayo Indonesia di IPB, saya berharap diskusi di antara pemerintah dan komunitas IPB dapat membahas bagaimana era digital bisa membantu dan mempercepat pencapaian tujuan terkait sektor pertanian dan pangan. 

Bagaimana era digital dapat membantu pola komunikasi dan pemasaran produk pangan? Bagaimana era digital bisa membantu kesejahteraan pelaku di sektor ini, terutama petani? Bagaimana media digital seperti Rappler bisa menjadi bagian dari pencapaian tujuan di atas?

Sebuah studi yang dilakukan Biro Pertanian AS pada 2011 mencatat bahwa 98% petani dan pemilik/pengelola ranch dalam rentang usia 18-25 tahun memiliki akses ke internet. Sebanyak 76% di antara mereka menggunakannya untuk media sosial.  

Media sosial terbukti berperan penting di industri pertanian, baik secara business-to-business (B2B) dan business-to-consumer (B2C). Sebuah revolusi digital di agribisnis.

Kecenderungan penggunaan media sosial itu menginspirasi #AgChat, sebuah percakapan di media sosial yang dilakukan secara mingguan. Percakapan dilakukan antara petani, konsumen, regulator, ahli, dan menjadi rujukan untuk mendapatkan solusi. Komunikasi digital menembus ruang dan waktu. Meminimalisir hambatan dalam komunikasi dan pasar tradisional.

Silakan menengok AgChat di sini. Kita dapat melihat manfaat media sosial bagi pertanian, termasuk pangan.  Mulai dari media untuk pendidikan, jejaring untuk berdiskusi, awal terbentuknya ide pengembangan digital terkait pertanian termasuk aplikasi, sampai menghubungkan dengan konsumen.

Rappler pun menyediakan Rappler X, sebuah platform komunitas bagi mereka yang ingin menerbitkan tulisannya terkait dengan berbagai isu, termasuk isu terkait pertanian dan pangan.  Komunitas IPB dan kampus lain, siapa saja, dapat memanfaatkan platform ini. 

Editor Rappler, Abdul Qowi Bastian, akan menjelaskan mengenai Rappler X pada saat acara. Mengingat pembicara Rappler yang tersebar di tingkat regional dan internasional, besar peluang tulisan akan dibaca oleh mereka yang berada di luar Indonesia.

3 hal yang bisa dilakukan untuk petani di era digital

Petani mengolah tanah menggunakan traktor di persawahan Desa Undaan, Kudus, Jawa Tengah, pada 18 Oktober 2016. Foto oleh Yusuf Nugroho/Antara

Petani mengolah tanah menggunakan traktor di persawahan Desa Undaan, Kudus, Jawa Tengah, pada 18 Oktober 2016.

Foto oleh Yusuf Nugroho/Antara

Presiden Joko “Jokowi” Widodo memiliki harapan serupa ketika meluncurkan sejumlah aplikasi berbasis teknologi selular untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Menteri Informasi dan Komunikasi Rudiantara berharap keberadaan aplikasi tersebut mampu membantu meningkatkan kesejahteraan petani dan memangkas rantai distribusi hasil produksi dari petani ke konsumen.

"Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan oleh seluruh masyarakat dan pemerintah juga mendorong UMKM Indonesia untuk Go Digital," kata Rudiantara.

Saya bertanya kepada Bayu Krisnamurthi, yang pernah menjabat Wakil Menteri Pertanian dan Wakil Menteri Perdagangan. Dari pengalaman di pemerintah dan berhubungan dengan petani di lapangan, apa yang perlu dilakukan untuk mengurusi pangan di era digital?

Menurut Bayu, ada 3 aplikasi teknologi digital yang bisa diterapkan untuk membantu petani pangan di Indonesia:

Digital remote sensing. Pemantauan digital untuk memperkirakan produksi pangan nasional. Saat ini debat mengenai data produksi yang benar selalu terjadi. Pemanfaatan citra satelit digital dapat meningkatkan akurasi data sekaligus tingkat kepercayaan terhadap data itu.

Petani dapat memantau tanaman secara digital. Apabila petani melihat tanamannya bermasalah, terserang hama atau penyakit, petani dapat menggunakan telepon seluler untuk memotret kondisi tanaman dan mengirimkannya melalui aplikasi WhatsApp atau email ke ahli di IPB, sehingga ahli di IPB dapat memberikan solusi. Komunikasi dan penyuluhan bagi petani di era digital seharusnya menjadi lebih intensif. Semua pihak terkait harus mengubah pola pikir terkait penyuluhan.

Distruptive economy ubah model bisnis. Apa yang dilakukan oleh Uber, Go-Jek, AirBnB, dan semacamnya bisa diterapkan untuk pertanian dan pangan. Begitu juga penggunaan media sosial seperti Facebook, Twitter, Instragram, bahkan WhatsApp, dan LINE. Petani dapat memasarkan produknya secara langsung ke konsumen. Ada yang sudah menerapkan, misalnya penjual beras. 

Feeding the Nation, memberi makan warga bangsa dengan lebih dari 250 juta penduduk, pasti tidak mudah dan memerlukan upaya bersama semua pihak pemangku kepentingan. Kegiatan Ayo Indonesia dengan Sekolah Bisnis IPB adalah satu upaya memikirkan dan semoga menghasilkan upaya nyata.

Ikut terlibat mewujudkan tujuan baik melalui media sosial? Mengapa tidak?

Kami menunggu pertanyaan dan masukan dari pembaca terkait tema Ayo Indonesia kali ini. –Rappler.com

Artikel ini diterbitkan sebagai pengantar Ayo Indonesia di Sekolah Bisnis IPB pada 22 Oktober 2016. Terima kasih kepada SB IPB sebagai tuan rumah, juga untuk Kibif yang juga mendukung acara ini.