Peringatan Asyura di Semarang dibayangi ancaman

PERINGATAN ASYURA. Polisi mengamankan peringatan Asyura di Masjid Yayasan Nuruts Tsaqalain, Semarang, Jawa Tengah pada 11 Oktober 2016. Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

PERINGATAN ASYURA. Polisi mengamankan peringatan Asyura di Masjid Yayasan Nuruts Tsaqalain, Semarang, Jawa Tengah pada 11 Oktober 2016.

Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

SEMARANG, Indonesia - Jawahari berulang kali berjalan mondar-mandir di depan Masjid Yayasan Nuruts Tsaqalain, Jalan Boom Lama, Semarang, Jawa Tengah, Selasa 11 Oktober 2016. 

Ia merasa resah setelah mendengar kabar ada kelompok intoleran yang ingin membubarkan acara pengajian Asyura di masjid tersebut. 

Asyura adalah peringatan kematian Imam Husein, cucu Rasulullah, yang tewas di Padang Karbala. Acara ini digelar setiap 10 Muharram dan biasanya dilakukan pengikut syiah.

"Tapi saya tidak takut dengan ancamannya. Sebab, acara yang kita lakukan di sini sudah mendapat izin resmi dari Polrestabes Semarang maupun Polda Jateng," kata Jawahari kepada Rappler.

Di Masjid Yayasan Nuruts, Asyura diperingati dengan membaca Alquran sembari mendengarkan ceramah Ustadz Ahmad Barqabah. Selain itu diceritakan pula kisah sahabat Nabi Muhammad SAW.

Tak ada yang aneh dengan acara ini. Karena itu Jawahari merasa heran kenapa ada kelompok orang atau organisasi masa yang ingin membubarkan acara ini.

Menurut Jawahari, organisasi masa yang ingin membubarkan acara Asyura tak lepas dari sentimen negatif yang dihembuskan segelintir orang.

"Mereka kan memang dibiayai dari luar negeri untuk mengacaukan Islam di Indonesia. Semua orang tahu kok. Makanya, yang mau nyerbu kemari rata-rata dari orang luar kota Semarang," kata Jawahari.

Tak hanya itu, Jawahari juga mencium gelagat mencurigakan dari sekelompok orang yang ingin menjatuhkan Syiah. Sejak lama ia mendengar Syiah dituding menyimpang dari Islam.

"Padahal di tanah Arab itu Syiah menjadi salah satu kelompok yang diakui oleh negara. Lantas mengapa saat berkembang di Indonesia, malah ada orang yang ingin mengusik Syiah. Ini kan aneh," katanya.

Saat ini, menurutnya, Syiah tak hanya tumbuh dengan baik di Bumi Nusantara. Ajaran-ajarannya pun telah merambah dan diterima dengan baik di Thailand, negara dengan penduduk mayoritas beragama Budha.

Sempat menegang

Polisi mengamankan peringatan Asyura di Masjid Yayasan Nuruts Tsaqalain, Semarang, Jawa Tengah (11/10). Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

Polisi mengamankan peringatan Asyura di Masjid Yayasan Nuruts Tsaqalain, Semarang, Jawa Tengah (11/10).

Foto oleh Fariz Fardianto/Rappler

Pengurus Masjid Yayasan Nuruts Tsaqalain  Syeh Bagir mengatakan sebelum peringatan Asyura digelar, pihaknya telah melakukan audiensi di kantor Gubernur Jawa Tengah. Namun kelompok penolak Asyura tidak hadir.

"Ini acara tahunan dan selama 15 tahun terakhir tidak ada masalah sama sekali. Di tahun 2014 silam, pihak Kemenag dan Walikota Hendrar Prihadi sering datang untuk mengisi sambutan," ujar Syeh Bagir.

Ia mengatakan penolakan terhadap peringatan Asyura telah berlangsung sejak beberapa tahun terakhir. “Mereka diprovokasi dari pihak-pihak luar," kata Syeh Bagir.

Kelompok yang menolak peringatan Asura adalah Forum Umat Islam. Forum ini terdiri dari Laskar Umat Islam Surakarta (LUIS), Front Pembela Islam (FPI) Pekalongan, GPK Yogyakarta, dan ormas radikal lainnya.

Penolakan Forum ini membuat penyelenggara peringatan Asyura sempat kesulitan mencari tempat. Sebelumnya acara akan digelar di Gedung Pusat Kesenian Jawa Tengah (PKJT). Namun tak jadi karena ada penolakan.   

“Sampai saya putuskan dipindah saja di Masjid Nuruts Tsaqalain,” kata Syeh Bagir. Penyelenggaraan di Masjid Nuruts Tsaqalain pun bukan tanpa gangguan. 

Saat pengajian berlangsung, ratusan orang nyaris merangsek masuk ke kerumunan jemaah Syiah. "Kami tolak pengajian itu karena tidak sesuai dengan syahadat Islam," teriak salah seorang pria anggota ormas penolak acara Asyura.

Juru bicara Forum Umat Islam Semarang Muhammad Lutfi mengatakan pihaknya menolak ajaran Syiah karena ajaran itu sudah dilarang di Jawa Timur. Kehadiran aliran Syiah dianggap bisa memicu konflik. “Kami menolak keras acara Syiah di Semarang," katanya.

Polisi bertindak tegas

Kepala Kepolisian Kota Semarang Kombes Pol Abiyoso Seno Aji mengatakan pihaknya mengerahkan 786 personel untuk mengawal peringatan Asyura di Masjid Nuruts Tsaqalain. 

"Kami kerahkan ratusan personel agar acaranya berjalan lancar tanpa intervensi dari pihak luar," kata Kombes Pol Abiyoso Seno Aji.

Menurutnya keberadaan kaum Syiah dilindungi undang-undang, maka polisi wajib melindungi. "Kalau ada yang nekat dan berinisiasi membubarkan, maka berhadapan dengan kami," katanya. —Rappler.com