10 hal yang perlu kamu tahu tentang Kabareskrim Anang Iskandar

  

JAKARTA, Indonesia — Setelah menggantikan Komisaris Jenderal Budi Waseso sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri, Kamis, 3 September, mata publik tertuju pada sosok Komisaris Jenderal Anang Iskandar. 

Apa yang membuat Kepala Polisi RI (Kapolri) Jenderal Badrodin Haiti memilih mantan Kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) ini untuk menggantikan Budi?

Berikut rekam jejak Anang yang dirangkum Rappler dari berbagai sumber:  

Putra Jawa Timur. Anang Iskandar lahir di Mojokerto, Jawa Timur, pada 18 Mei 1958. Ia lahir dari pasangan Suyitno dan Raumah. 

Tukang cukur. Anang kecil belajar memotong rambut dari ayahnya yang berprofesi sebagai tukang cukur di Jalan Residen Pamudji, Mojokerto. Mencukur pun menjadi hobinya yang ia tekuni hingga menjalani pendidikan di akademi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (AKABRI). Bahkan sampai dia sekolah di Akademi Kepolisian pada 1980-an, ia sering diminta bantuan teman-teman dan seniornya untuk mencukur.  

Karir. Pada 1982, Anang ditempatkan sebagai Kepala Polisi untuk wilayah Polda Bali. Karirnya menanjak ketika ditetapkan sebagai Kapolsek wilayah Denpasar Selatan, kemudian Kapolsek untuk daerah Kuta, hingga dilantik sebagai salah satu pejabat kepolisian wilayah ibu kota, Kasat Serse Polres Tangerang.

Pada 2012, Anang menjabat sebagai Kepala Divis Humas Polri, sebelum menjadi Gubernur Akademi Kepolisian, dan terakhir menjadi Kepala BNN.

Calon Kapolri. Nama Anang Iskandar sempat melejit setelah disebut sebagai salah satu calon Kapolri menggantikan Jenderal Sutarman yang memasuki masa pensiun. Saat dicalonkan jadi Kapolri, Anang adalah orang pertama yang melaporkan harta kekayaannya ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Presiden Joko "Jokowi" Widodo namun menetapkan Komjen Budi Gunawan sebagai calon Kapolri, namun terganjal karena kasus korupsi. Badrodin Haiti kini menjabat sebagai Kapolri.

Setuju hukuman mati. Sebagai Kepala BNN, Anang pernah mengatakan kepada media bahwa penegakan hukuman mati yang konsisten perlu dilaksankan sehingga efek jera dapat dirasakan di masa mendatang.

Alasannya? Hukuman mati telah diatur dalam Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika. "Para terpidana hukuman mati tersebut telah diuji di pengadilan," kata Anang, April 2015.

Namun ia merekomendasikan rehabilitasi untuk pengguna, sedangkan hukuman mati hanya untuk bandar narkoba. 

Pernyataan kontroversi. Selain dikenal sebagai martir pemberantasan narkotika, Anang juga pernah mengeluarkan pernyataan bernada sumir tentang warga negara asing. Seperti dikutip dari kantor berita dunia AFP, Anang berujar, “Jangan sembarangan berhubungan dengan orang asing. Apalagi dipacari mereka diberi hadiah tiket pesawat, baru kenal lalu dipacari itu mudah sekali tergiur. Itu yang harus hati-hati,” katanya.

Hal tersebut diucapkannya pada Juni 2015, saat banyak warga Indonesia yang dijadikan kurir oleh warga negara asing untuk menyelundupkan narkoba.

Gemar menulis. Selain hobi mencukur rambut, Anang juga gemar menulis. Ia sempat rajin nge-blog soal hukum di blog pribadinya anangiskandar.wordpress.com. Namun post terakhirnya tertanggal 10 Februari 2015.

Peraih Jatim Award 2015. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Timur memberikan penghargaan Jatim Award 2015 dalam rangka Hari Pers Nasional pada Anang. Ia dianggap berhasil menangkap jaringan sabu internasional dengan barang bukti 800 kg. Penerima Jatim Award adalah tokoh yang dinilai mempunyai prestasi menonjol selama 2014 lalu.

Selain berprestasi dalam memberantas narkoba, Anang punya kaitan erat dengan Jatim. Ia sebelumnya pernah menjabat sebagai Kapolwiltabes Surabaya.

Dekat dengan PDI-Perjuangan. Saat partai pengusung Presiden Jokowi menggelar peringatan Hari Ibu di kantor Dewan Pertimbangan Pusat (DPP) PDI-Perjuangan di Lenteng Agung, Anang hadir.  Anang bahkan menjadi salah satu pembicara di acara tersebut. Kehadirannya tersebut mengundang kontroversi, karena bersamaan dengan memanasnya bursa calon Kapolri. 

Daftar penghargaan. Beberapa penghargaan dari Polri diperoleh oleh Anang di antaranya adalah Satya Lencana. Penghargaan lain yang diperolehnya adalah penghargaan dari Gubernur AKABRI Umum dan Darat sebagai peserta terbaik 3 Chandradimuka 1978. Ia juga pernah meraih penghargaan dari Gubernur Bank Indonesia, atas prestasi mengungkap peredaran uang palsu.—Rappler.com

BACA JUGA: