Rodrigo Duterte unggul sementara dalam hitung cepat pemilu Filipina

JAKARTA, Indonesia - Wali Kota Davao, Rodrigo Duterte memimpin perolehan suara sementara dalam pemilihan umum di Filipina. Berdasarkan hasil hitung cepat yang Rappler lakukan, pria berusia 71 tahun itu meraih 14.951.034 suara.

Angka tersebut diperoleh berdasarkan 88,57 persen sampel suara yang sudah masuk pada pukul 05:39 waktu Manila. Sementara, selisih perolehan suara kandidat lainnya tergolong cukup jauh. Di posisi kedua terdapat kandidat yang didukung oleh Presiden petahanan, Benigno Aquino III yakni Manuel Roxas II dengan perolehan suara 8.982.664.

Kandidat yang sempat diunggulkan setelah Duterte, Mary Grace Natividad Poe-Illamanzares berada di posisi ketiga dengan suara sementara sebesar 8.398.864.

Lalu, apa komentar dari Duterte mengenai hasil hitung cepat yang mengunggulkan dirinya? Kepada Rappler yang mewawancarainya pada Senin malam, 9 Mei pukul 19:45, Duterte masih belum yakin dirinya akan memenangkan pemilu di Filipina.

"Hingga suara terakhir belum dihitung, maka saya belum bisa mengatakan saya telah ada di titik itu (menang). Hasil akhir pemilu Presiden belum ada di tangan saya, sehingga saya hanya bisa diam sementara ini," ujar Duterte.

[Pantau terus hasil hitung cepat pemilu Filipina di sini]

Sementara, hasil penghitungan resmi baru akan dikeluarkan oleh Komisi Pemilihan Umum Filipina (COMELEC) pada tanggal 8 Juni.

Jika Duterte benar-benar memenangkan pemilu, maka hal tersebut sudah bisa diduga sebelumnya. Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Standard Poll, dia berhasil memperoleh 32,4 persen suara warga.

Duterte difavoritkan karena berhasil mengubah kota Davao yang memiliki catatan kejahatan tertinggi di negara kepulauan itu menjadi kota teraman di Filipina. Kendati demikian, kelompok pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) menuding Duterte kerap melakukan pelanggaran HAM ketika menangkap pelaku tindak kriminal.

Sementara, anggota parlemen Grace Poe telah mengakui keunggulan Duterte dan mengatakan dia ingin mengajukan sebuah "sebuah agenda pemilu". Duterte mengaku memang sudah ditelepon oleh Poe ketika tengah makan malam.

Terhadap "agenda pemilu" yang diajukan oleh Poe, Duterte mengatakan akan mempelajarinya lebih dulu.

"Karena Anda memilih menjabat tangan saya, maka saya menerimanya dengan rendah hati. Saya dapat bekerja dengan Anda. Salah satu agenda yang Anda ajukan adalah reformasi pemilu, maka saya akan mendukungnya," ujar Duterte ketika diwawancarai oleh stasiun televisi ABS-CBN.

Sementara, dalam pemilihan Wakil Presiden, kandidat dari Partai Liberal, Maria Leonor Robredo, menempati posisi pertama dalam hasil hitung cepat. Dia berhasil meraih 13.076.453 suara.

Robredo bersaing ketat dengan politisi dan putra mantan Presiden Ferdinand E. Marcos yakni Ferdinand Romualdez Marcos Jr. Pria yang akrab disapa Bongbong Marcos itu meraih 13.013.544 suara.

Sesuai dengan sistem pemilu di Filipina, calon Wakil Presiden yang maju dalam pesta demokrasi ini tidak selalu berpasangan dengan calon Presiden. Sehingga, pemilihan Wakil Presiden melalui sistem penghitungan tersendiri.

Arti pemilu Filipina untuk Indonesia

PULAU SPRATLY. Salah satu pulau yang kini tengah menjadi sengketa di Laut China Selatan antara Filipina dengan Tiongkok.

PULAU SPRATLY. Salah satu pulau yang kini tengah menjadi sengketa di Laut China Selatan antara Filipina dengan Tiongkok.

Menurut pengamat hubungan internasional dari Pusat Studi ASEAN Universitas Indonesia, Makmur Keliat, pemilihan umum di Filipina bisa ikut menentukan stabilitas di kawasan Asia Tenggara. Siapa yang akan menjadi Presiden Filipina selama 6 tahun ke depan, kata dia, akan menentukan pendekatan yang digunakan menghadapi Tiongkok dalam menyelesaikan konflik di Laut China Selatan.

[Baca fokus isu yang akan ditangani Rodrigo Duterte seandainya terpilih menjadi Presiden di sini]

"Jika memang benar Duterte yang nanti memenangkan pemilu, maka dia memiliki platform untuk meningkatkan hubungan dengan Tiongkok. Akan ada kemungkinan deeskalasi ketegangan dengan Tiongkok," ujar Makmur yang dihubungi Rappler melalui telepon pada Senin malam, 9 Mei.

Makmur berpendapat selama ini, Duterte tidak mengambil sikap bermusuhan dengan Negeri Tirai Bambu. Bahkan, bersedia melakukan rekonsiliasi.

"Ini merupakan perkembangan baik demi stabilitas regional. Tetapi, hal tersebut tidak akan menyelesaikan fakta bahwa Filipina telah mengajukan isu sengketa di LCS ke Mahkamah Internasional di Den Haag," tutur Makmur.

Memang sulit untuk memperbaiki hubungan dengan Tiongkok. Mengingat warisan kepemimpinan dari Aquino III selama 6 tahun sudah secara jelas mencerminkan sikap bersebrangan.

"Tetapi, Filipina akan lebih realistis dengan membangun hubungan berbasis ekonomi dengan Tiongkok," kata dia.

Lalu, apakah Duterte bisa menjadi harapan penyelesaian konflik di Filipina selatan? Makmur pun memiliki penilaian yang sama. Duterte memiliki pengalaman cukup lama memerintah sebagai Wali Kota Davao, sehingga bisa mewakili kepentingan publik di area tersebut.

"Sementara, kalau terkait dengan menurunkan aksi pembajakan di perairan Filipina selatan, itu kan tinggal menunggu pelaksanaan kesepakatan di Yogyakarta kemarin," kata dia.

Makmur menilai Duterte bisa memberikan identitas baru di Filipina, terlebih oligarki di negara kepulauan tersebut sangat kuat.

"Jika dia yang terpilih sebagai Presiden, ASEAN juga akan menghormati hal itu. Sebab, nilai-nilai ASEAN yang selama ini dipegang kan selalu menghormati proses politik di negara anggotanya," tutur Makmur. - dengan laporan Santi Dewi/Rappler.com

BACA JUGA: