Ryamizard: Pemerintah tidak benci komunisme tapi mewaspadai kebangkitan PKI

 

JAKARTA, Indonesia—Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan bahwa pihaknya tidak membenci komunisme tapi melarang ideologi tersebut berkembang di Indonesia.

“Kami tidak benci komunisme. Tapi mereka (orang komunis) pernah memberontak jadi kami perlu waspada,” katanya saat menjawab pertanyaan seorang wartawan Australia di sebuah acara yang diselenggarakan oleh Jakarta Foreign Correspondents Club pada Jumat, 17 Juni lalu.  

Pernyataan Ryamizard ini disampaikan untuk menjawab pertanyaan tentang sikap pemerintah terhadap dua kelompok yang berkembang di Indonesia, yakni sayap kiri dan kanan. Mengapa pemerintah khawatir pada komunisme, bagaimana dengan ekstrimisme kelompok sayap kanan, seperti Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang berkembang di Indonesia? 

Menurut Ryamizard, negara mewaspadai baik gerakan ekstrimisme sayap kanan maupun sayap kiri. Tapi secara khusus untuk komunisme yang dianggap sebagai gerakan sayap kiri, Ryamizard mengatakan pemerintah melihat indikasi maraknya tanda-tanda kebangkitan kelompok ini. 

Menuai kritik

Maraknya isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia beberapa bulan belakangan tak lepas dari penemuan dan penahanan sejumlah pihak yang diduga menyebarkan atribut palu ari—lambang Partai Komunis indonesia—serta komentar dari beberapa pejabat tinggi negara. Salah satunya adalah Ryamizard sendiri. 

Konsistensi pernyataan Ryamizard tentang komunisme dan PKI ini bisa ditelisik di beberapa pemberitaan di media. Pada pertengahan Mei lalu, kepada media ia dengan tegas mengatakan bahwa berbagai hal yang berbau komunis dilarang. 

Ryamizard melandaskan hal ini pada Tap MPR dan UU nomor 27 tahun 1999 tentang keamanan negara.

"Jadi apapun yang berbau komunis ada hukumnya. Dilarang," kata Ryamizard di kantornya. 

Apa saja yang berbau komunis? Seluruh buku yang berbau komunis, barang-barang yang berbau komunis hingga informasi komunisme di internet, seluruhnya dilarang. Termasuk logo palu arit. 

Ryamizard juga menegaskan karena pelarangan itu berdasarkan undang-undang, tidak berlebihan kalau aparat melakukan razia. 

"Aparat sudah tahu yang harus dilakukan, rakyat juga harus tahu dilakukan. Jangan macam-macam begitu," ujarnya. 

Namun sepekan kemudian, Ryamizard menuai kritik netizen setelah ia diberitakan oleh kantor berita Xinhua pada 27 Mei karena menandatangani kerjasama dengan Menteri Pertahanan Tiongkok Chang Wanguan di bidang militer. 

“Yuhu, anti palu arit, mana?” kata salah seorang netizen bernama Ade Nu.  

Sebelumnya, dalam wawancara khusus dengan BBC Indonesia, Ryamizard juga menekankan pentingnya hubungan dengan Republik Rakyat Tiongkok, meski negara ini menganut aliran komunisme. 

”Masalah (kapal Tiongkok) mencuri-curi ikan, itu kan masalah kecil. Masak masalah negara? Hubungan negara sudah baik. (Ada yang) Mencuri ikan? Ya silakan tangkap saja. Kapalnya dihancurin, dihancurin aja. Tapi hubungan antarnegara tak boleh rusak," ujar Ryamizard saat itu.

Demi bela negara

BELA NEGARA. Sejumlah tentara nasional Indonesia berparade di Aceh, 27 Oktober 2010. Foto dari HOTLI SIMANJUNTAK/EPA

BELA NEGARA. Sejumlah tentara nasional Indonesia berparade di Aceh, 27 Oktober 2010.

Foto dari HOTLI SIMANJUNTAK/EPA

Untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paham komunisme ini, Ryamizard mengatakan tentara perlu waspada. Menurutnya ini demi rakyat dan bangsa. 

Intelijen pun digerakkan untuk mendeteksi ancaman. Dan menurutnya, salah satu ancaman yang paling nyata adalah kebangkitan PKI dan terorisme. 

Ia mengatakan bahwa program ini penting untuk membangkitkan rasa nasionalisme dan mendukung pemerintah untuk mewaspadai ancaman ideologi radikal dari sayap kiri dan kanan. —Rappler.com

BACA JUGA: